My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Jangan Menyentuhnya


__ADS_3

"Kami mengakhirinya." Mona mengumumkan begitu ia dan Gavin berada di dalam mobil.


"Tepatnya aku yang mengakhiri," imbuhnya lagi.


Mona merasa sakit hati, tapi ia juga merasa lega. Rusell juga menerima keputusan Mona tanpa banyak bicara. Pria itu meminta maaf karena sudah bermain api di belakangnya.


Rusell sadar bahwa Mona tidak sepenuhnya bisa disalahkan. Harusnya ia juga menegur Mona jika mulai merasa tidak nyaman saat Mona selalu berbicara tentang Gavin. Tapi kembali lagi kepada takdir, mungkin memang bukan jodoh.


"Kau ingin menangis? Ingin kupeluk? Kutepuk atau kuusap?"


Mona menggelengkan kepala. Seutas senyum tipis terbit di wajahnya. "Kau meninggalkan Helli, apa tidak masalah?"


"Dia masih ada pekerjaan. Aku akan menjemputnya nanti."


Mona terdiam. Pernikahannya gagal dan pria yang ia inginkan menemani hidupnya di masa tua memiliki seorang tunangan. Benar-benar nelangsa.

__ADS_1


"Jadi Rusell menerima begitu saja kau mengakhiri hubungan kalian?"


"Ya, apa yang bisa ia katakan saat ia sudah tertangkap basah. Rusell juga setuju jika hubungan yang sudah ternoda tidak bisa membaik lagi. Akan selalu membekas yang kelak bisa menjadi boomerang tersendiri. Katakan, Gavin, apa kau dan Helli sudah merencanakan pernikahan?"


"Tidak, kami belum membicarakan hal itu. Kau baik-baik saja?"


"Hmm, aku baik-baik saja. Aku merasa lega."


"Tidurlah, aku akan membangunkanmu nanti setelah sampai."


Setelah mengantar Mona, Gavin pergi menyambangi bengkelnya. Apa beberapa mobil yang harus ia periksa. Salah satunya mobil Ferrari klasik yang ia menangkan dari Darren. Ia akan membawa mobil itu ke rumahnya, menambah koleksinya di garasi.


Hampir empat tiga jam ia menghabiskan waktu di bengkel. Ferrarinya sudah selesai diservice. Saatnya membawa pulang. Alih-alih pulang ke rumah. Gavin justru membawa mobil antiknya itu menuju lokasi syuting.


Sebagai tunangan dari Helli Lepisto, Gavin diizinkan melewati pos sekuriti tanpa pertanyaan. Baru saja ia hendak menanyakan di mana tunangannya yang cantik, matanya yang tajam menangkap sosok itu. Helli melintasi bangunan-bangunan di pelabuhan. Rambut blondenya yang panjang terbang diterpa angin. Gavin menikmati pemandangan itu. Laut, keindahan, cantik, seksih, benar-benar perpaduan yang sempurna. Helli terlihat sangat luar biasa. Bibir Gavin membentuk sebuah senyuman, decakan kagum berkumandang dari benaknya. Senyum di wajahnya mendadak memudar begitu melihat Calvin datang menghampiri Helli dengan langkah cepat.

__ADS_1


Hanya mengamati cara Calvin berjalan, membuat Gavin mengertakkan rahang. Calvin terlihat seperti pria berkuasa yang memuakkan. Gavin masih bergeming, mengawasi dari tempatnya. Mengira Calvin dan Helli hanya akan berbincang. Namun, di detik selanjutnya ia dibuat terpaku dan marah saat Calvin si penindas bodoh itu mencengkram lengan Helli. Memutar tubuh wanita itu lalu mendorongnya dengan kasar ke dinding.


Helli terlihat panik dan memberontak. Kedua tangannya membentuk kepalan dan meninju dadaa Calvin. Pria itu tidak terpengaruh sama sekali. Terlihat jika Calvin menahan pergerakan Helli. Helli semakin meronta-ronta ketika Calvin menarik rambut Helli hingga kepala gadis itu dipaksa mendongak. Di situ Gavin naik darah.


Dengan hati panas dan meradang, Gavin berlari meninggalkan mobilnya dan melewati pagar pembatas area syuting hingga celananya sobek di bagian lutut dan menciptakan luka goresan di sana. Gavin semakin melarikan kakinya tatkala melihat Calvin semakin menarik rambut Helli lalu mencium gadis itu.


Gavin menyerbu Calvin sambil menggeram marah, menariknya menjauh dari Helli seperti menarik anjing liar lalu melayangkan tinju dengan keras ke sisi wajah pria itu. Calvin hampir saja jatuh, tapi pria itu berhasil membuat tubuhnya tegak kembali.


Tidak terima dengan serangan mendadak dari Gavin, Calvin menyerang balik sambil mengerang. Dalam waktu beberapa detik, kedua pria itu sudah berguling-guling di atas tanah yang berdebu. Tetapi Gavin yang lebih muda dan jauh lebih bugar jelas mengungguli pertarungan itu. Ia pun segera bangkit lalu memiting lengan si sutradara itu ke belakang punggung dan mendorong wajah Calvin ke tanah.


"Jangan pernah menyentuhnya lagi, keparat!"


Darahnya menderu penuh amarah dan ia menyadari jika dirinya nyaris kehilangan kendali lebih dari apa yang pernah ia rasakan seumur hidup.


"Jika kau mengancamnya atau menatapnya dengan cara yang salah, aku tidak akan segan-segan menghajarmu, bangsyat!"

__ADS_1


__ADS_2