
Oscar tidak bisa melepaskan tatapannya dari Grace yang berdansa dengan salah satu rekan bisnisnya. Ada perasaan tidak rela melihat sekretarisnya disentuh oleh pria lain. Oscar terkejut menyadari reaksinya, marah dan kesal.
Mungkinkah aku cemburu? Pertanyaan itu serta merta ia tepis dengan segera. Kenapa ia harus cemburu. Di matanya Grace adalah sekretaris yang kebetulan juga merupakan temannya. Ya, selama beberapa bulan bersama, ia menganggap Grace sebagai teman yang cukup berarti. Grace masuk dalam bagian penting di hidupnya. Tapi benarkah hanya sebatas itu?
Pikirannya melayang jauh, mengingat momen yang mereka lewati selama beberapa bulan terakhir ini. Tanpa sadar, sudut bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman. Grace, wanita yang penuh perhatian, sekretaris yang sangat efisien dan gesit. Awalnya ia meragukan Grace saat Jimmy memilih gadis itu untuk menjadi sekretarisnya. Namun, seiring berjalannya waktu ia harus mengakui bahwa Vasquez memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Berkat Grace, ia banyak menarik perhatian para rekan bisnisnya. Banyak tender yang mereka dapatkan.
Selain menyadari betapa baik dan penuh perhatiannya Grace, kini ia baru menyadari pesona gadis itu. Grace wanita yang sangat cantik, apa adanya dan lugu. Daya tarik yang luar biasa itu baru ia sadari malam ini setelah melihat Grace berdansa dengan Juno. Juno memang kerap menggoda Grace setiap kali ada kesempatan. Pria itu juga sering melontarkan pertanyaan kepada Oscar apa Grace memiliki pria spesial dalam hidupnya. Dulu, Oscar menganggap pertanyaan Juno sebagai angin lalu. Melihat cara Juno menatap Grace, ia tahu jika Juno sepertinya benar-benar tertarik pada Grace.
Oscar menemukan jantungnya berdegup tidak karuan karena marah. Tidak sanggup membayangkan jika Grace memberi perhatian pada pria lain.
Dengan langkah lebar, ia turun ke lantai dansa. Grace tidak boleh membagi perhatiannya pada pria lain atau pada siapa pun itu. Katakan Oscar serakah, tapi ia ingin perhatian Grace hanya untuknya. Dan baru ia sadari, jika hanya Grace yang benar-benar tulus memberi perhatian padanya selama ini. Hatinya yang kosong, entah sejak kapan mulai menghangat. Ia dan ayahnya juga sudah tidak pernah terlibat pertikaian lagi, bukan karena hubungannya dengan Jimmy membaik, hanya saja ia sudah tidak sering membuat ulah yang bisa memancing amarah ayahnya.
"Aku ingin berdansa dengannya," Sejak kapan ia memiliki suara dingin. Oscar pun terkejut sendiri.
Grace dan Juno langsung menghentikan gerakan dansa mereka dan menoleh serempak ke arah Oscar yang menatap keduanya dengan wajah tidak ramah.
"Kau ingin berdansa denganku?" Grace bertanya, mengulangi pernyataan Oscar.
"Ya," ia langsung menarik tangan Grace menjauh dari tubuh Juno, kemudian berkata pada rekan bisnisnya tersebut. "Carilah wanita lain untuk berdansa denganmu." Tanpa mendengar jawaban Juno, Oscar membawa Grace menjauh dari pria itu.
"Dimana pasanganmu?" Grace mencari sosok wanita yang datang bersama Oscar beberapa saat lalu.
"Aku tidak tahu. Berhenti mencarinya." Oscar meletakkan kedua tangan Grace di pundaknya dan tangannya merengkuh pinggang Grace yang ternyata sangat ramping dan pas dalam rengkuhannya.
__ADS_1
"Aku takut dia tiba-tiba muncul dan menyerangku dengan tuduhan bahwa aku merebut teman prianya." Grace tidak bisa menyembunyikan semburat merah di kedua pipinya saat jarak diantara mereka begitu tipis. Tatapan Oscar juga menghunus, mengunci iris matanya. Oscar tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya kepadanya. Dan Oscar sendiri tidak tahu mengapa ia melakukan hal ini. Yang ia tahu, ia tidak menyukai saat Grace memberi perhatian pada pria lain. Ia ingin Grace hanya menatapnya.
"Tidak akan ada yang menyerangmu. Aku di sini." Suaranya masih saja dingin, membuat Grace sedikit mengernyit karena bingung dengan perubahannya.
"Apa ada masalah?"
"Tidak ada."
"Kau seperti sedang memikirkan sesuatu. Apa ada yang mengusik pikiranmu?"
"Semuanya baik-baik saja."
"Baguslah kalau begitu."
Hening sejenak. Keduanya larut dalam gerakan dansa mengikuti irama musik.
"Apa yang kau bicarakan dengan Juno. Aku melihat kau tertawa sangat lebar saat dia membisikkan sesuatu di telingamu."
"Dia memujiku."
"Dia memang selalu memujimu," aku Oscar seraya menggertak giginya. Sungguh, ia tidak suka melihat kedekatan keduanya. Apa yang sebenarnya terjadi dengan diriku? Pikirnya.
"Oh yeah? Aku tidak mengetahuinya."
__ADS_1
"Apa begitu sangat menyenangkan mendapat pujian darinya."
Alis Grace menukik bingung. "Kurasa semua orang suka pujian dan aku yang jarang mendapat pujian, terang saja merasa senang dan terhibur."
"Kau bisa membuatnya salah paham."
"Kenapa Juno harus salah paham?"
"Karena kau terlihat bahagia dengan pujiannya."
"Aku memang bahagia."
"Kau menyukainya?"
"Menyukai Juno? Tentu saja. Dia pria yang humoris, pintar dan kaya."
"Itu tipe priamu?"
"Maksudmu?"
"Jangan menyukainya."
"Hah?"
__ADS_1
"Jadilah wanitaku."