My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Mari Membatalkan Pernikahan Ini


__ADS_3

"Kita mata-matanya," Helli menyahut tanpa suara tapi Gavin berhasil menangkap arti dari gerakan bibir wanita itu.


"Siapa yang sedang kita mata-matai?"


"Rusel. Di mana Mona?" tanya Helli yang tidak melihat keberadaan wanita itu.


Gavin segera berbalik, dahinya mengernyit saat tidak menemukan Mona di sana kecuali Addrian yang duduk santai menikmati makan siangnya.


"Di mana Mona?" Gavin bertanya kepada Addrian.


"Kurasa sudah pergi ke sebelah." sahut Addrian santai.


Ia tidak ingin ikut campur dengan masalah orang lain. Ia harus menenangkan dirinya sendiri yang terguncang karena bertindak dan bersikap memalukan seperti tadi. Tapi selain rasa malu yang mencemoohnya, ada perasaan lain yang menghinggapinya. Aroma Helli sedikit menggelitik. Wajah wanita itu juga sangat mulus tanpa pori juga tanpa polesan make up berlebih. Ah, manik gadis itu juga sangat indah tapi penuh dengan bahaya.


"Baiklah, nikmati makan siangmu." Gavin berdiri, mengulurkan tangan, berniat untuk membantu Helli agar berdiri juga dari tempatnya.


Helli menggeleng, menepis tangan tunangan palsunya itu, wanita itu justru merangkak menuju meja. Gavin dan Addrian kompak tersedak. Private room yang mereka tempati memang tidak menyediakan kursi. Mereka hanya duduk di lantai kayu. Di hadapan mereka sudah tersaji makanan yang ditatap di atas meja yang memiliki ukiran yang sangat rumit.

__ADS_1


"Bagaimana dengan Mona?" Helli bertanya.


"Biarkan dia menyelesaikan masalahnya. Kau suka kerang? Katanya kerang di sini enak. Aku belum pernah menikmatinya."


"Ya, jangan lakukan. Bisa-bisa aku dihardik oleh sahabatmu itu lagi." Helli masih ingat bagaimana Mona memarahinya saat tidak mengetahui alergi yang diderita Gavin.


"Apakah enak?" Kini Helli beralih menoleh pada Addrian.


"Lumayan. Kau ingin mencicipinya?" Addrian menawarkan.


Helli mengangguk, dan tanpa pikir panjang, Addrian mengulurkan sendok berisi kuah sop.


Addrian menarik sendoknya kembali dan memasukkannya ke dalam mulutnya sendiri. Pria itu fokus menikmati makan siangnya, mengabaikan Helli dan Gavin.


"Bagaimana syutingmu? Apakah ada yang mengusikmu?"


"Tidak. Semuanya berjalan lancar. Apa rencanamu setelah ini? Aku akan memikirkan hadiahku. Sepertinya aku akan menang taruhan."

__ADS_1


Gavin tidak lantas menjawab. Ia akan memikirkan hal itu nanti. "Nikmati makan siangmu." Ia mulai mengisi piring Helli lalu meletakkannya di hadapan wanita itu. "Makanlah."


Sementara itu, di ruang sebelah, Rusel dibuat terkejut dengan kehadiran Mona. Sama seperti yang ada di vidio, Mona juga melihat keduanya berciuman. Semuanya sudah jelas.


"Kurasa kita perlu bicara," Mona bisa mendengar dan merasakan suaranya tercekat di tenggorokan. Meski sudah yakin akan mengakhiri semuanya, tapi melihat Rusell secara langsung berselingkuh tetap saja membuat hatinya berdenyut nyeri seperti ditusuk-tusuk. "Apa dia kekasihmu?"


"Mona, duduk lah dulu," pinta pria itu dengan nada membujuk.


Meski kesal dengan Mona, tapi Rusell tidak memungkiri jika hatinya masih terpaut pada gadis itu. Tidak adil kepada Melinda, tapi dari awal wanita itu juga tahu bahwa Rusell akan tetap memilih Mona.


"Jawab saja pertanyaanku!" Mona menatap Melinda yang hanya bisa menundukkan kepala.


"Ya." Akhirnya ia menjawab dengan berat hati.


"Sejak kapan?"


"Sejak tiga bulan yang lalu." Ya, selama itulah Rusell sudah berkhianat.

__ADS_1


"Mari membatalkan pernikahan ini, Rusel. Maafkan aku yang sudah membuatmu jenuh dengan hubungan yang selalu melibatkan pria lain. Aku tahu aku salah, dan sudah selayaknya kau pantas mendapatkan yang lebih baik." Mona mendongak, menahan agar air matanya tidak meluruh. Pada akhirnya perpisahan adalah sesuatu yang menyakitkan.


__ADS_2