My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Tunangan Manisku


__ADS_3

"Astaga, apa yang kulihat tadi? Hais, ini memalukan. Sayang sekali aku tidak bisa melihat wajah wanitanya. Tapi sepertinya masih sangat muda. Oh ya ampun, Ayah mertuaku ternyata masih sangat bergairah dan memiliki selera yang lumayan. Aku sepertinya mengenal suaranya."


"Jika ada yang melihatmu berjalan sambil berbicara sendiri, orang-orang akan bergosip tentang tunangan Oscar yang sepertinya memiliki gangguan."


Grace sontak saja menghentikan langkah. Ia tidak lantas berbalik karena tanpa berbalik pun ia sudah bisa menebak siapa pemilik suara yang menuduhnya memiliki gangguan mental. Grace menarik napas, mengatur emosinya agar tidak terusik dengan kata-kata yang cukup memancing amarah tersebut. Mengingat hari ini adalah hari baiknya, ia tidak ingin merusaknya dengan meladeni ucapan Damian dengan menggunakan urat. Yup! Pria itu adalah Damian. Pria yang bermurah hati mengosongkan hotelnya selama dua hari demi acara pertunangan ini.


Perlahan Grace berbalik, dengan amat sangat terpaksa, ia menyunggingkan senyum lebarnya dan sepertinya Damian tahu jika senyumnya penuh dengan sandiwara sehingga tidak sedikit pun bibir pria itu berkedut untuk membalas senyumnya.


"Hai," Grace masih melanjutkan dramanya menjadi wanita super ramah yang berpikiran positif.


"Hai," jawab si duda itu dengan enggan dan mimik angkuh yang menyebalkan.


Tahan Grace, si duda ini mempunyai berbagai macam polemik dalam hidupnya. Harap dimaklumi.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


"Di hotel ini? Ini milikku."


Oh Tuhan, angkuh sepertinya sudah menjadi nama tengah pria ini. Untung saja putrinya manis, jika tidak...


Grace menghentikan gerutuannya di dalam hati. Jika tidak? Jika tidak... Ia tidak tahu kalimat apa yang akan melengkapi kalimat tersebut.


"Ya, tentu saja ini milikmu. Oscar mengatakannya kepadaku beberapa hari lalu. Kau murah hati sekali," tanpa sadar Grace mencibikkan bibirnya, sehingga pujian itu berubah menjadi sebuah cibiran.


"Tapi yang kutanyakan, apa yang kau lakukan di sini?" Grace menunjuk lantai tempatnya berpijak dengan kedua jari telunjuknya.


Damian menatapnya dengan ekspresi aneh yang mengatakan seolah-olah, Grace memang wanita yang memiliki sedikit gangguan.


Grace melangkah, mengikis jarak diantara mereka, secara tiba-tiba mencondongkan tubuh ke arah Damian hingga pria itu dengan jelas bisa mencium aroma parfum yang dikenakan Grace. Aroma bunga yang sangat lembut, tidak menyengat sama sekali yang bisa membuat hidungnya gatal.


"Memangnya apa lagi yang dilakukan orang-orang di dalam toilet?" Damian mendorong kepala Grace menjauh darinya. "Harusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan di dalam toilet pria."


"Aku tersesat. Tidak memperhatikan tanda. Apa kau juga melihatnya?" Grace berjinjit, berniat untuk berbisik di telinga Damian. Namun, meski ia berjinjit, mulutnya hanya bisa mencapai ujung pundak pria itu hingga napasnya justru berhembus di leher Damian.


Damian kembali mendorong wajahnya, lalu mengeluarkan sapu tangan dari balik jasnya, membersihkan tangan yang sontak mendapat cibikan dari Grace.


"Kau membuatku tersinggung. Tindakanmu seakan menunjukkan bahwa kau baru saja menyentuh kotoran. Grenda memiliki dempulan make up yang lebih tebal dariku biar tahu."


"Oscar mungkin sudah kebingungan kemana tunangannya yang aktif berkeliaran." Ucap Damian acuh tidak acuh.

__ADS_1


"Astaga! Ini salahmu! Kau mengajakku bergosip." Grace berbalik, baru dua langkah ia kembali memutar tubuhnya. "Apa kau melihat adegan yang tadi?"


"Adegan?"


"Ya, adegan dewasa tadi terjadi di salah satu bilik toilet."


Damian berdehem, "Pengintip!"


"Aku tidak sengaja melihatnya. Apakah ini alasan Oscar tidak pernah akur dengan ayahnya?"


Alis Damian menukik, "Apa yang ingin kau katakan, Miss Vasquez."


"Mr. Lawrence menyukai wanita muda. Apakah ini alasan Oscar tidak menyukai ayahnya."


"Berhentilah bergosip, fokuslah pada acaramu, Nona penggosip!"


"Ck! Kau tidak asyik, tidak seru sama sekali. Omong-omong, terima kasih atas partisipasimu dalam acara ini. Ini hotel yang indah."


"Selamat untuk pertunanganmu. Jangan kecewakan Oscar."


"Mengecewakan Oscar tidak ada dalam daftar hidupku, Damie."


Damian tersedak seketika mendengar cara Grace menyebut namanya.


"Terserah."


"Baiklah, aku akan memanggilmu seperti itu. Damie, nama yang manis, bukan?"


"Aku bisa mengatakannya manis jika aku sudah mencicipinya."


"Hais, kau ini."


"Pergilah, Oscar sudah menunggu."


"Oh, kau benar juga. Omong-omong soal nasehatmu tadi, aku tidak akan pernah mengecewakan Oscar karena aku sangat mencintainya!"


Untuk pertama kalinya Damian menarik kedua sudut bibirnya, tipis dan samar, tapi Grace berhasil melihatnya sebelum senyum yang begitu irit itu sirna dengan begitu cepat.


"Kau tidak ingin menyaksikan pertunangan kami?"

__ADS_1


"Aku akan segera bergabung setelah melakukan panggilan." Damian mengangkat ponselnya.


"Baiklah, aku pergi."


"Hmm."


___


"Oh Tuhan, kau dari mana saja?" Oscar langsung menyambut Grace begitu melihat kehadiran tunangannya itu. "Kupikir kau berubah pikiran dan memilih melarikan diri."


"Aku tidak mungkin melakukannya. Apa sudah ada yang memujimu hari ini?"


Oscar melipat bibirnya, "Kenapa? Aku terlihat menawan?"


"Ck! Sepertinya kau sangat menyadarinya."


"Aku berusaha untuk membuatmu terkesan dan yang kutemukan justru diriku lah yang terpukau. Kau luar biasa sekali." Oscar menatapnya dengan penuh kagum yang dilayangkan secara terang-terangan, membuat wajah Grace merona merah. Gadis itu benar-benar tersipu.


"Aku juga berusaha untuk tampil maksimal. Aku senang aku berhasil melakukannya. Kapan kau akan memasangkan cincin di jari manisku?"


Oscar tergelak, Grace selalu berhasil membuatnya terhibur dengan kalimat-kalimat spontan yang polos keluar dari mulut tunangannya itu.


"Helli mengatakan kau sangat gugup, aku tidak melihat kegugupan sama sekali."


"Itu karena kegugupanku ditelan oleh rasa kagumku yang begitu besar. Kau selalu berhasil membiusku dengan wajah tampanmu. Ya ampun, aku tidak bisa membayangkan berapa banyak wanita patah hati yang melayangkan kutukan untukku."


Oscar kembali tertawa, tertawa dengan lebih lepas.Tangan kekarnya mengusap lembut kepala Grace karena tidak ingin merusak tatanannya.


"Kau menggemaskan sekali. Apakah itu pujian atau sindiran."


"Merangkap keduanya. Kapan acaranya dimulai. Aku tidak sabar."


"Astaga. Dulce akan membawakan cincin pertunangan kita," pun Oscar menggenggam tangan Grace, membimbing gadis itu naik ke atas panggung agar acara penyematan cincin bisa disaksikan oleh semuanya.


Dulce menghampiri mereka, memberikan kotak perhiasan kepada Oscar. Oscar membuka kotak tersebut. Sebuah berlian dengan desain sederhana tapi terlihat sangat indah terpampang di sana. Cincin itu murni pilihan Oscar sepenuhnya. Di sana ada ukiran namanya dan Grace.


"Berikan tanganmu, Kekasihku?"


"Dengan senang hati, Priaku," sahut Grace seraya tersipu malu.

__ADS_1


Cincin pun disematkan di jari manisnya diiringi tepuk tangan gemuruh. Ayah dan saudara Grace menatap mereka penuh haru. Tidak menyangka jika gadis kesayangan mereka itu akan membagi hati kepada pria lain yang menjadi pilihan hatinya.


"Sekarang kau sudah terperangkap denganku, Miss Vasquez," Oscar berbisik di telinga Grace sebelum mengecup pipi gadis itu. "Jangan pernah mengalihkan tatapanmu dariku, mengerti, tunangan manisku?"


__ADS_2