
"Tolong tutup pintunya saat kau keluar." Helli memiringkan tubuh memunggungi Gavin, memejamkan mata berpura-pura tidur.
Tentu saja Gavin tidak akan pergi. Dia hanya bergeming selama Hellli diam.
Helli yang menghitung seratus anak monyet di dalam hatinya memilih menyerah setelah tidak mendengar bunyi pintu ditutup.
Perlahan dia berbalik, menemukan wajah Gavin yang ditekuk, perpaduan antara kesal juga khawatir.
Helli mendesaah, sadar betul bahwa dirinya tidak akan bisa benar-benar marah pada sosok pria seperti Gavin, selain tengil, keras kepala, pemaksa, pemarah, tidak dipungkiri jika Gavin adalah pria yang penuh perhatian. Mengetahui dirinya sedang sakit, Gavin tidak akan mungkin tega meninggalkannya. Sesungguhnya sikap Gavin yang seperti itu membuat wanita yang tergila-gila kepadanya terjebak. Seperti yang dirasakan Helli saat ini.
"Kakimu tidak lelah berdiri seperti patung di sana?"
"Kau sakit?"
"Duduklah."
"Perutmu kambuh?"
"Kapan kau datang?"
"Wajahmu pucat sekali. Kau melewatkan sarapan pagi?"
"Aku melihat pakaian yang kau kenakan masih sama sejak kemarin."
Gavin menunduk memperhatikan penampilannya. "Aku tidak bisa tidur," pria itu perlahan mendekat dan duduk di tepi ranjang.
"Aku minta maaf atas perkataanku yang sangat keterlaluan," tatapannya menyiratkan penyesalan yang begitu mendalam.
"Memang sangat keterlaluan," Helli bergumam membuat Gavin semakin merasa bersalah.
"Aku salah."
"Kau memang salah. Aku tidak seperti yang kau tuduhkan."
"Maafkan aku."
Helli menyunggingkan senyum tipis, tidak ada gunanya memperpanjang masalah. Gavin juga sudah mengakui kesalahannya.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku datang untuk meminta maaf. Jadi, kenapa kau bisa sakit begini?"
"Entah lah, perutku tiba-tiba melilit, kepalaku pusing dan kakiku terkilir."
Gavin langsung menarik selimut yang menutupi tubuh Helli dan melihat pergelangan kaki kiri Helli yang sudah mulai membengkak.
"Apa yang terjadi dengan kakimu? Aku bisa menciumnya agar bengkaknya hilang."
Helli memutar bola matanya, Gavin kembali pada mode perayu menyebalkan.
"Rayuanmu mengandung racun mematikan, Gavin. Aku belum siap untuk mati. Pergilah mandi, wajahmu sangat tidak enak untuk dilihat."
__ADS_1
Gavin tertawa membenarkan apa yang dikatakan Helli. "Aku akan mengobati kakimu setelah aku mandi. Istirahatlah selama aku mandi."
Helli menganggukkan kepala dan Gavin pun segera keluar dari kamar.
Setengah jam kemudian, Gavin masuk kembali ke kamar. Helli yang sedang membaca buku mengalihkan tatapannya begitu mendengar pintu dibuka. Keduanya saling melempar senyum.
"Kau terlihat lebih segar dan lebih menawan," Helli melayangkan pujian apa adanya. Gavin mengenakan pakaian santai, kaos putih dipadukan dengan celana biru. Benar-benar sangat tampan.
"Apa yang kau bawa?"
"Perlengkapan untuk mengompres bengkak di kakimu." Gavin duduk di tepi ranjang, menyingkap selimut Helli untuk memberikan perawatan pada pergelangan kaki gadis itu.
"Bagaimana ini bisa terjadi?"
"Perutku tiba-tiba melilit, kepalaku pusing dan aku mengenakan sepatu yang cukup runcing. Aku kehilangan keseimbangan dan terjadilah seperti ini."
Mulai menekan waslap ke atas bengkak di kaki Helli. Gadis itu meringis menahan sakit, tidak melayangkan protes atau rengekan manja yang biasa dilakukan gadis-gadis yang dikencani Gavin sebelumnya.
"Kakimu sudah cukup panjang. Jenjang dan indah. Kenakan sepatu yang nyaman dan tidak membuatmu celaka."
"Aku harus tampil maksimal. Rusell membayarku cukup mahal."
"Kapan kerjasamamu dan dia berakhir?"
"Kerjasama kami baru dimulai, Gavin. Ada apa?"
Gavin menahan mulutnya agar tidak berteriak di depan wajah Helli agar membatalkan kerjasama dengan pria itu. Gavin masih kesal mengingat cara Rusell menantang dan membuatnya kesal. Entah mengapa, baginya Rusell seperti ancaman.
"Addrian mengatakan dia akan memberikan pekerjaan baru untukmu. Kenapa tidak bekerja dengannya saja. Addrian akan membayarmu lebih mahal."
"Kenapa kau menggeleng, kau meragukan Addrian?"
"Syuting film sangat melelahkan. Sepertinya menjadi model lebih cocok denganku. Cukuplah film Gairah Pria Tua menjadi film perdana dan terakhirku."
"Ck! Aku kesal sendiri mendengar judulnya. Kapan tayangan perdananya?"
"Kau akan menontonnya?"
"Tentu saja. Aku tunanganmu."
"Drama pertunangan palsu ini sudah berakhir, Gavin. Kau tidak perlu melakukannya dengan sengaja muncul di penayangan perdananya."
Aku tidak ingin merepotkan dan melibatkanmu lagi. Bisa-bisa namamu tercemar dan Mona juga akan sakit hati.
"Aku masih tunanganmu selama dua bulan lagi. Begitulah perjanjian kita."
"Perjanjian itu tidak berarti apa-apa. Kita bahkan sudah berulang kali melakukan pelanggaran. Tidak ada sentuhan, tapi kita bahkan bercin... berciuman berulang kali. Kau harusnya membayar denda karena sudah menyentuhku!"
"Ck! Kau juga menikmatinya dan menyukainya."
"Aku tidak akan menyangkal hal itu," aku Helli dengan ringan.
__ADS_1
"Aku juga menikmatinya," Gavin pun ikut memberikan pengakuan.
Helli tertawa renyah, "Aku tahu. Akan sangat mengherankan jika kau tidak menikmatinya. Aku akan merasa menjadi manusia paling buruk jika kau tidak terkesan dengan apa yang sudah kita lakukan. Bahkan si lembayung ungu bisa membuatmu bertahan satu bulan."
"Lembayung ungu?"
"Mantan kekasihmu. Sepertinya kita harus berterima kasih kepadanya, Gavin. Berkat wanita itu kita bisa menjadi tunangan juga berteman."
Gavin mengerutkan keningnya. Ia benar-benar lupa siapa mantan kekasihnya yang bernama lembayung ungu.
Helli yang menyadari gelagat pria itu langsung mendengus.
"Kau melupakannya? Benar-benar defenisi pria bajiingan."
"Ayolah, Helli, ucapkan selamat tinggal sebelum fajar menjelang."
"Ya, ya, akan kuingat hal itu. Bagaimana hubunganmu dengan Mona?"
"Ya begitulah."
"Kau dan dia akan bertunangan?"
"Bertunangan?" Gavin mengernyit tidak mengerti. Namun perbincangan itu harus berhenti karena ponsel Gavin berdenting.
Mona lah yang menghubunginya dan Helli juga sempat membaca nama yang tertera di sana.
"Jawablah."
Gavin pun menggulir tombol hijau begitu mendapat izin dari Helli. Pria itu memunggungi Helli dan sedikit menjauh darinya.
"Apa kau keberatan jika aku pergi sebentar. Ada beberapa hal yang harus kulakukan." Gavin berkata setelah ia mengakhiri panggilannya dengan Helli.
"Aku tidak menemukan alasan kenapa aku harus menahanmu di sini saat wanitamu sudah memberi perintah agar kau segera menemuinya," ucapan itu dilontarkan Helli dengan senyuman di wajahnya. Namun, ia tidak bisa menyembunyikan kekecewaan yang tersirat dalam nada suaranya.
"Aku hanya sebentar. Aku akan kembali secepatnya. Tetaplah di ranjang dan istirahatlah. Saat kau bangun, aku sudah ada di sini."
"Pergilah temui wanitamu."
"Aku hanya sebentar. Aku janji." Gavin mendaratkan satu kecupan di kening Helli sebelum ia pergi.
Begitu pintu kamar ditutup, Helli menyentuh keningnya. "Kurasa sudah saatnya untuk pergi. Tidak perlu menunggu fajar," Helli menurunkan kakinya perlahan, ia perlu mengambil barang-barang yang ia butuhkan. Ia akan mengambil sisa barangnya kembali setelah kakinya sembuh.
Setelah mengambil barang yang ia butuhkan, Helli menghubungi Rusell untuk menjemputnya. Ia akan meminta tolong kepada pria itu mencari tempat tinggal yang layak dan nyaman. Untuk sementara, Helli akan tinggal di hotel.
"Selamat tinggal, Gavin."
.
.
.
__ADS_1