
Helli sampai di alamat yang diberikan Adrian. Alih-alih menemukan bengkel reyok, kumal, sempit dan jorok, ia justru diberi pemandangan luar biasa. Arena sirkuit. Terlihat beberapa orang yang sedang latihan. Memendarkan pandangan ke segala penjuru, ia tidak menemukan sosok yang ia cari. Tujuannya adalah bertemu Gavin, tunangan palsunya. Ia akan menawarkan negosiasi dan berharap pria itu kooperatif dalam hal ini.
Helli memindai orang-orang yang lalu lalang, menimbang kira-kira kepada siapa ia akan menanyakan kabar tunangannya itu.
"Hm, permisi," Helli mendekati sekumpulan orang yang menonton beberapa mobil yang sedang latihan di sirkuit. Helli mendengar, kelompok pria itu melayangkan masukan dan kritikan tentang kecepatan, ketangkasan dan kelihaian baik si pengemudi maupun mobil yang dikemudi. Ada empat pria dan semuanya kompak menoleh begitu mendengar suara Helli dan detik selanjutnya manik keempat pria itu serempak membeliak kaget.
"Helli Lepisto," pekik salah seorang dari mereka. Pria berkulit gelap berambut keriting itu berdiri dari kursinya. Melayangkan tatapan kagum secara terang-terangan kepada Helli. Ya, Helli Lepisto memang secantik itu. Kecantikannya merupakan ujian, cobaan dan ancaman bagi para pria.
"Aku ingin bertemu dengan Gavin, mobilku sepertinya bermasalah," meski mungkin kebohongan yang ia ciptakan tentang pertunangan mereka sudah tersebar, ia tidak ingin membeberkan kebohongan itu secara langsung di hadapan orang-orang yang mungkin adalah teman Gavin.
"Kau sudah membuat janji?" Celetuk salah seorang yang berbadan tinggi dan lumayan tampan.
What? Membuat janji? Sama si pelayan itu? Hah? Apakah dia seorang gelandangan berkelas yang sok sibuk?
__ADS_1
"Gavin tidak menerima orderan secara sembarangan. Harus ada janji temu sebelumnya, Helli," Si hitam kribo itu menjelaskan dengan wajah tidak enak hati.
"Tidak bisakah kau mengatakan bahwa aku datang. Mungkin dia mengenalku dan bersedia untuk menemuiku,- hmm, maksudku memperbaiki mobilku."
"Dia tidak akan peduli-"
"Please," Helli mengerjapkan mata, memasang wajah memelas. Pria itu tampak ragu, Helli pun mengeluarkan jurus andalannya, menerbitkan seutas senyum menawan.
"Kurasa Gavin tidak akan keberatan jika bertemu dengan seorang wanita cantik," pungkas pria itu yang langsung mendapat tatapan horor dari ketiga pria di sampingnya.
Pria hitam berambut kribo itu yang ternyata bernama Ben hanya menghela napas panjang. Menghadapi kemarahan Gavin baginya tidak masalah dibanding ia harus mengabaikan Helli begitu saja.
"Ayo, Helli, sebelah sini," Ben mengabaikan peringatan temannya. Pria itu justru membimbing Helli berjalan untuk menemui Gavin.
__ADS_1
"Aku masih tidak percaya kau menyambangi Gavin kemari. Omong-omong aku adalah Ben Ginevra. Aku salah satu pengagummu, Helli?"
Helli hanya mengangguk dan menerbitkan senyum bersahaja. Saat ini ia tidak ingin melayani fans dadakan karena otaknya sibuk menyusun kata agar saat bertemu dengan Gavin, kalimatnya tersampaikan dengan sempurna tanpa terlihat murahan dan tidak terkesan memaksa. Judulnya, ia meminta tolong dengan cara elegan.
Ben membawa Helli keluar dari arena sirkuit, memasuki sebuah bengkel yang ternyata masih terhubung dengan sirkuit. Ada beberapa banyak pintu masuk ternyata, dan sepertinya Helli salah mengambil jalan masuk hingga terdampar di sirkuit.
Helli melihat Gavin sedang memeriksa mesin mobil dengan seorang wanita yang menempel dengannya. Tepatnya, dada wanita itu terlihat menempel di lengan Gavin, sementara pria itu terlihat fokus melakukan pemeriksaan.
"Dia adalah Jane, salah satu pembalap di sini," Ben mengabarkan seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Helli. "Dalam minggu ini akan ada balapan, dan Jane salah satu peserta yang akan ikut."
Helli hanya manggut-manggut karena ia tidak mengerti sama sekali. Fokusnya hanya pada Gavin yang mengenakan thsirt putih polos, memamerkan bahu yang lebar dan lengan yang kokoh. Pria itu seolah tidak terusik dengan Jane yang menempelkan tubuh pada pria itu.
Helli memendarkan pandangan. Pemandangan yang cukup mengganggu menurutnya. Ini adalah sebuah bengkel. Alih-alih menemukan foto, lukisan atau poster yang berhubungan dengan otomotif, dinding-dinding bengkel tersebut justru dipenuhi poster para model dengan berbagai gaya. Mulai dari gaya memoyongkan mulut hingga memamerkan bagian tubuh yang dianggap menarik. Ia bahkan melihat, dari sekumpulan foto model tersebut ada foto dirinya di sana. Helli bingung, ini pujian atau hinaan? Sungguh para foto model yang terpampang cukup seksii. Fotonya sendiri terlihat memasarkan sebuah brand parfum ternama dengan konsep alam, di mana laut yang menjadi latarnya. Alih-alih terlihat seperti bengkel, Helli seolah melihat studio yang mengagumi keindahan dan keanggunan.
__ADS_1
Saat Gavin mengangkat kepala, tatapan mereka bertemu. Gavin menukik alisnya, sedikit terkejut dengan kehadiran Helli. Pun kedua sudut bibirnya berkedut menahan senyum lantas ia meninggalkan mobil tersebut, melintasi jarak diantara mereka tanpa melepaskan tatapannya dari Helli. Mencoba menerka-nerka apa yang akan disampaikan Helli kepadanya untuk menyelesaikan kekacauan yang sudah diciptakan gadis pembohong itu.
"Well... sungguh kesenangan tidak terduga melihat dirimu di sini, Angelo mia."