My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Ada Apa Dengannya?


__ADS_3

"Jadi Helli tidak ada saat kau datang?" Gavin bertanya kepada Lordes yang sedang membersihkan halaman rumah.


"Tidak. Mungkin Helli masih tidur."


Gavin tidak yakin tentang hal itu. Meski bukan gadis yang terbiasa bangun pagi, Helli juga bukan gadis pemalas yang akan bangun menjelang siang. Hari sudah menunjukkan jam 09.15, tidak mungkin Helli belum bangun.


Meski demikian, ia tetap pergi menuju kamar gadis itu untuk memastikan. Sampai di kamar Helli, tidak ada yang ia temukan selain kekecewaan.


Gavin duduk di atas ranjang, merimangi kembali apa saja yang sudah ia ucapkan kepada Helli kemarin sore. Barang belanjaan gadis itu terletak begitu saja. Belum sempat dibuka sama sekali. Tudingan kasarnya mungkin membuat Helli enggan membongkar belanjaan tersebut. Dugaan itu mengusik pikiran Gavin membuat pria itu semakin bersalah.


"Apa yang sudah kulakukan?" Ia bergumam lirih.


Gavin tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Ia harus meminta maaf dengan segera. Tapi, kemana ia harus mencari Helli. Menghubungi ponsel wanita itu percuma saja. Helli tidak akan menjawab.


Addrian, satu-satunya sumber informannya yang akurat. Pun ia dengan segera mengeluarkan ponsel dan menekan nomor temannya itu.


Tidak perlu menunggu lama, panggilannya langsung dijawab.


"Aku sedang sibuk, aku..."


"Helli bersamamu?" Gavin menyela dengan cepat.


"Helli? Syuting sudah selesai, kami belum pernah bertemu setelah itu. Bulan depan adalah jadwal pertemuan kami. Ya, walau sebenarnya aku sangat ingin bertemu dengannya. Aku hanya sedang mencari-cari alasan untuk menemuinya secepatnya. Apa sebaiknya aku menawarkan projek lain, Dude?"


Gavin mendengus, kenapa akhir-akhir ini orang di sekitarnya semakin ahli berkata-kata. Kata-kata yang sialnya selalu berhasil memancing amarahnya.


Addrian bukan tipe pria yang pandai berkata-kata. Berbicara singkat, padat dan jelas adalah ciri khas pria itu. Dan jika Gavin tidak salah menghitung, Addrian baru melontarkan kalimat panjang lebih dari 20 kata. Apa Gavin kurang pekerjaan?


"Semoga harimu menyenangkan," Gavin memutuskan sambungan telepon. "Apakah si keparat itu tertarik kepada Helli?" Gavin berdiri, tangannya berusaha membuka kancing kemejanya yang sialnya sudah terbuka. Lalu, kenapa ia merasa panas?


Ia menyugar rambutnya, uring-uringan sendiri. Gavin berjalan menuju jendela kamar, membuka lebar jendela tersebut membiarkan udara masuk sebanyak-banyaknya. Hembusan angin tersebut pun ternyata tidak lantas membuat hatinya adem. Tangannya masih saja bekerja, mengibas malas di depan wajahnya. Gerakan itu berhenti saat sebuah mobil memasuki pekarangan rumah. Mobil yang jelas ia ketahui siapa pemiliknya.


Gavin terus memperhatikan dengan intens, menahan diri agar tidak turun ke bawah untuk menyambut. Karena jika ia turun ke sana, ia yakin bukan sambutan yang akan ia berikan melainkan bogeman.


Rusell turun dari mobil. Pria itu mengitari mobil untuk membuka pintu penumpang. Melihat perhatian dan sikap manis Rusel membuat Gavin kembali meradang.


Gavin menegakkan tubuh, lehernya sudah tegang dan panas begitu Rusell memasukkan setengah badannya ke dalam mobil.


Haruskah Rusell membantu Helli membuka sabuk pengaman segala?

__ADS_1


Gavin yang tidak pernah melakukan hal seperti itu merasa kalah saing.


Namun, kemarahan itu sirna seketika, berubah menjadi sorot khawatir saat Rusell mengangkat Helli dalam gendongannya. Apa yang terjadi?


Gavin segera berlari, menuruni dua anak tangga sekaligus dan ia sudah sampai di depan pintu bertepatan dengan Rusell dan Helli yang sudah ada di teras rumah.


"Apa yang terjadi dengan Helli?" Ia langsung mengulurkan tangan untuk mengambil alih Helli dari gendongan Rusell. Mengabaikan sorot bingung pria itu juga kekagetan yang ditunjukkan Helli.


"Kenapa kau ada di sini?" Rusell justru bertanya, mengabaikan pertanyaan Gavin. Rusell menjauh, sedikit memiringkan tubuh, menolak memberikan Helli kepada Gavin.


Gavin menggeram, ia melirik Helli yang ternyata memilih mengalihkan pandangan darinya. Gadis itu memiringkan kepala menghadap dadaa Rusell.


Apa dia sangat menyukai aroma pria itu?


"Berikan Helli kepadaku?"


"Kau belum menjawab pertanyaanku."


"Aku tidak melarang saat kau bertanya, dan kau tidak bisa memaksaku saat aku tidak ingin menjawab," jawab Gavin dengan sinis. Ia menunjukkan permusuhan terhadap Rusell secara terang-terangan dan sepertinya pria itu juga melakukan hal yang sama mengingat Rusell tidak bersedia memberikan Helli kepadanya seolah dia adalah ancaman.


"Dan kau tidak bisa meminta Helli saat dia sedang bersamaku dan dalam gendonganku."


"Tunjukkan saja di mana kamarnya. Aku akan mengantar Helli ke kamarnya?"


"Apa yang terjadi dengannya? Kenapa kau harus menggendongnya seperti anak kecil."


"Apa kau tidak pernah melihat seorang suami menggendong istrinya? Seorang kekasih menggendong wanitanya dan seorang teman..."


"Jelas kau bukan suami atau pun kekasihnya. Jadi, kenapa kau lancang sekali!"


"Kalimatku belum selesai, kau sudah menyela."


Gavin meneguk salivanya bersama dengan satu umpatan kasar yang sudah berada di kerongkongan. Bisikan setan juga terdengar semangat merayu, membujuk dan menghasutnya agar Gavin meraup leher pria itu lalu menghajarnya.


Untung saja Gavin tahu jika sudah tugasnya setan untuk menyesatkan. Gavin tidak terbujuk karena jika dia melakukan hal itu, Helli pasti akan terjatuh.


Dan jika Helli terjatuh, gadis ini akan semakin marah kepadaku.


"Kurasa pertanyaanku bukanlah sesuatu yang sulit. Tidak membutuhkan rumus fisika, kimia dan matematika. Ada apa dengan Helli?"

__ADS_1


"Kau memilki hak bertanya dan aku memiliki hak untuk diam, tidak menjawab. Bukankah itu yang kau katakan tadi?"


Rusell sebenarnya malu dengan sikapnya yang terlihat seperti bocah. Tingkah songong dan sikap tidak ramah Gavin lah yang mendorongnya bersikap begini.


"Kau bukan tamu yang baik kalau begitu, Mr. Jekinson. Terima kasih sudah mengantar tunanganku." Gavin sengaja menekan kalimatnya di akhir yang menyatakan kepemilikan atas diri Helli. Gavin juga tidak meminta lagi agar Rusell menyerahkan Helli kepadanya tetapi dia langsung mengambil alih gadis itu dari gendongan Rusell.


Helli menggeleng, tangan mungil nan mulus gadis itu justru mencengkram erat jas Rusell, membuat kedua pria itu kompak menatapnya.


"Apakah kau ingin mempublikasikan pertengkaran kita di depan publik, kelinci betinaku." Gavin menyunggingkan senyum kaku.


"Aku bukan kelinci betina."


"Ya, kau rubah cantik yang sangat menggemaskan. Kucing manisku, dengarkan aku, lepaskan tanganmu dari jas pria itu. Jadilah tunangan yang penurut, rusaku yang lincah."


"Apa dia terlihat seperti hewan di matamu?" Sarkas Rusell dengan sengit. "Rubah, kucing, kelinci, rusa, fantasiku tidak bisa membayangkan seperti apa perbaduan dari keempat hewan tersebut."


Gavin baru saja hendak menjawab ucapan Rusell, pria itu sudah mengalihkan tatapan kepada Helli.


"Istirahatlah sebanyak yang kau inginkan. Aku akan menghubungimu nanti. Kau mencengkram jasku terlalu kuat, aku khawatir kukumu bisa patah."


Bolehkan Gavin merobek mulut Rusell yang ternyata sangat piawai melontarkan kalimat rayuan yang justru terdengar seperti bujukan yang sangat manis.


Dengan patuh Helli melepaskan tangannya dari jas pria itu. Gavin langsung menjauh dari Rusell begitu Helli berada di dalam gendongannya sepenuhnya.


Rusell mengeluarkan sesuatu dari kantongnya.


"Minum obatmu secara teratur dan ingat apa yang dikatakan dokter."


Setelah Rusell memberikan obat, Gavin baru menyadari jika wajah tunangan palsunya itu sangat pucat.


"Terima kasih, Rusell. Berhati-hatilah saat mengendarai."


"Ya. Aku pergi."


Gavin membawa Helli masuk ke rumah setelah Rusell pergi. Keduanya hanya diam. Gavin menatapnya lekat dan intens, sementara Helli hanya menundukkan kepala.


"Apa yang sakit?" Gavin bertanya setelah ia merebahkan Helli di atas ranjang.


"Tolong tutup pintunya saat kau keluar." Helli memiringkan tubuh memunggungi Gavin, memejamkan mata berpura-pura tidur.

__ADS_1


__ADS_2