
Helli melihat Gavin sudah berpakaian rapi, menyusun kotak makan ke dalam sebuah tas kecil. Pria itu terlihat segar, tidak seperti Helli yang terjaga sepanjang malam. Ia tidak meminum obat tidurnya sama sekali dan ia tidak juga tidak memejamkan mata walau hanya sesaat. Khawatir gangguan tidurnya merecoki Gavin kembali. Ia merasa tertekan. Ia tahu itu. Jadi yang ia lakukan sepanjang malam adalah membaca skrip yang akan ia lakoni nanti. Betapa leganya ia mengingat hari ini fokusnya akan teralihkan oleh pekerjaan. Ia hanya berharap semoga Calvin tidak membuat ulah.
Hentikan memikirkan Calvin untuk sementara. Yang harus ia lakukan saat ini adalah menghadapi pria yang ada di bawah sana. Helli melanjutkan langkahnya, menuruni tangga tanpa melepaskan tatapannya dari Gavin. Apakah dia sedang menyiapkan bekal untuk Mona? Pertanyaan yang menyerang hati dan pikirannya justru membuat moodnya memburuk.
Mendengar suara langkah kakinya, Gavin mengangkat kepala. Manik keduanya beradu dan gravitasi seakan sedang berhenti. Mereka saling menatap untuk waktu yang bisa dikatakan cukup lama dalam suasana canggung yang sedang mereka alami akibat insiden tadi malam. Helli lah yang pertama kali mengalihkan tatapannya. Percayalah, diamnya Gavin justru semakin mempertegas ketampanan pria itu.
"Addrian menghubungiku. Syuting hari ini masih di pelabuhan. Kau harus sudah sampai di sana dalam waktu 45 menit," Gavin melihat jamnya sebelum memasukkan satu botol susu ke dalam tas bekal. Semuanya sudah masuk. Gavin menentengnya di tangan kiri lalu mengambil satu potong roti yang sudah dikasih toping.
"Lordes baru datang jam sepuluh pagi," Gavin memasukkan roti ke dalam mulutnya sembari berjalan mendekati Helli. "Buka mulutmu," Perintahnya. Helli bergeming. "Kau mau membuka mulutmu atau aku yang akan bertindak membuka mulutmu?"
Mau tidak mau, Helli membuka mulutnya.
__ADS_1
"Lebih lebar,"
Helli melakukan perintah pria itu. Selanjutnya, maniknya membeliak karena Gavin memasukkan sisa roti pria itu ke dalam mulutnya.
"Kunyah yang benar. Kau tidak akan sempat sarapan. Sarapan lah di dalam mobil. Aku sudah membuatnya." Gavin mengangkat tas bekal yang sudah ia siapkan tadi. Spontan kedua sudut bibir Helli tertarik. Gavin membuat sarapan untuknya, bukan untuk Mona. Ah, Helli merasakan debaran jantung tidak terkendali. Mendadak kakinya terasa seperti jeli. Ia melayang.
"Aku akan mengantarmu sebelum pergi bekerja, tetapi aku mungkin tidak bisa menjemputmu. Aku harus menemani Mona."
"Ayo," Gavin menarik tangan Helli keluar dari rumah.
Seperti biasa, ia membuka pintu penumpang untuk Helli. Katakan, siapa yang tidak akan jatuh cinta dengan sikap manis nan hangat yang ditunjukkan pria itu. Helli akan menjawab, tidak akan ada wanita yang bisa lolos dari pesona pria itu. Untuk itulah ia berani bertaruh bahwa Gavin akan mendapatkan Mona kurang dari waktu satu bulan.
__ADS_1
"Nikmati sarapanmu, Nona." Gavin meletakkan tas bekal di atas pangkuan Helli begitu ia duduk di belakang setir kemudi.
"Apakah sarapan kali ini ditemani panda yang sedang babak belur?" Helli bertanya. Gavin sepertinya sudah melupakan kejadian tadi malam.
Gavin menggeleng, "Bukalah. Ini spesial."
Helli mengeluarkan kotak bekal, membukanya secara perlahan. Tidak ada panda di sana. Baik yang sedang babak belur atau pun bentuk panda lainnya. Sarapan yang dibuat Gavin tidak berbentuk hewan lucu yang menggemaskan.
Sarapan kali ini berbentuk hati yang sangat besar. Di atas hati tersebut ditulis kata sorry. Helli merasa terenyuh, sebelumnya banyak yang sudah melontarkan kata-kata tidak sedap kepadanya, tapi tidak seorang pun yang mau membuang-buang waktu untuk meminta maaf kepadanya walau hanya sekedar basa basi.
Jika sudah begini, apakah Helli mampu menolak permintaan maaf pria itu. Jawabannya, tentu saja tidak! Bahkan andai Gavin tidak meminta maaf, Helli sudah memaafkannya. Apa pun kesalahan Gavin, ia tidak bisa marah atau pun membenci pria itu. Katakanlah dia gila. Ya, bukankah cinta memang gila.
__ADS_1
"Maafkan aku, Helli."