My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Aku Mengantuk


__ADS_3

"Katakan, Gavin, jika Mona tidak ada, apakah kau akan menoleh ke arahku?"


Entah setan apa yang merasuki Helli hingga melontarkan pertanyaan yang secara tidak langsung menunjukkan perasaannya kepada pria itu. Tapi ada hal yang tidak bisa ditarik kembali, salah satunya adalah perkataan yang sudah terlontar. Jadi, yang dilakukan Helli saat ini adalah menunggu jawaban dari pria yang saat ini juga sedang menatapnya.


Tidak ada raut terkejut di wajah Gavin sama sekali. Tentu saja, mengingat pria itu sudah terbiasa mendapat pernyataan cinta dari para wanita. Bukan tanpa alasan Helli menuding Gavin sebagai pria kurang kaya yang sangat diminati para wanita. Percayalah, selama mereka berbincang-bincang, ponsel pria itu tidak pernah berhenti berdering. Panggilan dari Elizabet, Rossa, Nedy, Luna, Amora, entah siapa lagi. Dan yang dilakukan pria itu hanya meliriknya sekilas. Lain hal mungkin jika yang menghubunginya adalah Mona.


"Astaga, pertanyaan macam apa ini, Helli? Pertanyaan jebakan? Hei, aku bukan pria munafik. Tentu saja aku akan menoleh kepadamu!" seutas senyum menawan terbit di wajah Gavin.


"Kita mungkin akan menjadi pasangan yang serasi. Kau wanita cantik dan aku pria yang bisa dikatakan menawan," Gavin menambahi dengan senyum jemawa.


Helli tersenyum tipis, pria itu terkadang memang sangat terus terang dan blakblakan. Untung bagi Helli karena Gavin tidak menanggapinya dengan serius.

__ADS_1


"Apa karena aku cantik, wangi?"


"Jangan katakan bahwa kau berharap para pria di luar sana tertarik padamu karena inner beauty yang kau miliki? Jangan membuatku tertawa, Helli. Inner beauty hanya akan ada di deret ke sekian dari daftar yang dilihat dan diperhatikan seorang pria terhadap seorang wanita. Tapi, setelah mendapatkan wanita tersebut, inner beauty itulah yang membuat para pria bertahan di sisi seorang wanita. Ya, kau sangat cantik. Semua yang ada padamu, terlihat seperti seni. Kau mengagumkan, Helli," ucapnya lebih terus terang. Pujian yang Gavin lontarkan bukan bualan semata. Ia menilai berdasarkan sudut pandang pria normal dengan tanda kutip brengsek pada umumnya.


Wajah Helli bersemu merah, darahnya berdesir hangat mendengar ungkapan yang bernada pujian itu. Itulah jatuh cinta, pernyataan ringan saja bisa membuat seseorang melambung dan melayang. Untuk itulah ada kata-kata bijak yang tercipta. Yang berbahaya dari seorang laki-laki adalah ucapannya karena mampu menggetarkan hati seorang wanita saat mengingatnya serta membuat tidur tidak nyenyak.


Itulah sepertinya yang akan dirasakan oleh Helli. Ucapan Gavin justru semakin membuat Helli serakah. Gavin mengakui kecantikannya, tetapi pria itu tetap bertahan untuk mendapatkan Mona.


Pria yang cukup teguh. Helli membatin.


"Selain parasmu yang sangat sedap dipandang, aku yakin kau juga memiliki sikap yang lembut. Kau tahu, Helli, kau orang pertama yang kuajak berteman."

__ADS_1


"Apakah aku harus merasa tersanjung?"


Gavin tergelak, "Harus! Tidak semua orang bisa berteman denganku. Aku pemilih dalam hal itu. Semua orang bisa menganggapku teman, tapi tidak semua orang bisa kuanggap teman." Gavin mengerling jenaka.


"Sombong sekali Anda."


"Aku cukup berpengaruh, angelo mia. Jadi tidak usah sungkan untuk meminta tolong kepadaku. Katakan, apa yang kau bicarakan dengan Glend Vasquez."


Helli sedikit terkejut, tidak menyangka jika Gavin memperhatikan saat dia dan Glend Vasquez berbincang. Apa yang ia bahas dengan Glend bukanlah sesuatu yang ingin ia bagi dengan Gavin.


"Kau tidak mengantuk?" Helli menatapnya dengan mimik malas yang dibuat-buat. Dari tadi ia sudah hendak beranjak, tapi Gavin selalu berhasil menahannya.

__ADS_1


Gavin melirik jam tangannya yang baru disadari Helli juga merupakan produk dari brand ternama.


"Hampir jam sepuluh malam, ini masih terlalu pagi untukku, Helli. Mataku masih segar, tapi jika kau ingin membuatku tidur cepat, aku tidak keberatan. Kau bisa membuatku berkeringat."


__ADS_2