My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Suami Istri Menyebalkan


__ADS_3

Grace menuruni anak tangga sambil bersenandung riang. Senyum bahagia yang masih terlihat sama seperti kemarin mengembang di wajahnya yang cantik. Tangan kirinya diangkat ke udara, memamerkan jemari manisnya yang dihiasi berlian indah pilihan Oscar.


"Ini indah sekali," Ya, pemberian seseorang yang begitu berharga akan selalu terlihat istimewa, apa pun itu. Entah itu barang mahal atau murahan sekali pun. Inilah yang dirasakan Grace saat ini. Ia bahkan bisa membeli perhiasan yang lebih mahal dari yang dibelikan oleh Oscar dan ia juga tahu bahwa Oscar juga mampu membeli cincin yang lebih dari yang ia kenakan saat ini.


"Selamat pagi semua," sapanya dengan riang.


"Selamat pagi, Grace. Tidurmu, nyenyak?" Helli menyambutnya dengan senyuman yang tidak kalah lebar.


"Aku bahkan tidak bisa tidur, Helli. Aku khawatir ini masih mimpi."


Ya, Helli tahu bagaimana perasaan yang sedang dirasakan Grace saat ini. Dia pernah mengalami hal itu. Bahkan saat pertama kali Gavin menciumnya, Helli pun tidak bisa memejamkan mata sama sekali dan saat Gavin menyatakan cinta kepadanya, Helli merasa jika dirinya sedang berada di dalam nirwana.


"Aku berharap ini memang mimpi," Gavin menyeletuk tanpa menghentikan santapan yang tersaji di depannya. Grace dan Helli kompak mendelik ke arah pria itu.


"Apa aku butuh komentar dan pendapatmu? Hais, dia selalu berhasil merusak kebahagiaanku."


Grace merungut sambil menarik kursi untuk ia tempati. Gavin memang orang terakhir yang memberi izin saat Oscar datang melamar Grace untuk menjadi tunangannya. Sementara ayah dan ibu mereka adalah sosok yang menyerahkan semua keputusan kepada masing-masing jika itu menyangkut pasangan hidup.


"Dad, putramu menggangguku!"


"Berhentilah merecoki adikmu, Gav." Glend berseru.


"Kau juga tidak kalah menyebalkan, Dad." Gavin menatap ayahnya penuh permusuhan. "Bagaimana bisa kau memberi izin pada Oscar untuk melamar putrimu disaat mereka baru menjalin hubungan dalam hitungan hari."


"Dua bulan, Gavin!!" sergah Grace dengan pelototan kesal.


"Dua bulan juga masih hitungan hari," Gavin dengan lempengnya menanggapi protes yang dilayangkan Grace.


"Lalu apa yang salah?"


"Salah karena kau memberi Oscar jalan yang begitu mudah."


"Aku mencintainya."


"Ya, aku bisa melihatnya dan itu membuatmu terlihat bodoh!"


"Gavin!!" tiga suara berbeda kompak menyeru. Gavin menatap satu persatu wajah-wajah yang ada di sana. Ayah, ibu, adiknya dan terakhir Helli.

__ADS_1


"Aku tidak menyukai Oscar," harusnya Gavin menjelaskan kepada Grace, bukan kepada Helli. Tapi melihat raut wajah istrinya yang juga sepertinya menahan kekesalan kepadanya, menurutnya penting membuat Helli mengerti. Bisa repot jadinya jika istri cantiknya itu marah. Jurus pamungkas andalan sejuta umat wanita bisa saja keluar. Hais, entah sejak kapan Helli lebih membela adiknya dibandingkan dirinya.


"Grace bertunangan dengan Oscar bukan berdasarkan perasaanmu."


"Kami saudara kembar."


"Apa hubungannya?" Grace kembali menyela.


"Jika kau menyukai seseorang, harusnya aku juga bisa merasakannya."


"Bagaimana bisa kau menyukai Oscar disaat kau dan dia adalah rival dalam pertarungan tercela."


"Nah, itu dia masalahnya. Oscar bukan tipikal pria yang akan mudah berkomitmen, Gre!"


"Apa bedanya denganmu! Kau bukan pria yang lebih baik dari Oscar!" Grace menggantung kalimatnya, ia menatap Helli dengan mimik menyesal yang dibuat-buat, "Maaf, aku harus menghina suamimu. Dia membuatku kesal."


Helli hanya bisa menarik napas panjang, begitu pun dengan orang tua mereka. Tidak akan ada yang bisa menghentikan pertikaian dua bersaudara itu.


"Aku juga meragukan kau akan bisa kembali ke jalan yang lurus. Nyatanya penilaianku salah besar. Kau menyadari perasaanmu pada Helli di detik-detik Helli ingin membuangmu dan dengan beraninya kau bahkan menikahinya di detik kau menyatakan perasaanmu. See, kau dan Helli menikah dan hidup bahagia."


"Kasus kita berbeda."


Gavin terdiam sejenak. Happy ending? Ya, semua orang menginginkan akhir yang bahagia. Gavin pun demikian, ingin adik satu-satunya merasakan kebahagiaan. Selama ini, Grace dilimpahi dengan kasih sayang yang tulus dan besar. Gadis itu belum tahu apa itu yang disebut dengan sakit hati. Sumpah demi apa pun, Gavin tidak bisa membayangkan jika suatu hari nanti Grace dihadapkan pada permasalahan hati yang rumit.


Gavin tidak menampik bahwa selama beberapa bulan ini, perlakuan Oscar kepada Grace sangat baik dan manis. Tapi, Gavin juga sering melakukan hal itu. Pria sepertinya dan Oscar tidak akan menemukan kesulitan untuk mendapatkan wanita yang mereka inginkan. Yang dikhawatirkan Gavin adalah saat dimana Oscar mulai jenuh dengan sikap dan tingkah polos adiknya yang jelas bukan tipe wanita yang membuat Oscar tergila-gila. Kemungkinan bahwa bisa saja Grace merupakan wanita yang tepat bagi Oscar untuk berubah menjadi pria hebat, tapi kemungkinan itu sangat kecil menurut Gavin.


Kemungkinan yang sangat kecil itu justru akan memberikan peluang besar bagi Grace untuk merasakan apa itu sakit hati.


Gavin mungkin berpikir terlalu jauh, tapi itu karena ia begitu menyayangi adiknya. Grace hanya mengenal dua pria dalam hidupnya. Ayah dan saudaranya. Dua pria yang bertekuk lutut di hadapan wanita mereka. Gavin bertaruh bahwa Grace tidak pernah memikirkan bahwa begitu banyak jenis pria di luar di sana.


"Tentu saja. Tidak ada yang lebih kuharapkan selain kebahagiaanmu, Gre," Gavin menarik napas dengan panjang. Haruskah ia mempercayakan semua keputusan kepada Grace seperti yang dilakukan keluarganya.


"Aku bahagia. Oscar pria yang baik."


"Baik bukan berarti tepat."


"Kau menyebalkan. Aku tidak ingin berbicara denganmu!" Grace memalingkan wajah dari Gavin. Wajah cemburutnya menunjukkan kekesalan yang nyata.

__ADS_1


"Sudahi pertikaian ini dan mari menikmati sarapan ini dengan rasa syukur." Akhirnya ibunya bersuara sambil mengusap lengan putrinya.


"Gavin tidak bermaksud tidak menghargai pilihanmu. Dia hanya terlalu mengkhawatirkanmu. Daddy dan Mom percaya bahwa kau bisa mempertanggungjawabkan pilihanmu. Sebuah kisah tidak semuanya berjalan mulus, bahkan Mom belum pernah melihat kisah yang berjalan mulus tanpa ada hambatan dan tantangan. Kisahmu baru saja dimulai, akan banyak krikil yang kau lalui."


"Aku tahu." Grace bergumam pelan walau sebenarnya ia kurang paham dengan apa yang dikatakan ibunya.


"Gavin hanya tidak ingin kau terluka." Ayahnya menambahi. "Tidak satu pun yang ada di sini menginginkan hal itu. Namun, seperti yang dikatakan ibumu, kami percaya pada pilihanmu karena kau lah yang menjalani dan merasakannya. Tidak ada yang bisa mengatur dan memaksa hatimu, bukan?"


"Dia selalu mengatakan bahwa akan menikahi pria yang menatapnya seperti caramu menatap Mom, tanyakan pada putrimu itu, apakah Oscar sudah menatapnya demikian?"


"Dia memujaku, Oscar!"


"Dan tatapan Dad kepada Mom bukan hanya memuja!"


"Jangan bicara padaku!"


"Oke!"


"Kau menjengkelkan!"


"Ya!"


"Helli, malam ini kau harus tidur denganku!"


"Ancam terus."


"Harusnya Helli menikahi pria yang lebih baik darimu!"


"Tidak ada pria yang lebih baik dariku."


"Oh yeah?"


"Kau bisa bertanya kepada istriku."


Grace dengan lugunya menoleh kepada Helli meminta jawaban.


"Gavin yang terbaik, Grace," ucap Helli dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


"Suami istri menyebalkan!!"


__ADS_2