My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Makan Malam


__ADS_3

Tok. Tok


"Ya," Helli menyahut dari dalam.


"Makan malam sudah siap, Helli. Gavin sudah menunggumu di meja," terdengar seruan Lordes dari luar kamarnya.


"Ya, katakan padanya, aku akan segera turun. Terima kasih, Lordes."


Helli yang sudah mengenakan pakaian tidur dan sudah mengambil posisi nyaman di atas ranjang segera menurunkan kakinya. Ia tidak berpikir untuk makan malam karena hal itu bukan kebiasaannya. Selain untuk menjaga postur tubuh idealnya, selama ini tidak ada yang mengingatkannya hanya untuk sekedar makan. Ah, ada, ia melupakannya, Calvin Hugo. Pria itu menjadi orang pertama yang memberi perhatian-perhatian kecil kepadanya hingga membuatnya tersentuh, terbuai, dan terhanyut.


Helli yang rapuh dan sensitif sangat mudah terpengaruh oleh perhatian-perhatian kecil yang tidak ia dapatkan dari orang terdekatnya. Sang ibu. Dan sekarang, Helli kembali merasakan hal yang sama, mulai terenyuh dengan perhatian yang diberikan Gavin. Sekuat tenaga ia membentengi dirinya agar tetap waras, agar tetap mengingat tujuannya dan mengingat tujuan Gavin. Ia tidak boleh merusaknya. Karena jika hal itu terjadi, ia akan lebih hancur dari sebelumnya. Ini hanya pura-pura. Kalimat itu ia rekam di otak dan ia tulis di keningnya juga kening pria yang menjadi tunangan palsunya.


Helli melepaskan pakaian tidurnya dan menggantinya dengan pakaian santai. Tanpa memoleskan apa-apa di wajahnya, ia segera membawa kakinya ke luar kamar. Ia tidak berniat makan malam, tapi sebagai bentuk rasa hormat dan demi sopan santun, ia akan menemani tuan rumah untuk makan malam.

__ADS_1


Helli menuruni tangga melengkung yang mereka lalui tadi. Kini Helli memperhatikan setiap seni, desain yang terdapat di dinding sepanjang ia menuruni anak tangga. Seperti yang sudah ia katakan sebelumnya, Gavin memiliki selera yang bagus dalam hal apa pun.


Tanpa sadar ia sudah berada di dasar tangga. Seperti yang dikatakan Lordes, Gavin sudah menunggu di sana. Pria itu terlihat fokus pada layar persegi yang sedang ia genggam. Sesekali dahi pria itu mengernyit dan sesekali Gavin tersenyum. Helli bertanya-tanya apa yang menarik di dalam ponsel itu.


"Selamat malam,"


Gavin mendongak, meletakkan benda yang ia pegang tadi di atas meja.


"Selamat malam, tunanganku," Gavin menerbitkan seutas senyum manis.


"Terima kasih, " Helli mendaratkan bokongnya di sana. "Di mana Lordes?"


"Dia sudah pulang."

__ADS_1


Helli mengernyit, ia mengira jika Lordes tinggal di sini. Memikirkan hanya mereka berdua yang tinggal di sana, mendadak membuat Helli merasa tidak nyaman. Mulai ada yang salah dengan dirinya. Dan Helli tahu jika yang ia rasakan bukan pertanda baik. Untuknya atau pun untuk pria yang tengah duduk di sampingnya itu.


"Dia memiliki suami dan anak yang harus ia urus. Jam kerjanya hanya sampai sore. Tapi berhubung hari ini kedatangan tamu seorang wanita cantik, ia menyempatkan diri untuk memasak. Untuk itu makanlah. Ia tidak tahu kesukaanmu, jadi ia memasak lumayan banyak." Gavin mengarahkan dagunya menunjuk makanan yang tersaji yang cukup untuk memberi makan sepuluh atau mungkin lebih.


"Astaga, ini berlebihan. Bagaimana kita akan menghabiskannya."


"Pilih yang kau sukai. Nanti Lordes dan suaminya akan kembali datang kemari. Mereka akan membagi-bagi makanan ini untuk anak-anak tetangga mereka."


"Aku tidak makan..."


"Selama menjadi tunanganku, kau harus makan. Aku akan menemanimu berolah raga." Gavin menyela ucapan Helli dengan segera. Pria itu mengambil piring kosong dan mengisinya dengan salad juga salmon. Meletakkan piring tersebut di hadapan Helli.


"Aku bertanya-tanya, kenapa Mona tidak jatuh hati kepadamu? Apakah dia sama sepertiku? Kurang meminati pria kurang kaya walau casingnya cukup tampan dan penuh perhatian?"

__ADS_1


Gavin tersedak mendengar penuturan Helli. Di disaat bersamaan, gadis itu memuji dan menjatuhkannya. Sekarang Gavin yakin sekali Helli membuka pembicaraan, disaat itu ia harus siap-siap untuk terkejut.


__ADS_2