My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Sehari Bersama Dulce


__ADS_3

"Apa Daddy yang menyuruhmu kemari untuk untukku?"


Grace menggeleng, sejak kejadian di toko sepatu, ia belum pernah berjumpa dengan ayah gadis itu dan ia memang tidak berniat untuk berjumpa. Tapi tunggu dulu, jika Dulce tidak memiliki ibu, lantas siapa wanita seksoy yang sedang bersama dengan pria itu waktu?


Ck! Apakah itu penting? Tentu saja tidak! Grace berseru di dalam hatinya.


"Ya, itu hal yang tidak mungkin. Dia pria pemarah yang tidak akan membiarkanku bolos sekolah. Apa kau ingat saat dia mencariku sampai ke pertandinganmu, Gre?"


"Aku tidak akan melupakannya. Aku membuatnya pingsan."


Dulce terkikik setiap mengingat hal itu. Hari itu, ayahnya benar-benar merasa malu juga marah.


"Jadi kenapa kau ada di sini? Kenapa kau menjemputku?"


"Apa hubunganmu dengan Oscar Lawrence?"


"Uncle Oscar? Ah! Kau salah satu kekasihnya?"


Wajah Grace bersemu merah, senyum di wajahnya mekar berseri. Tangannya refleks mendorong Dulce. "Apakah aku terlihat seperti kekasihnya?" ia bertanya malu-malu.


"Aku tidak tahu makanya aku bertanya." Dengan wajah polos khas anak kecil, Dulce menatap Grace. "Kau senang menjadi kekasih Oscar? Dia memiliki banyak wanita," masih dengan kepolosan dan keluguannya, Dulce berucap.


Senyum di wajah Grace raib seketika. Dulce ada benarnya juga. Kenapa dia harus senang menjadi salah satu kekasih Oscar. Ia harus menjadi satu-satunya dan itu adalah misinya.


"Aku bukan kekasihnya. Aku bekerja untuknya."


"Oh ya? Seperti Melisa?"


"Kau mengenal wanita itu juga?" Grace bertanya-tanya apakah saat seusia Dulce, ia sepintar gadis ini.


"Melisa juga sering menjemputku."


"Melisa sekarang tidak bekerja dengan paman-mu," dari sini awal gosip mulai. Di mana-mana Grace selalu menjadi orang yang membuka objek untuk menjadi bahan gosipan. Tipikal wanita yang memang sering menghabiskan waktu di depan televisi menonton berita seputar artis tanah air.


"Aku juga kurang menyukainya. Syukurlah jika Oscar sudah merasa bosan."


Nah, respon positif Dulce membuat Grace semakin semangat.


"Kenapa kau tidak menyukainya?" Grace membuka pintu mobil, mempersilakan Dulce naik dan dengan telaten ia membantu gadis kecil itu memasang sabuk pengaman. Setelah memastikan Dulce aman dan nyaman, ia mengangkat kepala dan menyunggingkan senyum. Dulce dibuat terkesima. Tapi Grace tidak akan menyadari hal itu.


Grace tipikal wanita yang melakukan semuanya tanpa memikirkan reaksi orang lain. Grace melakukan apa yang menurutnya penting dan apa yang menurutnya baik tanpa mengharapkan empati dari orang sekitarnya.


"Jadi, katakan padaku, Dulce, kenapa kau tidak menyukai Melisa?" Ia kembali bertanya setelah duduk di belakang setir kemudi.


"Apakah Tuhan akan marah padaku jika aku menyebut keburukan orang lain di belakang orang tersebut."


"Wah, aku harus jawab apa jika begini." Grace sedikit kecewa dan juga tertohok. Kecewa karena acara gosip ini akan berakhir dan tertohok karena ucapan Dulce si gadis kecil yang sepertinya sangat enggan membicarakan keburukan orang lain. Ck! Helli masih yang terbaik.


"Tuhan tidak menyukai hal yan tercela dan membicarakan orang lain termasuk hal tercela. Baiklah, gadis kecil, kemana kita sekarang?" Grace tidak ingin memberikan pengaruh buruk bagi Dulce dengan terus menggiring Dulce pada pembicaraan yang menjurus ke ghibah.


"Oscar tidak mengatakannya kepadamu?"


"Tidak. Dia hanya memberi perintah agar menjemputmu lalu memintaku menemanimu makan siang."


"Ini belum siang."


"Kau benar. Omong-omong, aku suka bando bulu-bulumu itu. Di mana kau membelinya?"


"Ini kado ulang tahun dari Daddy saat aku berusia 9 tahun."


"Bagaimana dengan bajumu yang terbuat dari bulu angsa itu?" Cuaca sangat gerah, kostum yang dikenakan Dulce memang sedikit aneh. Anak-anak seusianya memang tidak akan menyukai hal semacam yang dikenakan Dulce. Anak-anak cenderung mengikuti trend dan yang dikenakan Dulce jauh dari kata trend. Apa bahasa kerennya? Kamseupay?


"Apakah aku memang terlihat aneh, Gre?" wajah Dulce terlihat murung. Gadis itu melepaskan bandonya lalu memainkan pakaiannya yang bermotif bulu-bulu angsa.


Grace tidak pernah dikucilkan. Ia cukup beruntung karena memiliki keluarga yang harmonis dan hangat, tapi ia bisa mengerti perasaan Dulce.


"Kau ingin aku berkata jujur atau menghiburmu?"


"Aku lebih membutuhkan hiburan."


Grace tersenyum, "Seseorang pernah berkata kepadaku. Abaikan pendapat orang lain jika kau merasa nyaman dengan yang kau kenakan selama itu tidak membuat orang lain merugi. Kau cukup percaya diri. Itu saja." Ia mengutip apa yang dikatakan Helli kepadanya.


"Apakah temanmu yang mengatakannya?"


"Ya. Sahabat dan juga saudariku."

__ADS_1


"Aku juga ingin memiliki teman. Tapi mereka mengatakan jika ingin menjadi teman mereka, aku harus memiliki ibu dan juga harus berpenampilan cantik. Apa aku terlihat jelek, Gre?"


"Kau gadis termanis yang pernah kulihat."


"Kau berbohong?"


"Tidak!"


"Di matamu aku manis?"


"Hmmm."


"Aku ingin terlihat cantik seperti Helli Lepisto. Ah, kau juga mengatakan jika model cantik itu adalah temanmu, bukan?"


Grace menganggukkan kepala, "Ya. Sekarang dia menjadi saudariku."


"Wah, sepertinya hidupmu sangat beruntung. Kau bisa berteman dengannya. Aku begitu mengaguminya. Aku selalu berdoa semoga Daddy berjodoh dengannya. Aku ingin memiliki seorang Ibu yang terkenal."


"Ck! Dengan sangat menyesal aku harus mengatakan bahwa kau harus mengubur mimpimu itu, gadis manis. Helli sudah menjadi saudariku, dia sudah menikah dengan saudaraku dan sedang mengandung keponakanku. Sebaiknya kau mengganti doamu. Omong-omong, kita harus kemana?"


"Kau memang benar-benar beruntung." Dulce tidak menyembunyikan raut kekecewaannya sama sekali. Wajahnya kembali murung dan bersedih.


"Jangan bersedih seperti itu. Suatu hari nanti aku akan mengajakmu bertemu dengannya. Sekarang kita harus kemana?"


"Benarkah? Aku akan menagih janjimu, Gre!" wajah Dulce kembali semangat.


"Aku tidak pernah berbohong."


"Bagaimana jika kita pergi belanja?"


"Belanja?" Grace mengerling jenaka. "Aku suka belanja!"


"Kira-kira kapan aku akan bertemu dengan Helli Lepisto?" Dulce kembali bertanya. Gadis itu benar-benar sangat mengagumi Helli karena kecantikannya. Dulce tidak tahu tentang skandal Helli dan cerita pilu tentang wanita itu. Dulce mengagumi Helli saat melihat foto wanita itu dipajang dimana-mana. Dulce langsung jatuh cinta pada parasnya yang cantik bak dewi.


"Aku harus mengatur jadwal terlebih dahulu. Kau tahu, dia wanita yang sangat sibuk dan suaminya juga sangat posesif."


"Kenapa harus mengatur jadwal segala. Kau tinggal mengajakku ke rumahnya. Bukankah kau saudarinya. Kau pasti bebas keluar masuk ke rumahnya seperti yang dilakukan Oscar di rumah kami."


"Oscar tinggal di rumahmu?"


Lima hari, heh? Itu sama saja Oscar memang tinggal di rumahnya.


"Kita sudah sampai." Grace memarkirkan mobil. Keduanya berjalan memasuki mall sambil bergandeng tangan. Sesekali mereka bergurau. Sesekali mereka melompat-lompat kegirangan dan terkadang mereka berlari sambil berlomba.


Grace dan Dulce masuk ke toko yang satu dan berpindah ke toko lainnya. Ia dan Dulce tidak segan-segan mencoba barang kemudian tidak jadi mereka beli.


"Apa Helli mencinta suaminya, maksudku saudaramu?" Dulce bertanya saat mereka mengantri untuk membeli ice cream.


"Kenapa kau bertanya?" Grace memicingkan matanya menatap Dulce dengan curiga.


"Mungkin saja Helli tidak benar-benar mencintai saudaramu. Jika demikian aku ingin tetap melanjutkan doaku agar suatu hari Helli bisa menjadi ibuku."


"Kekagumanmu kepadanya bukan kaleng-kaleng. Aku harus membuatmu kecewa lagi, Helli mencinta suaminya. Begitu pun saudaraku. Mereka saling mencintai. Bukannya kau juga mengagumiku? Kau mengatakan seperti itu saat di sekolahmu."


"Tidak sebesar rasa kagumku pada Helli."


"Untung saja yang kau kagumi adalah Helli," Grace menyentil hidung Dulce dengan gemas.


"Giliran kita," Dulce menunjuk ke depan. Grace pun segera memesan rasa yang mereka inginkan. Keduanya mencari tempat duduk untuk menikmati ice cream mereka.


"Apa yang akan kita lakukan setelah ini?" Grace mengulurkan tangan untuk membersihkan mulut Dulce dari ceceran ice cream. "Coba kau pegang milikku. Es-mu meleleh kemana-mana." Grace membuka tasnya, mengambil beberapa lembar tisu lalu menyelipkannya di kerah baju gadis kecil itu. "Es-nya tidak akan menodai bajumu. Terima kasih."


"Kenapa kau berterima kasih?" Dulce kembali tersentuh atas perhatian yang diberikan Grace kepadanya. Perhatian tersebut mungkin terlihat kecil dan sepele, tapi bagi Dulce yang haus akan perhatian, tindakan yang dilakukan Grace sungguh sangat berarti.


"Kau sudah memegang es milikku dan melindunginya," ucap Grace dengan senyum hangat.


"Terima kasih juga kalau begitu," ucap Dulce.


"Untuk?"


"Kau sudah melindungiku dari ceceran es yang lengket."


"Bagus." Grace mengusap kepala Dulce dengan lembut. "Selalu katakan terima kasih atas pertolongan orang lain, entah itu besar, kecil, banyak atau pun sedikit."


"Aku akan mengingatnya," Dulce menyahut dengan semangat. Ia memamerkan barisan giginya yang berukuran kecil. "Bagaimana kalau kita ke toko kosmetik."

__ADS_1


"Kosmetik? Apa yang akan kita lakukan di sana?"


"Membeli perlengkapan wanita. Kita harus merawat wajah kita. Kau tidak mendengar bahwa Calista dan teman-temannya mengatakan bahwa aku sangat jelek. Wajahmu juga terlalu kusam, ada beberapa jerawat juga. Kita harus melakukan perawatan."


Dan bisa-bisanya Grace menyetujui ide gadis kecil itu. Mereka membeli beberapa alat kecantikan.


___


"Apakah ini tidak akan bermasalah, Dulce?"


Saat ini Dulce sedang mengoleskan masker ke wajah Grace yang sedang berbaring di atas ranjang. Ya, mereka sedang berada di kamar bernuansa pink dan putih. Dindingnya dihiasi dengan lukisan frozen. Kamar Dulce.


"Harusnya tidak. Kita membeli produk yang bagus. kita sudah membaca petunjuknya dengan benar. Kau membayarnya mahal. Pasti ini produk bagus. Diamlah, nanti maskermu pecah."


Selesai mengoleskan krim masker di wajah Grace, gantian gadis itu yang mengoleskannya di wajah Dulce.


Keduanya lalu menyalakan televisi. Menonton sambil menunggu masker di wajah mereka kering.


"Gre?"


"Jangan berbicara sebelum maskernya kering." Grace mengipas-ngipas wajahnya dengan menggunakan tangan. Ia merasa panas pada kulit wajahnya, perih juga gatal.


"Ouh, baiklah."


"Dulce."


"Jangan berbicara, Grace." Dulce mengutip kata-kata Grace yang baru dilontarkan gadis itu beberapa detik lalu.


"Aku menggerakkan bibirku dengan penuh hati-hati."


"Apakah maskernya tidak akan retak?"


"Entahlah. Apa kau merasakan sesuatu yang aneh di wajahmu? Perih atau gatal?"


"Tadi aku ingin mengatakan seperti itu. Aku merasa kulit wajahku terbakar."


Keduanya lalu saling menatap.


"Dulce Lawrence!!"


Terdengar panggilan yang cukup kuat, membuat kedua gadis beda usia itu sama-sama terkejut dan kompak bangun dari tidur.


"Si-siapa itu?" Kali ini Grace benar-benar menggerakkan bibirnya dengan normal hingga masker di wajahnya tidak kencang lagi.


"Daddy. Sekolah pasti menghubunginya."


"Ayahmu tidak tahu kau pulang dari sekolah?"


"Dia akan memarahiku."


"Apa yang harus kita lakukan?" Grace mendadak panik.


"Menghadapinya. Kita hanya perlu mendengarkan ceramahnya. Menundukkan kepala dan menunjukkan wajah menyesal."


"Astaga." Grace tidak menyangka jika Dulce benar-benar gadis yang pintar. Pintar berakting dan mengelabui.


Dulce segera turun untuk menemui ayahnya. Mau tidak mau Grace pun ikut mengekor.


Grace mengulurkan tangan untuk membuka pintu yang kebetulan juga sudah didorong dari luar.


"Astaga naga!" Damian Lawrence terkejut, hampir terjatuh melihat penampilan dua gadis berwajah putih tepung.


"Siapa kalian?!" Pria itu masih memegangi jantungnya. Bahasa tubuhnya menunjukkan kewaspadaan yang nyata.


"Aku putrimu, Dad. Dan ini Grace."


.


.


.



__ADS_1


__ADS_2