My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Grace Oneila


__ADS_3

"Argghhh!!! Ini membosankan!" Grace mendaratkan bokongnya di atas sofa. Tidak berapa lama, dua orang pengawal datang membawa begitu banyak barang belanjaan hingga para pengawal tersebut kesulitan membawanya. Mereka tidak bisa melihat lagi jalan yang mereka lalui karena tumpukan barang yang menutupi wajah mereka.


"Letakkan saja di situ. Dan jangan lupa ambil bagianmu." Rico dan Noval, pengawal pribadi Grace, terang saja tidak menolak apa yang dikatakan majikan cantik mereka itu. Kapan lagi bisa menikmati barang branded yang terjamin keasliannya. Didata di seantero Britania Raya, mungkin hanya mereka pengawal yang memiliki barang-barang high class. Rico mengambil sepatu, jam tangan, dan sebuah kemeja keluaran Gucci terbaru. Noval mengambil sebuah tas mewah untuk dihadiahkan kepada kekasihnya. Dasar pria tidak punya modal. Prinsipnya, jika ada yang gratis kenapa tidak. Berkat barang-barang branded yang ia hadiahkan kepada kekasihnya yang matre, wanita itu jadi mencintainya setengah hidup.


"Kau memang yang terbaik, Gre." Seru Rico dan Noval secara bersamaan. Password yang selalu mereka ucapkan selesai mengambil hadiah dari nona muda tersebut.


"Hm... Katakan apa yang akan kalian lakukan setelah ini?"


"Berdoa agar kekayaan Mr.Vasquez surut dan ludes." Tentu saja mereka tidak akan melakukan hal itu. Justru yang mereka doakan adalah sebaliknya. Vasquez bangkrut, artinya mereka juga akan melarat.


"Ya, betul. Berdoa lah dengan bersungguh-sungguh!" Grace menatap kedua pria itu dengan penuh ancaman. Keinginan yang sangat konyol memang mengingat Grace mengharapkan masa kejayaan ayahnya hancur dan bangkrut. Ia bosan menjadi kaya. Karena dengan kekayaan yang mereka miliki, ia diperlakukan layaknya putri. Ia bosan. Ia ingin mandiri dan yang terpenting, ia ingin bekerja!


Ayah dan saudara laki-lakinya tidak mengizinkan hal tersebut sehingga ia ditawan di dalam mansion mewah yang penuh dengan cinta. Setiap hari yang ia lakukan hanya shopping, menghamburkan uang sesuka hatinya. Membeli mobil mewah layaknya minum obat. Tiga kali sehari! Pemikirannya yang naif, mengira dengan membuang uang ayahnya secara percuma, mereka akan langsung jatuh miskin.


"Kau belanja lagi?" Bella datang membawa segelas orange juice segar dan sepotong brownies dengan lelehan cokelat yang melimpah buatan tangan sang ibu tercinta. Indahnya dunia.


"Ya, apakah Daddy sudah jatuh miskin, Mom?" Grace mencomot brownis dan langsung memasukkannya ke dalam mulut dalam satu kali hap! Tidak ada manis-manisnya sama sekali.


Bella memukul paha putrinya mendengar pertanyaan enteng gadis itu. "Berhenti meminta atau pun mengatakan hal yang konyol, Gre. Banyak orang, karyawan yang menumpangkan hidup pada perusahaan di bawah naungan Vasquez." Bella mengusap keringat yang membasahi jidat putrinya. Wajar saja Grace kelelahan dan banjir keringat, ini sudah lebih dari lima jam sejak ia keluar menghamburkan uang ayahnya. "Daddy bekerja untuk kita. Berdoa lah untuk hal yang baik."


"Oh Mom, aku ingin bekerja!"


"Kau boleh bekerja. Tidak ada yang melarangmu."

__ADS_1


"Tidak di perusahaan Daddy!" Ya, setelah kesepakatan kemarin, Glend masih melarang Grace untuk bekerja.


"Nanti Mom akan membujuk Daddy-mu, Omong-omong kau membeli pesanan Mommy?" Bella mengambil beberapa paper bag, membukanya satu persatu untuk memeriksa barang yang ia minta.


Grace mendessah panjang, "Aku ingin adik dengan segera. Tidak masalah di usiaku yang sekarang, aku akan merawat dan mencintainya. Berjuanglah dengan semangat, Mom!" Grace ikut membongkar paper bag, mencari apa yang diinginkan oleh ibunya. "Lingerie, oh, lingerie, di manakah kau berada?" Ya, Bella meminta putrinya membeli beberapa lingerie baru untuk dirinya. "Oh, ini dia!" Grace memekik kegirangan bagaikan menemukan harta karun. "Nah, ini dia, Mom." Grace membentangkan sebuah gaun tipis berwarna hijau mengkilat. Warna kesukaan ayahnya. "Ouh, kau akan tampak seksii malam ini, Mom. Berani bertaruh, esok hari Daddy tidak akan pergi bekerja karena terlalu bersemangat menjelajah di atas tubuhmu." Wajah Grace merona merah membayangkan hal itu. Di usianya yang sudah menginjak angka yang bisa dikatakan cukup matang, ia belum pernah merasakan apa itu ciuman. Hei, pergerakannya selalu dikawal oleh dua pria yang sangat setia kepada ayah dan saudara kembarnya, Gavin.


"Hais, kau ini! Apakah Mom sebaiknya mencobanya agar kau melihatnya?"


Grace mengangguk semangat. "Aku tidak hanya membeli satu. Ada Sepuluh, Mom, dari berbagai warna!" Lagi dan lagi Grace memekik kegirangan. Ayo, kita ke kamarmu, Mom! Mari kita coba!"


Keduanya segera beranjak sambil bergandeng tangan. "Ingat, Mom, aku ingin punya adik. Biarkan rumah kita yang penuh cinta ini diisi oleh tangisan bayi."


"Ck! Tidak akan ada bayi lagi, gadis nakal! Helli sudah mengandung, kau mendapatkan apa yang kau inginkan!"


Ya, ibunya tidak bisa memproduksi bayi lagi. Rahimnya terpaksa diangkat saat melahirkan Grace dan Gavin.


"Kau memiliki kekasih?" Bella menatap putrinya dengan kernyitan di dahi. Jika putrinya itu dekat dengan seseorang ia pasti tahu. Tidak ada yang bisa Grace sembunyikan darinya. Selain ibu dan anak, mereka adalah dua sahabat yang saling berbagi rahasia. Rahasia mesum tepatnya.


"Belum. Kau orang pertama yang akan mengetahuinya. Untuk itu bujuklah Daddy agar mengizinkanku bekerja di perusahaan Oscar. Ayo, Mom, lepaskan bajumu. Kita akan lihat seliar apa dirimu di balut kain tipis ini. Aku juga membeli beberapa lingerie untuk Helli. Haiis, Gavin pasti sangat senang."


"Kau benar. Mommy juga tidak sabar. Hm, tolong kau tabur aroma terapi di dalam toilet. Sebentar lagi Daddy akan pulang. Mom harus wangi dan cetar."


"Oke! Berikan aku kejutan sebelum suami mengagumkanmu itu terpana melihat keseksiianmu, Mom!"

__ADS_1


Grace berlari ke dalam toilet, mengisi bathtub dengan air hangat lalu menuangkan aroma terapi sesuai permintaan ibunya. Aroma yang sangat khas. Ia saja sangat menyukai wangi ibunya, apalagi ayahnya.


Selesai melaksanakan tugasnya, ia pun segera keluar dari dalam toilet.


"Oh, sial! Apa yang kalian lakukan?!" Grace memekik kesal. Ayah dan ibunya sedang bercumbu dengan sangat liar. Glend mengukung tubuh istrinya di sudut ruangan. Mengunci pergerakan wanita itu.


"Aku mendengar suara Grace," Glend menjauhkan bibirnya dari leher istrinya.


"Aku sudah mengatakan tahan. Dan kau langsung menerkamku! Aku ingin mengatakan jika Grace ada di dalam toilet!"


"Menyebalkan! Aku ingin menikah!" Grace menarik ayahnya menjauh dari tubuh ibunya.


"Lupakan apa yang kau lihat," Glend dengan entengnya berucap seraya menaikkan tali lingerie istrinya yang begitu menggoda. "Salahkan lingerienya. Mommy-mu terlihat sangat wow!" Glend menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, salah tingkah dengan tatapan putrinya yang seolah ingin membunuhnya.


"Bagaimana aku bisa melupakannya jika kau selalu berbuat mesum kepada Mommy!"


"Mommy senang jika Dad berbuat mesum, honey." Glend merangkul bahu putrinya, membimbingnya keluar dari kamar.


"Kau mengusirku, Dad!"


"Ya, ini kamar kami dan kau memiliki kamar sendiri."


"Kau ingin mengurung Mommy di dalam?"

__ADS_1


"Ya." Glend menutup pintu tepat di depan wajah putrinya. Salahkan Bella yang menyajikan pemandangan aduhai disaat ia pulang bekerja. Hei, ini makanan pembuka yang sangat manis untuk makan malam.


"Mesum!" Grace berteriak sembari menghentakkan kaki dengan kesal, segera meninggalkan kamar orang tuanya.


__ADS_2