My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Adik Menjengkelkan!


__ADS_3

...•Gavin, mantan tunanganmu dapat pria yang lebih oke darimu. Terlihat cocok, bukan?...


Gavin tidak peduli dengan isi pesan yang dikirim oleh adiknya yang menyebalkan itu. Tatapannya fokus pada foto Helli yang terlihat bahagia. Helli menatap Rusell dengan senyum yang mengembang di wajah.


Apa yang dikatakan Rusell pada Helli hingga gadis itu terlihat begitu bahagia?


Pertanyaan itu membuat mood Gavin terjun bebas. Pagi tadi, Helli dengan pakain minimnya pergi berkencan dengan pria tidak dikenalinya dan kini, siang ini, menjelang sore, Helli sudah bersama dengan Rusell.


Apa begitu mudah baginya berpindah pasangan dari satu pria ke pria lainnya?


Pong!


Pesan dari adiknya kembali masuk. Gavin menggeram hingga giginya bergemeletuk. Tangannya mencengkram erat ponselnya.


Kali ini adik kurang ajarnya itu mengirim kepingan vidio dimana Rusell sedang memotong daging menjadi potongan yang lebih kecil lalu menyerahkan piring tersebut kepada Helli.


^^^•Vin, Selain lebih oke darimu, dia pria yang sangat pengertian dan perhatian. Kau kalah jauh, Gavin! Sepertinya Mona membuang pria bermutu demi pria kardus sepertimu dan kau baru melepaskan berlian demi gadis Xuping aksesoris tembaga yang merupakan tiruan dari berlian. Ini menggelikan. Kalian bertukar pasangan dan benar-benar sangat serasi. Benar-benar cara semesta tidak diragukan. ^^^


Pesan panjang dari Grace diakhiri dengan emot melelet, terbawak dan terkahir dua jari. Benar-benar cara meledek yang sangat totalitas.


"Gavin..." Panggilan Mona, ia abaikan. Ia memutar vidio Rusell dan Helli untuk ketiga kalinya dan ia semakin panas.


"Gavin!"


Mona meninggikan oktaf suranya. Gavin mengangkat kepala, menemukan wajah Mona yang sedang menahan kesal. Mereka berdua juga sedang makan siang bersama. Mona datang membawa bekal ke bengkelnya. Bekal yang dibawa Mona sudah tersaji di atas meja sejak sepuluh menit yang lalu dan Gavin belum menyentuhnya sama sekali.


"Kau mengabaikanku dan juga makanan yang kumasak khusus untukmu."

__ADS_1


Gavin mengalihkan tatapannya pada makanan yang baru ia sadari sudah tersaji rapi.


"Oh," ia hanya bergumam dan tidak ada tanda-tanda ia akan menyentuh makanannya.


"Oh?" Mona membeo dan semakin terlihat kesal. "Hanya 'oh'?"


"Maaf Mona, aku sedang tidak fokus. Jadi kau membeli makanan ini di mana?"


"Beli? Aku memasaknya untukmu. Sengaja memasakanya, Gavin," Mona berkata penuh penekanan.


Gavin kembali mengabaikannya. Kini jemari pria itu sibuk menari-nari di atas layar ponselnya.


•Kau sedang bersama Helli?


Ia mengirim balasan pesan kepada adiknya. Menunggu jawaban dengan tidak sabar.


^^^•Menurutmu darimana aku mendapatkan foto itu, bodoh!^^^


Gavin memaki adiknya dalam hati. Tidak ada sopan-sopannya sama sekali kelinci betina itu kepada saudaranya. Pikir Gavin.


•Kenapa kau bisa bersama mereka? Omong-omong apa yang mereka bicarakan? Rusell melontarkan rayuan gombal atau lelucon konyol?


^^^•Pertanyaanmu aneh sekali. Apa pedulimu. Sudah! Jangan ganggu aku, Rusell mengajak kami menonton dan sepertinya aku sangat lelah. Sepertinya mereka akan pergi berdua. Aku sangat pengertian, bukan?^^^


Gavin refleks berdiri hingga meja bergoyang dan menyebabkan beberapa makanan tumpah, tidak mendengar pekikan kaget dari Mona. Gavin menghubungi adiknya dan Grace si gadis menjengkelkan itu malah mengabaikan panggilannya.


•Grace, adikku yang sangat manis dan cantik. Kenapa kau mudah sekali lelah. Aku akan membeli suplemen untukmu. Sekarang, bersenang-senanglah dengan Helli. Bagaimana jika kau dan Helli belanja. Aku akan memberikan card-ku kepadamu. Kau bebas menggunakannya. Sebanyak yang kau inginkan. Bebas tanpa syarat, adikku sayang.

__ADS_1


Balasan dari Grace datang dalam sekedip mata. Cepat sekali.


^^^•Aku bukan gadis miskin. Dan aku wanita terhormat yang anti sogokan.^^^


Gavin kembali menggeram. Ia melupakan hal itu. Dirinya pria minim akhlak. Gavin kembali menghubungi adiknya dan lengkap sudah kekesalan Gavin, ponsel Grace sudah tidak aktif lagi. Damn!


"Apa yang membuatmu begitu kesal hingga kau menumpahkan makanan tanpa kau sadari," Mona berkata nengan nada lemas, tidak bersemangat. Kesabarannya benar-benar di uji. Gavin akhir-akhir ini memang bersikap menjengkelkan.


Gavin terkesiap, ia melihat meja yang sudah kotor juga baju Mona yang bernoda.


"Astaga! Maafkan aku. Aku..."


"Siapa yang menghubungimu? Kau terlihat fokus pada ponselmu." Mona berusaha menahan kemarahannya meski ia sudah sakit hati atas sikap Gavin yang terkesan mengabaikannya.


"Grace," sahutnya singkat.


"Grace?" Mona tidak percaya. Gavin tidak mungkin sekesal yang terlihat jika Grace adalah orang yang menghubunginya. Mona tahu seperti apa hubungan keduanya.


"Apa yang dikatakannya sehingga kau begitu sangat kesal?" selidik wanita itu.


"Sesuatu yang menjengkelkan," sahutnya acuh tidak acuh. Tidak mungkin juga ia mengatakan kepada Mona prihal Rusell dan Helli yang menghabiskan waktu bersama yang nanti justru membuat wanita itu ketularan kesal yang dialaminya saat ini.


"Sesuatu yang menjengkelkan seperti apa?" Mona masih belum menyerah. Mona masih tidak yakin jika Grace bisa membuat seorang Gavin kesal. Gavin sangat menyayangi Grace dan Grace bukan tipikal gadis yang suka cari hura hara.


"Bagaimana jika kita makan di luar?" Gavin mengalihkan pembicaraan. "Aku minta maaf atas makanannya. Ini pasti sangat enak. Aku ceroboh." Gavin menarik tangan Mona keluar dari kantornya. Ia tidak memberikan celah pada Mona untuk melayangkan protes.


Setelah makan siang dengan Mona ia akan kembali ke rumahnya, menunggu Helli di sana meminta penjelasan.

__ADS_1


Tapi penjelasan untuk apa? Hello?!


__ADS_2