My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Kissing


__ADS_3

"Apa Helli membatasimu?" Mona kembali menanyakan hal serupa ketika tidak kunjung mendapat jawaban dari Gavin.


Gavin kemudian tersenyum. Seperti yang diajarkan Helli, Gavin harus tenang terlihat tenang dan bersikap santai dan biasa saja.


"Dia tidak membatasiku, Mona."


"Lalu kenapa aku merasa kau menjauhiku?"


"Tidak ada yang menjauhimu. Saat ini bahkan kita sedang duduk di atas sofa yang sama."


"Gavin!"


"Mona."


"Kau tidak pernah seperti ini sebelumnya. Kau membuatku sedih," manik wanita itu berlinang.


Sekali kedip saja, Gavin yakin kristal bening itu akan merembes keluar membasahi pipinya. Mona memang wanita yang sentimental dan sedikit manja.


Melihat hal itu, Gavin menjadi tidak tega. Sikap tenangnya menguap begitu saja.


"Hei," dicakupnya kedua pipi wanita itu. Manik mereka saling bertaut, jemari Gavin membelai lembut wajah wanita yang ia kagumi itu.


"Aku minta maaf jika sudah membuatmu sedih. Aku salah." Gavin menempelkan kening mereka satu sama lain.

__ADS_1


"Baru kemarin kau mengatakan tidak akan ada jarak dan tidak akan ada yang berubah. Tapi perlakuanmu tadi siang jelas-jelas menciptakan jarak yang begitu besar, Gav. A-aku, aku sedang sedih, marah dan kecewa. Rusel tidak menjawab panggilanku seharian, tidak membalas pesanku. Lalu kau juga melakukan hal yang sama."


Mona mengadukan kegundahannya. Rusel Tadero, adalah pria yang akan menikahinya. Gavin belum pernah bertemu secara langsung tetapi Gavin sudah pernah melihat wajah pria itu melalui foto yang dikirimkan oleh Mona kepadanya.


"Sst, jangan menangis. Apa kau mau aku terbang ke Australia hanya untuk menghajar tunangan keparatmu itu?"


Mona menggeleng seraya tersenyum, "Kau temani aku saja di sini."


"Kalau begitu berhenti menangis," Gavin mengusap jejak air mata di kulit mulus sahabat kesayangannya itu. Melihat Mona menangis karena bersedih adalah hal yang tidak ia inginkan.


"Gav?"


"Hm?"


"Kenangan kita sangat banyak jika kau lupa Ms. Hilton."


Mona terkekeh, "Ya, kau benar. Hampir seumur hidup kita habiskan bersama. Kau ingat, Claire Poulsen? Wanita itu memusuhiku hingga sekarang."


"Tentu saja aku ingat."


Claire adalah wanita yang tergila-gila kepada Gavin sejak mereka di taman kanak-kanak. Saat itu, Gavin harus mendapat surat peringatan karena sudah membuat Claire menangis. Gavin tidak akan pernah melupakan kejadian itu, Mona dan Claire bahkan berakhir dengan adegan gelud.


"Dia tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik. Apa kau tidak menyesal?"

__ADS_1


"Kenapa aku harus menyesal?"


"Kau menolaknya."


"Tapi aku mendapatkanmu."


Mona mendongak, terkesiap mendengar jawaban spontan dari pria itu. Manik keduanya saling mengunci satu sama lain. Kenangan yang mereka lewati selama ini seolah terekam ulang di hadapan mereka. Jantung keduanya berpacu, berdetak tidak seirama.


Mona tiba-tiba merasakan gelanyar aneh. Suhu tubuhnya meningkat, sentuhan tangan Gavin di kulitnya mendadak berubah seperti sengatan listrik yang memberikan sensasi.


Entah siapa yang memulai, bibir keduanya kini bertaut satu sama lain.


Mona memejamkan matanya, pun Gavin melakukan hal serupa. Tangan Mona kini melingkar di balik leher Gavin, tubuh mereka saling menempel satu sama lain. Ciuman itu berlanjut dengan saling membalas, menyelesak hingga ke rongga mulut. Intim dan saling menuntut. Sedikit kasar dan tergesa-gesa seolah tidak ada lagi hari esok.


Gavin dan Mona kompak melepaskan tautan bibir mereka. Kening keduanya kembali saling menempel lalu mereka tertawa. Menertawakan apa yang mereka lakukan baru saja.


"Batalkan pernikahanmu dengan pria itu." Pernyataan Gavin yang bernada perintah itu sontak membuat Mona terkejut.


"Apa maksudmu, Gav?"


"Aku tidak ingin melihatmu menikah dengan orang lain."


Ponselnya berdenting, sebuah notif pesan.

__ADS_1


▪️Aku sudah mengisi daya ponselku. Tunanganmu.


__ADS_2