
"Kau pulang?" Glend dan Bella menyambut kehadiran Gavin. "Duduklah," Glend menepuk kursi di sebelahnya.
"Kau terlihat lelah? Mom akan membuatkan teh untukmu." Bella mengusap kepala putranya dengan penuh kasih sayang.
"Terima kasih, Mom." Gavin menahan tangan ibunya dan memberikan kecupan hangat di sana.
"Tinggallah untuk makan malam, Mom akan memasak makanan kesukaanmu." Gavin menganggukkan kepala tanda setuju.
"Apa yang kau bawa?" Glend bertanya begitu hanya tinggal mereka berdua.
"Dokumen, aku mengalami kesulitan untuk mempelajarinya, Dad." Glend mengambil alih dokumen tersebut. Membacanya untuk sesaat lalu meletakkannya di atas meja.
"Kudengar rapatmu berjalan sukses. Felix juga mengatakan kau mengalahkannya dan memenangkan tender."
Gavin mengangguk tanpa semangat. Sudah dikatakan memenangkan tender tidak akan membuat hatinya meletup-letup bahagia.
"Bagaimana liburanmu bersama Mona?" Glend mengubah topik.
"Menyenangkan," sahutnya singkat.
Glend menganggukkan kepala begitu mendengar jawaban singkat sang anak.
"Jadi kau dan Helli memutuskan untuk mengakhiri hubungan kalian?"
"Apa yang akan diakhiri disaat kami tidak pernah memulai hubungan."
"Pertunangan palsu juga bisa dikatakan suatu hubungan, Dude."
__ADS_1
"What?! Hubungan palsu?!" lengkingan suara Grace terdengar membahana. "Apa aku salah mendengar? Aku bertanya-tanya, kenapa kau dan Helli tidak pernah terlihat lagi di media. Ternyata ini hanya hubungan palsu dan sudah berakhir. Itukah alasanmu untuk bersama Mona? Kau mengakhiri hubunganmu dengan Helli demi untuk bersama Mona?"
"Ini tidak ada hubungannya dengan Mona, Gre. Helli dan aku sudah membicarakan ini baik-baik."
"Ya, baguslah. Helli terlalu baik untukmu." Grace melayangkan tatapan kesal kepada Gavin. "Tidak usah mengajakku makan malam, aku sedang kesal pada playboy kardus seperti putramu, Dad!" Grace menghentakkan kakinya dan berlari kembali ke dalam kamarnya.
Gavin menghembuskan napas kasar. Glend menepuk pundak putranya. "Helli memintaku mencari pengacara, apa dia memiliki masalah?"
Gavin terkejut mendengar hal itu. Untuk apa Helli mencari pengacara? Ah, sudah lebih dari 40 hari ia tidak melihat Helli. Karir wanita itu kembali melambung. Gavin sering melihatnya sebagai model suatu produk. Beberapa kali ia juga melihat Helli bersama Rusell melakukan wawancara.
"Aku tidak tahu, Dad. Mungkin dia perlu perlindungan hukum untuk kontrak yang sedang ia sepakati."
"Kau sudah pernah bertemu dengannya?"
Gavin menggeleng, "Dia sibuk dan aku juga begitu."
Gavin hanya tergelak. Tanpa mereka sadari, Mona ada di sana mendengar semua perbincangan mereka tentang tunangan palsu itu. Betapa bahagianya wanita itu mengetahui hal itu. Gavin hanya miliknya.
Dengan langkah ringan ia meninggalkan kediaman Vasquez. Tadinya ia ingin mengajak Grace ke salon. Ia tidak menyangka jika harus mendengarkan hal menyenangkan seperti ini.
Mona melajukan mobilnya, menuju lokasi syuting untuk bertemu dengan Helli.
Sampai di lokasi syuting, Mona melihat Helli sedang berdebat dengan Lonela. Ia tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan keduanya karena jarak yang cukup jauh. Tidak berapa lama, Lonela pergi begitu saja.
"Helli,"
Panggilan Mona mengurungkan niat Helli yang hendak berbalik. Ia sedikit terkejut melihat kehadiran Mona, matanya tanpa sadar mencari keberadaan sosok seseorang.
__ADS_1
"Gavin tidak ikut." ucap Mona seolah tahu apa yang sedang dicari olehnya.
Wajah Helli bersemu merah menahan malu seperti pencuri yang tertangkap basah.
"Bisakah kita bicara?"
Helli mengangguk dan mengikuti Mona untuk masuk ke dalam mobil wanita itu. Mona menolak saat Helli menawarkan agar mereka berbicara di resto sambil minum teh.
"Aku sudah tahu tentang pertunangan palsumu dengan kekasihku."
Helli merasa terhempas oleh kata palsu dan kekasih.
"Oh." Hanya kata itu yang tercetus dari mulut Helli.
"Oh?" Mona mengulang gumaman Helli.
"Apa Gavin yang mengatakannya?" Helli menyesal melontarkan pertanyaan itu karena pada kenyataannya ia tidak siap mendengar jawabannya.
"Ya. Gavin yang mengatakannya. Segeralah lakukan klarifikasi, karena pertunangan palsu kalian yang belum berakhir menghambat rencana pernikahan kami."
Menikah? Akh! Helli seperti kapal di tengah lautan, terombang ambing oleh ledakan perasaan yang mengejutkan. Kepalanya mulai pening, pertengkaran dengan ibunya membuat hatinya terluka. Ditambah dengan kabar bahagia yang baginya bagaikan mimpi buruk.
Harusnya ia bahagia untuk seorang teman, bukan? Tidak, ia tidak bisa bahagia. Hatinya luluhlantah, hancur berantakan.
"Apa masih ada yang ingin kau katakan?" tanya Helli dengan menjaga nada suaranya agar terdengar tetap tenang. "Aku masih banyak pekerjaan."
"Menjauh dan lakukan klarifikasi."
__ADS_1