
"Harusnya kau yang lebih berhak menerima apa pekerjaan yang layak untukku. Tapi Mom selalu bertindak sesuka hatinya."
"Sst, tidak ada gunanya menyalahkan ibumu. Kau menyayanginya, bukan? Lakukan apa pun yang membuatnya senang. Aku akan memasak untukmu nanti dan aku akan merahasiakannya darimu."
"Benarkah?" Wajah Helli berbinar-binar cerah. "Terima kasih, Calvin. Kau yang selalu mengerti aku." Calvin mengangguk, kembali ia mendaratkan kecupan dan kali ini di wajah Helli.
"Baiklah, aku akan mengganti pakaianku. Aku sedikit malu kepadamu. Kuharap kau tidak membenci atau marah padaku. Kau selalu berkata agar aku mampu menutupi tubuhku."
Calvin tersenyum sembari mengangguk, "Ya, tapi ini pekerjaan. Sudah menjadi resikomu, Sayang."
"Kau tidak marah?"
"Tidak. Asal kau tidak bersenang-senang dengan sembarang pria di luar sana."
"Kau tahu aku wanita yang sangat sulit bergaul. Baiklah, Calvin, aku akan segera kembali. Tapi omong-omong, kenapa ada sisi pemotretan? Apakah hanya akan ada aku? Di mana yang lainnya?"
"Mereka akan datang nanti dan sebagian ada di ruangan lain. Aku akan menunggumu di luar kalau begitu."
Helli mengangguk dan segera masuk ke ruang ganti.
__ADS_1
Alih-alih keluar, Calvin justru memasang tanda di luar agar tidak ada yang mengganggu mereka lalu mengunci pintu tersebut.
"Lily, apa masih lama, Sayang?" Setengah jam berlalu, Helli belum keluar juga.
"Ah, Calvin kau sudah di sana?"
"Ya, satu jam lagi acaranya akan dimulai."
"Calv, aku takut. Aku tidak percaya diri. Apakah nanti akan ada yang mengambil fotoku?"
"Saat dipanggung, tidak ada yang diperkenankan mengambil foto," ucap Calvin berusaha menenangkan Helli.
"Tidak ada. Tapi aku akan meminta mereka agar tidak mengambil fotomu."
"Lalu, untuk apa kita mengambil foto, Calvin?"
"Agar mereka tidak mengambil fotomu lagi di panggung. Aku akan mengatakan pada mereka bahwa aku sudah mengambil beberapa fotomu. Aku akan megambil angle yang bagus, yang tidak mempertontonkan tubuhmu. Kau percaya padaku?"
"Tentu saja aku percaya padamu."
__ADS_1
Calvin tersenyum, "Kalau begitu, keluarlah, Sayang."
Helli dengan patuh keluar dari ruang ganti. Ia masih menutupi tubuhnya dengan kain. Calvin mengernyit.
"Tidak usah malu kepadaku. Lepaskan penutupnya." Calvin menarik kain itu dengan lembut dan perlahan. Pria itu untuk sepersekian detik dibuat tertegun, terpana, dan pria itu bahkan meneguk ludahnya dengan susah payah. Helli mengenakan lingerie berwarna fuchsia yang sangat seksih.
Sebelum Helli menyadari ekspresi di wajah Calvin, pria itu segera merubah air wajahnya. "Kemarilah, tenangkan dirimu. Minum ini agar kau sedikit rileks." Calvin menyodorkan air minum dan Helli langsung meneguknya sampai tandas.
"Ah, minuman ini sangat segar, membuatku merasa lebih enteng."
"Syukurlah," Calvin mengusap punggungnya. "Kau sudah siap untuk melakukan pemotretan?"
"Tentu saja." Helli dengan semangat berjalan ke set, tidak menaruh curiga sama sekali.
Calvin pun mengarahkan Helli untuk berpose. Wanita itu menurut dengan apa yang dikatakan Calvin, bahkan saat Calvin menyuruhnya untuk melepaskan lingerie tersebut dan menyisakan **********, Helli pun tidak kuasa menolak. Suara Calvin bagaikan perintah mutlak.
"Ya, Sayang. Lakukan seperti itu. Bagus, Lily, kau sangat cantik. Aku sangat menyukaimu? Ya, lepaskan tanganmu dari sana. Berbaringlah. Wah, kau benar-benar seperti peri, Lily sayang."
Setelah ratusan pose, akhirnya Helli jatuh pingsan tidak sadarkan diri.
__ADS_1