
"Aku tidak pernah membawa mereka kemari." Gavin membuka pintu yang membuat Helli terkesiap kagum. Pemandangan terbentang melintasi taman ke kebun anggur.
Selama hidupnya, Helli belum pernah melihat pemandangan seindah ini.
"Kau memiliki mata yang bagus. Seleramu tidak kaleng-kaleng. Ini indah dan luar biasa." Dengan enggan Helli mengalihkan pandangannya untuk menatap Gavin. "Kenapa kau tidak membawa wanita-wanitamu kemari?"
"Ini rumahku. Tempat untuk beristirahat dan bersantai."
Gavin melintasi ruangan. Sinar matahari menerpa wajah pria itu. Tanpa merasa jengah atau sungkan, Gavin membuka kancing kemejanya satu persatu dan melepaskan begitu saja hingga celananya bergantung di pinggul ramping pria itu. Memperlihatkan perut maskulin yang berotot.
Helli mengalihkan tatapannya, pemandangan itu terlalu bahaya, mengirim sensasi hangat ke seluruh tubuhnya.
"Kurasa kau sudah keterlaluan."
Gavin menukik alisnya. "Kenapa? Kau tergoda?" Menangkap makna tersirat dalam kalimat yang dilontarkan Helli.
__ADS_1
"Tergoda atau tidak, tapi kurasa yang kau lakukan ini tidak sopan. Aku tidak berniat untuk menyaksikan pertunjukkan telanjanggmu."
Gavin tergelak, "Jadi posisiku ini memang mengganggumu?" Gavin memandanginya. menilainya dengan tatapan malas dan seksih yang benar-benar khas pria itu hingga Helli merasa kulitnya terbakar.
"Aku mau mandi."
"Kau mengusirku karena tidak tahan melihatku, ya?" Goda pria itu semakin menjadi.
"Astaga, aku seorang model yang terbiasa melihat perut berotot seorang pria yang jauh lebih seksih darimu. Tunjukkan kamar mandinya."
Helli menarik salah satu kopernya. Ia perlu mengambil perlengkapan mandinya, Helli menariknya dengan menggunakan tenaga dalam yang justru mengakibatkan tutupnya terbuka karena muatan yang terlalu banyak dan penyusunan yang tidak rapi. Barangnya berserakan ke lantai. Pakaian dalamnya tercecer di sana dari berbagai warna dan model.
Gavin tersedak, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pria itu salah tingkah sementara Helli memungutinya dengan santai. "Karena terburu-buru, aku tidak menyusunnya dengan rapi. Tidak usah merasa canggung begitu, aku yakin kau sudah terbiasa melihat dalamaan seperti ini."
Gavin dibuat tertegun. Apa yang dikatakan Helli benar adanya. Tapi ia selalu bersikap biasa saja dengan hal itu. Kadang-kadang ia bahkan merobeknya begitu saja, dan kadang-kadang ia melemparnya hingga teman wanitanya kesulitan mencarinya. Tapi ia tidak peduli dengan itu semua, karena begitu fajar tiba, ia sudah tidak ada di ranjang hotel dan tidak menyaksikan kepanikan para wanita tentang perkara dalaman mereka yang raib.
__ADS_1
"Katakan padaku, apa warna favoritmu? Apakah wanita yang bernama Violet itu adalah wanita yang kau kencani terakhir kali sebelum kita bertunangan."
"Kurasa begitu," Gavin sesekali melirik tangan Helli yang memunguti pakaiannya. Ada warna merah, hitam, putih, gold, tosca, pink... Gavin segera menggeleng, mengenyahkan pikiran mesumnya yang justru mengabsen warna pakaian dalaam Helli.
"Aku suka merah dan hitam," spontan ia menggigit lidahnya. Apakah penting mengatakan hal itu pada Helli.
Helli yang kebetulan memegang dalaman berwarna merah menghentikan gerakan tangannya. Ia membentangkan miliknya membuat Gavin tersedak hingga telinganya merah. Kegilaan wanita itu tidak sampai di sana, Helli berdiri dan menghampiri Gavin. Meletakkan dalaman itu di tubuhnya. Dalaman berenda yang sangat seksih! Sial, sempat-sempatnya Gavin memikirkan hal itu.
"Kau lihat, aku tidak cocok memakainya," Helli meletakkan bra tersebut di dadanya. Untung saja kegilaannya hanya sampai di sana, tidak meletakkan kain segitiga tipis di pahanya. Bisa-bisa Gavin pingsan berdiri.
"Ini terlalu cerah dan menantang. Hanya orang-orang yang berani yang memakainya. Aku belum pernah memakainya. Kau lihat, merk-nya masih ada di sini. Ini limited edition, ambillah, hadiahkan untuk wanitamu. Mereka pasti senang. Aku mandi dulu, aku menghitung dalamanku, jangan mencurinya saat aku sudah menyedekahkannya padamu satu pasang yang terbaik!"
Aku bahkan bisa membeli brand dan tokonya, Helli Lepisto!!!
Gavin benar-benar dibuat tidak berkutik, saat mendengar pintu toilet ditutup, ia meluruh ke lantai karena merasa lemas. Helli benar-benar pembuat masalah!
__ADS_1
"Aku seperti pria suci yang polos," Gavin melihat tangannya gemetar menggenggam dalaman merah tersebut.