My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Pria Putus Asa


__ADS_3

Bab 66 Direvisi ya, Genk


Happy Reading, Gaes🥂🥂


Silakan baca ulang biar menyambung alurnya.


.


.


.


Aku justru terkejut jika dia tidak tertarik padaku."


Ciitttt!


Gavin menginjak rem secara mendadak.


"Gaviiinnnn!!! Apa yang kau lakukan? Apa kau memang berniat untuk merusak mobil ini, hah?"


"Jadi maksudmu, kau sengaja merayunya agar dia tertarik padamu?"


Tudingan yang terdengar kasar sebenarnya. Apa Helli terlihat seperti perayu di matanya? Hatinya yang bermasalah, Helli yang disalahkan.


Untungnya si positif thinking Helli tidak menunjukkan reaksi tersinggung sama sekali. Alih-alih menyumpahi Gavin dengan sumpah kotor dan konyol, Helli justru tertawa sampai kepalanya mendongak ke atas. Jangan salahkan Gavin jika tatapannya teralih pada leher jenjang gadis itu.

__ADS_1


Demi menyelamatkan dirinya dan juga Helli, Gavin mencengkram kuat setir kemudi agar tangannya tetap bertahan di sana. Ah! Ia butuh lem rucika agar menempel kuat di sana.


"Aku tidak perlu merayunya. Semua yang diciptakan Tuhan pada diriku begitu sempurna. Terima kasih, Tuhan. Aku tidak akan menyangkal hal itu dan aku yakin kau juga tidak, bukan? Hanya pria buta yang tidak tertarik padaku."


"Pria buta pun akan tertarik padamu, wangimu enak."


Tawa di wajah Helli menghilang seketika, berubah menjadi rona kemerahan di pipinya. Helli menyentuh wajahnya. Panas, benar-benar ia tersipu mendengar ucapan Gavin. Itu terdengar seperti pujian yang sangat manis di telinganya.


Helli menggeleng segera, kendali dirinya harus kuat. Ia sengaja berdehem, berharap Gavin tidak menyadari betapa hebat reaksi tubuhnya atas pujian yang sepertinya hanya angin lalu bagi Gavin.


"Selain pria buta, tentunya pria tidak normal. Ah, satu lagi, pria yang memiliki cinta luar biasa pada wanitanya. Seperti kau mungkin." Helli tidak memberi kesempatan kepada Gavin untuk mencerna ucapannya. Buru-buru Helli menambahkan, "Kau pikir kenapa aku terlibat skandal? Mereka tergoda dengan yang ada pada diriku. Jika dalam keadaan terdesak, sesekali aku menanggapinya. Dan kebetulan sekali aku apes saat terciduk. Sisanya seperti yang kau tahu. Aku menghilang untuk menyelamatkan diri," Helli mengidikkan bahu dengan santai.


Gavin bergeming untuk beberapa saat. Kalimat yang cukup panjang itu disampaikan dengan ringan. Tidak ada emosi yang tersirat di dalamnya. Dan Gavin memang tahu seperti apa akhir karir seorang Helli Lepisto.


"Berhati-hatilah kepadanya. Sebelumnya dia datang ke bengkel bersama kekasihnya yang lain."


"Artinya dia bukan pria yang tidak cukup baik. Aku salah menilainya kalau begitu."


"Memangnya seperti apa penilaianmu terhadapnya?" Perbincangan kembali normal.


"Dia terlihat seperti pria baik-baik."


Dan perbincangan normal itu hanya bertahan sesaat. Gavin diserang rasa yang tidak bisa ia jelaskan setelah mendengar jawaban Helli. Ia tidak menyukai Helli memuji pria lain.


Helli tidak sedang memuji tapi memberikan penilaian, seru hatinya.

__ADS_1


Gavin memutar bola matanya dengan jengah. Berperang dengan diri sendiri jauh sangat melelahkan dibanding adu jotos dengan Rusell, meski ia belum pernah mencobanya. Haruskah ia mencobanya? Kekesalan yang bercokol di hatinya bersumber dari pria itu.


"Lalu, pria seperti apa aku bagimu?"


"Pria yang putus asa."


Enteng, ringan, cepat, tegas, dan lugas. Helli bahkan terlihat tidak butuh waktu sama sekali untuk berpikir.


Lagi dan lagi Gavin hanya bisa berdecak. Merutuki sikap kekanakannya yang penasaran dengan penilaian Helli terhadap dirinya.


"Tapi omong-omong, jika menurutmu Rusell adalah pria brengsek, kenapa tidak memberi peringatan kepada Mona. Mungkin dengan begitu, Mona bisa lebih waspada dan kemungkinan untuk kau dan dia bersatu lebih dekat dan lebih cepat. Ini berita bagusnya."


Gavin tidak menanggapi. Ia akan mengatakan hal itu pada Mona lain waktu. Tapi kenapa ia menunda-nunda dan justru penting baginya mengatakannya secara cepat dan langsung kepada Helli.


"Kita mau kemana?" Tanya Helli. Mobil tiba-tiba berhenti di sebuah butik. Pria itu turun tanpa menjawab pertanyaan Helli. Ia menarik tangan Helli keluar dari mobil, menggandengnya masuk ke dalam butik. Gavin menunjuk patung wanita yang mengenakan celana jeans panjang dan t-shirt putih polos kepada karyawan yang langsung menyambut mereka dengan senyum pepsodent yang menyilaukan mata, mengabaikan tatapan memuja yang dilayangkan secara terang-terangan kepadanya.


"Uwuuu... Dia terpesona denganmu."


Tidak ada respon.


Helli menyenggol bahu Gavin, pria itu menoleh dan saat gadis itu meminta Helli menundukkan kepala, Gavin dengan patuh menurut.


"Kau memang menarik dengan setelan KW yang kau kenakan. Kau terlihat seperti pria mahal. Eksekutif muda kata raya. Dan wajah rupawanmu cukup mendukung. Menurutmu, gadis itu terpesona dengan wajahmu atau gayamu yang parlente?"


"Aku tidak tahu dan tidak mau tahu."

__ADS_1


__ADS_2