
"Maafkan aku, Helli."
Helli menoleh cepat, pria itu menatapnya dengan tatapan teduh, tersirat rasa penyesalan yang mendalam. Ini bukan hanya sekedar kata maaf hanya untuk menunjukkan Gavin pria terhormat. Tapi pria itu melakukannya karena memang menyadari kesalahannya. Helli bisa merasakannya, bisa melihat ke dalam manik pria itu.
"Aku kasar, tindakan dan ucapanku. Aku minta maaf, Helli. Aku keterlaluan, tidak seharusnya aku berkata dan bertindak seperti tadi malam."
"Aku juga keterlaluan, maafkan aku juga." Keduanya kompak melemparkan senyum indah satu sama lain.
"Cicipilah, aku membuatnya sambil memikirkanmu."
Tahukah Gavin bahwa ucapannya itu sangat berbahaya pada wanita yang sedang jatuh cinta.
Helli pun mulai menyendokkan makanan ke dalam mulutnya. Seperti biasa, enak, meski kelebihan garam. Entah itu kurang garam atau keasinan, Helli tetap menikmatinya sampai tandas karena yang membuatnya adalah Gavin. Pria yang ia taksir.
"Kau ingin berkencan kemana bersama Mona?"
__ADS_1
"Hais, apa kau meledekku? Belum ada kencan. Aku menemaninya untuk memilih gaun pengantin. Ck! Ini menyebalkan."
"Pilihlah sepenuh hati. Pada akhirnya, kau akan bersanding dengannya. Percaya padaku."
"Oh, Helli, kata-katamu selalu mampu membuatku terhibur. Jika kelak aku memang berjodoh dengan Mona, undangan pertama akan kuberikan padamu. Aku berjanji."
Jika pada semestinya, sebuah janji harus ditepati, kali ini, Helli tidak ingin Gavin menepati janji tersebut. Menerima undangan pernikahan pria yang kau cintai, sama saja menabur garam di atas luka yang masih bertunas. Lukanya akan semakin menganga. Kehancuran oleh kepingan hati tersebut akan semakin babak belur. Ingin mendoakan hidup bahagia, Helli tidak sebesar hati itu.
"Kau harus hadir dan jika perlu kau harus menjadi salah satu bridesmaid karena kau tidak bisa menjadi groomsmen-ku di hari itu."
"Aku penasaran saat melihatmu mengenakan tuxedo. Pasti sangat memukau. Jalankan mobilnya, aku bisa terlambat."
Gavin tergelak, pun ia menyalakan mesin mobil dan mulai melajukannya.
"Aku selalu terlihat memukau. Sebelum Mona melihatku, aku berjanji akan membiarkanmu melihatku terlebih dahulu. Astaga, apa yang sedang kita bicarakan ini. Mona belum berhasil kudapatkan tapi kita sudah bermimpi."
__ADS_1
Helli tertawa hambar, "Mimpi dulu baru jadi kenyataan. Tapi ada baiknya tidak menjanjikan sesuatu yang manis untukku, Gavin."
"Itu bukan suatu janji manis yang semu. Kau harus melihatku sebelum Mona melihatku. Astaga, aku tidak sabar mendengar dan melihat reaksimu. Nanti akan kukenalkan pria baik, kaya, dan berpengaruh padamu. Seperti Darren Willson, Jayvyn Omarion, Addrian... ah kau sudah mengenal mereka semua. Katakan pria seperti apa yang kau inginkan, Helli. Aku akan mencarinya untukmu. Mereka akan membahagiakanmu."
"Pria seperti Vasquez." Jawab Helli setengah bercanda. Hatinya terlalu sensitif, dan matanya mulai perih. Bagaimana ia bisa membuka hati pada pria lain, sedangkan yang Helli inginkan hanya Gavin.
"Hais, para pria Vasquez sudah sold out, Helli."
"Hmm, aku mendengar dia memiliki seorang putra. Haruskah aku mencari dan menunggunya? Pria itu terlalu misterius."
Gavin terbatuk, untuk apa Helli mencarinya. Vasquez junior ada di sampingnya dan baru saja membuatkan bekal untuknya.
"Tidak usah menunggunya. Dari yang kudengar dia pria brengsek yang menggelikan. Kau berhak mendapat pria terbaik."
Aku tidak ingin pria terbaik. Aku ingin dirimu.
__ADS_1