
"Kelahiranku tidak pernah diinginkan ibuku. Lebih dari 20 tahun hidup, aku tidak tahu seperti apa senyum ibuku? Aku tidak pernah melihatnya tersenyum hingga aku beranggapan, apakah justru kelahiranku ke dunia ini yang merenggut senyumnya?"
Pertanyaan yang terdengar sangat menyedihkan. Gavin tidak mengerti bagaimana bisa kelahiran seorang anak bisa merenggut sebuah senyuman. Ibunya selalu menatap mereka penuh cinta dan kasih sayang, jadi mendengar pertanyaan Helli terasa janggal di telinganya. Ia juga menyukai anak-anak, sangat menyukainya dan ia rasa semua orang juga seperti itu. Anak-anak yang polos, aktif dan menggemaskan. Ia memperhatikan wajah Helli yang cantik, teduh untuk dipandangi, tidak bosan berlama-lama untuk dipandangi. Jika dewasanya secantik ini, bagaimana saat kecilnya? Tidak mungkin sosok seperti Helli bisa merenggut sebuah senyuman.
Banyak yang ingin dipertanyakan oleh Gavin, banyak hiburan yang ingin ia tawarkan, tapi sepertinya saat ini yang diinginkan gadis itu hanyalah untul didengarkan. Jadi, Gavin memilih untuk diam, menunggu Helli melanjutkan jalan ceritanya.
"Aku selalu tinggal bersama ibuku sebelum akhirnya aku memutuskan melarikan diri. Selama itu aku tidak pernah melihatnya tersenyum."
__ADS_1
Helli menjeda ucapannya untuk menghirup napas guna mengisi paru-parunya yang mulai terasa nyeri dan sesak. Ia merindukan ibunya. Sangat. Apa pun yang sudah terjadi diantara mereka, ia tetap merindukan Lonela. Hanya Lonela satu-satunya keluarga yang ia miliki. Haruskah ia menemui ibunya? Bolehkah ia berharap jika ibunya juga merasakan hal yang sama dengan yang ia rasakan? Meski Helli mengetahui jawabannya, itu tidak mengurangi kerinduannya terhadap wanita itu sama sekali.
"Aku sudah melakukan inginnya. Berusaha selalu melakukan yang terbaik. Jika uang adalah sumber kebahagiaannya, selama hitungan tahun aku bekerja terus menerus. Memberikan hasil keringatku kepadanya dengan harapan dia akan tersenyum kepadaku. Tapi ternyata keinginan yang terdengar sangat sederhana itu nyatanya sangat sulit untuk kugapai. Aku terdengar seperti anak yang perhitungan ya?" Helli tersenyum getir.
Gavin hanya bergeming tidak memberikan reaksi apa pun. Pria itu menunggu Helli meluapkan semua yang gadis itu rasakan. Seperti yang Gavin janjikan sebelumnya, mungkin ia tidak bisa memberi solusi tetapi ia bisa menjadi pendengar yang baik. Itulah yang ia lakukan sekarang.
"Haruskah aku memelukmu? Jujur, aku tidak tahu harus menghiburmu seperti apa?" Gavin memang tidak pernah dihadapkan pada situasi seperti ini. Hubungannya dengan wanita hanya sebatas ranjang. Mona, teman wanita yang paling dekat dengannya hanya mengeluhkan tentang berat badannya yang mulai naik, mengeluhkan barang-barang limited yang tidak berhasil wanita itu dapatkan. Dan akhir-akhir ini, Mona hanya mengeluhkan tentang ketegangannya menjelang hari pernikahan wanita itu. Dan tidak satupun dari keluhan wanita yang mampu membuat Gavin melibatkan emosinya.
__ADS_1
Seorang Gavin juga tidak akan repot-repot duduk berjam-jam bersama seorang wanita tanpa melakukan apa pun. Ia akan bosan mendengar keluh kesah partnernya tentang sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan dirinya. Ini berbeda, ia seolah bisa merasakan kegundahan dan rasa sakit yang disampaikan Helli.
"Jangan lakukan itu," Helli menggeleng dengan tegas. "Pelukan akan membuatku nyaman dan lebih rapuh lagi. Aku tidak menyukai orang-orang yang menudingku dengan hal-hal yang tidak benar. Tapi aku lebih tidak menyukai saat seseorang mulai kasihan dan menaruh simpatik kepadaku."
"Teman tidak akan merasa simpatik atau pun kasihan. Tapi teman akan berusaha mengerti apa yang sedang kau rasakan. Berharap pelukannya mampu meredam sedikit kegundahan di hatimu."
Helli menarik tangannya yang sejak tadi digenggam oleh Gavin. Pria itu memperhatikan saat tautan tangan mereka terlepas. Ada ruang di hatinya yang tidak menyukai hal itu.
__ADS_1
"Tetap saja kontak fisik tidak diperbolehkan jika tidak dalam keadaan terdesak. Omong-omong, apa rencanamu untuk menggagalkan pernikahan Mona dan Rusell? Kau ingin aku menjebak Rusell? Aku mungkin bisa memikatnya dengan pesonaku," Helli mengibaskan rambut indahnya dengan gaya yang memang sedikit menggoda.