
Di ruangannya, Gavin mengambil ponsel, mencoba menghubungi seseorang guna mengalihkan fokusnya dari tunangan brengsek sang sahabat.
Panggilannya kembali diabaikan Helli. Mungkin wanita itu sedang sibuk syuting.
•Hubungi aku jika kau sudah selesai bekerja.
Seperti yang sudah ia perkirakan, tidak ada balasan hingga bahkan tiga puluh menit berlalu. Gavin segera beranjak dari kursinya, keluar dari ruangan, langsung menuju mobilnya. Ia harus bertemu dengan Mona. Memberi peringatan kepada wanita itu.
Dua puluh menit perjalanan, akhirnya ia sampai di rumah wanita itu. Dari kejauhan ia melihat Mona dan Rusel sedang bersama. Keduanya sedang berciuman. Gavin tergelak melihat betapa tingginya kadar kebrengsekan pria itu.
Ia memutar mobilnya, memilih meninggalkan tempat tersebut. Ia terus melajukan mobilnya tidak tentu arah. Hingga akhirnya ia berhenti di lokasi syuting. Gavin segera turun, memendarkan pandangannya mencari sosok Helli di tengah keramaian tersebut.
"Jika kau datang mencari tunanganmu, dia sudah pulang beberapa menit yang lalu. Apa tunanganmu menderita semacam serangan panik? Ia tiba-tiba histeris dan pingsan saat Calvin memberi arahan kepadanya."
Gavin mencoba menyerap semua yang dikatakan Addrian. Tidak salah lagi jika Calvin adalah salah satu sumber masalah wanita itu. Tapi apa yang terjadi sebenarnya?
"Sepertinya kau perlu mencari aktris pengganti lainnya. Aku akan membayar ganti rugi. Kecuali kau mau menyingkirkan Calvin agar tidak terlibat dalam film ini."
Addrian tertegun kemudian tergelak, "Kukira kau cuma main-main dengannya. Dengar, Dude, cuma Calvin yang bersedia menyutradarai film yang memakai Helli sebagai tokoh utama wanita. Yang lain beranggapan, jika film ini akan berkahir kacau dan gagal karena aktrisnya penuh dengan skandal."
"Lalu kenapa kau nekat memakai Helli dalam flim yang kau garap?"
"Aku lihat dia berpotensi."
"Aku tidak mengerti jalan pikiranmu." Gavin menepuk pundak Addrian dan segera berbalik masuk ke dalam mobilnya. Ia menurunkan kaca mobil dan melongokkan kepala ke luar.
"Pikirkan yang kukatakan tadi. Jika menurutmu Helli bisa membawa keuntungan padamu, singkirkan pria licin itu," pun ia mengemudikan mobil menuju apartemen tunangan palsunya.
"A-apa yang kau lakukan di sini?" Helli menatap nyalang pria yang berdiri di hadapannya itu. Ia tidak menduga jika Calvin mengikutinya hingga ke apartemen.
"Sayang, kau tampak sangat pucat sekali. Kau baik-baik saja?" Calvin mengulurkan tangan hendak menyentuh pipi Helli yang memang sudah pucat pasi.
__ADS_1
"Ja-jangan menyentuhku!" Helli mundur beberapa langkah, ia menolehkan kepala ke kiri dan ke kanan, khawatir jika ada pers yang juga mengikutinya. Bisa-bisa berita tentang hubungan Helli dan Calvin kembali mencuat ke media.
"Oh, Lily, ada apa denganmu? Bukankah dulu kau sangat senang saat kusentuh?"
"Tutup mulutmu!"
"Bagaimana kabar ibumu? Kudengar dia bersembunyi dari kejaran para penagih hutang. Berbagi ceritalah denganku. Aku akan membereskan masalahmu seperti dulu. Aku merindukan pijatanmu, Sayang."
"Se-sebaiknya kau pergi, Calvin!" Helli mengumpat dalam hati karena menyadari dirinya tidak bisa menyembunyikan ketakutannya sama sekali.
"Ah, ya, aku senang caramu memanggil namaku. Kita bisa kembali bersenang-senang. Aku masih menyimpan semuanya, Lily. Menyimpan semua tentangmu. Aku melihatnya setiap aku merindukanmu."
Calvin dengan tatapan liarnya menyapu setiap jengkal tubuh Helli. Helli merasakan lututnya kehilangan tenaga. Ia merasa takut sekaligus jijik.
Jangan tunjukkan kelemahanmu, Helli. Jadilah berani. Kata-kata Gavin seolah menggema di telinganya. Ah, disaat seperti ini ia berharap pria itu datang menyelamatkannya.
"Apa kau pikir bisa mengancamku lagi, Calvin?"
"Ah, jadi kau tidak takut dengan apa yang akan kutunjukkan pada dunia, Lily? Sungguh?" Calvin menyeringai iblis.
Helli terdiam. Ia peduli. Ia tidak bisa membiarkan pria itu menyebarkan apa yang menjadi kenangan terburuk dalam hidupnya. Itu mengerikan, memalukan dan menjijikkan.
"Kembali lah kepadaku seperti dulu. Bukankah kau sangat senang saat aku memperhatikan dan menyayangimu. Mari mengulanginya masa itu, Lily."
Kenangan itu kembali dipertontonkan kepadanya. Kenangan yang berusaha ia kubur dalam-dalam. Nyatanya, kenangan itu tidak akan bisa menghilang begitu saja. Ia dan kenangan itu akan seperti bayangan akan selalu mengikuti.
"Kau baru selesai mandi?"
Suara seseorang membuat Helli tersentak kaget. Pun ia tersenyum setelah melihat Calvin lah sosok pria yang datang.
"Ya," Helli duduk di depan cermin, mencoba mengeringkan rambutnya.
__ADS_1
"Biar aku saja," Calvin mengambil alih handuk tersebut dan mulai mengeringkan rambut Helli. Selesai mengeringkan rambut Helli, pria itu mengusap lembut kepala Helli lalu menundukkan kepala untuk mendaratkan satu kecupan hangat di pucuk kepala Helli.
"Aku akan membuat makan malam untukmu, salad?" diusapnya punggung gadis itu dengan jemarinya.
"Ya. Aku ingin sepotong roti, bolehkan aku memakannya?"
"Tentu saja. Kita akan merahasiakannya dari ibumu," ia menarik Helli agar berdiri dari kursinya dan merangkul pundak gadis itu, membimbingnya berjalan menuju dapur.
"Helli,"
Suara Gavin mengembalikan Helli ke masa kini. Ia mendongak, seketika kelegaan menghinggapinya begitu matanya beradu dengan manik gavin.
Entah mendapat kekuatan dari mana, ia berlari dan melompat ke dalam pelukan pria itu.
Gavin secara refleks mendekap Helli dengan kuat. Tatapannya menghunus, menatap tajam ke arah Calvin yang jelas-jelas menunjukkan aura permusuhan kepadanya.
"Aku senang kau di sini?" lirih Helli dengan suara bergetar.
"Ya, aku di sini. Tenanglah. Tidak akan ada yang melukaimu." Helli menganggukkan kepala di ceruk leher pria itu.
"Ayo, kemas barang-barangmu dan tinggallah bersamaku."
Helli mengurai pelukan mereka untuk bisa melihat wajah Gavin. Ia memicingkan mata, bertanya tanpa mengeluarkan kata. Apa maksud ajakan bernada perintah itu?
"Kita akan tinggal bersama. Itulah yang dilakukan sepasang kekasih." Gavin mengusap rambut panjangnya dengan lembut. Tatapan pria itu juga teduh menyejukkan.
"Masuklah dan kemas barang-barangmu." Gavin menuntun Helli masuk ke dalam rumah. Saat melewati Calvin, ia sengaja menghentikan langkahnya di hadapan pria tersebut.
"Apakah waktumu sangat senggang, Calvin? Kau seperti penguntit yang mengikuti tunanganku. Pergilah sebelum aku tidak bisa melihat telingaku lagi."
Calvin mendengus sinis seraya angkat kaki. "Memangnya siapa yang bisa melihat telinganya sendiri," gerutu pria tua tidak tahu malu itu.
__ADS_1