My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Apa Gavin Akan Cemburu?


__ADS_3

Bab 113-114 revisi.


.


.


"Grace, jika kau mengambil sepatu itu untuk hadiahku, sebaiknya kau berikan saja padanya."


Grace menggeleng, "Tidak! Kita yang pertama mengambilnya."


Seorang pramuniaga mendekati mereka, bertanya tentang apa masalah yang terjadi. Grace dan wanita itu memaparkan pembenaran terhadap diri mereka sendiri. Tidak ada yang mau mengalah.


"Temanmu saja mengakui jika aku lah yang berhak memiliki sepatu itu," tuding wanita tersebut yang sempat mendengar bujukan yang dilontarkan Helli kepada Grace.


"Benarkah, Helli? Apakah dia lebih berhak?" Grace menuntut jawaban Helli. Grace tahu Helli pasti akan membelanya, ia sengaja bertanya untuk membuat wanita itu malu.


Helli menggeleng dengan cepat. Mereka sudah menjadi pusat perhatian pengunjung lain. Tidak mungkin Helli menyudutkan Grace, dan memang sebenarnya Grace lah yang pertama kali mengambil sepatu tersebut.


"Temanku lah yang lebih berhak. Dia yang pertama mengambilnya. Aku membujuknya agar bersedia memberikannya kepadamu, Nona. Tapi sepertinya, Grace sangat menyukai sepatu itu jadi kau tidak bisa merebutnya. Carilah sepatu yang lain atau tanyakan pada pramuniaganya apakah ada barang yang serupa."


Sayangnya si pramuniaga mengatakan jika stiletto itu tinggal satu-satunya.


"Aku akan membayarnya tiga kali lipat!" Ucap wanita itu dengan sombong sambil melemparkan tatapan penuh permusuhan kepada Helli dan Grace.


"Ciih! Aku bisa membayarnya lima kali lipat!" Grace meladeni kesombongan wanita itu yang berhasil membuat si wanita itu semakin geram.


Masih tidak menerima kekalahannya, wanita itu menaikkan harga. "Aku akan membayar enam kali lipat dari harga!"


Helli menggaruk tengkuknya, baginya ini sudah berlebihan. Hanya untuk sebuah stiletto mereka harus menjadi pusat perhatian dan harga yang mereka sebutkan sudah tidak sebanding menurutnya.


"Grace, ini sudah berlebihan. Bagaimana jika sebaiknya kita pergi saja."


"Itu artinya kita akan kalah, Helli. Wanita sombong ini harus diberi pelajaran."


"Ada apa ini?"


Suara berat dan seksih seseorang menarik perhatian mereka. Helli dan Grace kompak terkejut melihat sosok tersebut.


"Kau?!" Grace memekik. Pria itu hanya melirik sekilas kepada Grace lalu kemudian kepada Helli dan terakhir kepada si wanita perebut stiletto.


"Damian, aku menginginkan sepatu itu dan wanita itu merebutnya bahkan mendorongku hingga terjatuh," adunya dengan suara merengek manjah yang membuat jiwa julid Grace dan Helli on seketika. Kedua wanita itu saling berpandangan dengan mimik geli.


"Suaranya seperti tikus kejepit," Grace seolah olah sedang berbisik, tapi faktanya semua yang ada di sana bisa mendengarkannya.


Helli hampir saja tertawa jika saja Damian tidak menyorot ke arah mereka dengan sinis.

__ADS_1


"Kau lihat, Damian, wanita itu kasar sekali." Wanita itu lagi dan lagi mengadu.


"Dengar Tuan, aku lah yang pertama mengambil sepatu ini. Helli menjadi saksinya. Istrimu lah yang berniat merebutnya." Grace menjelaskan yang dibenarkan oleh Helli dengan anggukan kepala.


"Oh, jadi kau sungguh Helli Lepisto? Model itu? Aku merasa jika kau memang tidak asing."


"Tentu saja Helli tidak asing. Selain dia cantik dan terkenal, suamimu juga menyimpan posternya."


Damian terbatuk-batuk saat wanita perebut stiletto itu menoleh ke arahnya seakan mempertanyakan kebenaran pernyataan Grace.


"Ambil saja sepatu yang lain, Grenda."


Saat wanita yang ternyata bernama Grenda tersebut hendak melayangkan protes, Damian segera menambahi kalimatnya yang membuat Grenda bungkam.


"Sebanyak yang kau mau."


Wajah Grenda berbinar seketika. Dengan dagu terangkat sombong, wanita itu melewati Helli dan Grace untuk memburu sepatu sebanyak yang wanita itu inginkan.


Kini tinggal Helli, Grace dan Damian di sana.


"Hmm, bagaimana kepalamu?" Helli bertanya setelah keheningan yang sangat canggung.


"Aku tidak melihat ada benjol lagi, Helli. Tentu saja baik-baik saja. Bukan begitu, Tuan."


"Selalu saja berulah," pria itu berdecak seraya menggelengkan kepala kemudian berlalu begitu saja.


"Kurasa juga begitu."


"Dia menakutkan tapi sangat menawan. Kau setuju denganku, Helli?"


"Hmm, aku suka warna matanya.


Helli dan Grace masih memandangi punggung pria itu yang semakin menjauh.


"Bagaimana jika kau merayu dia saja, Helli. Dia hanya berpura-pura bersikap dingin karena malu pada kita yang tahu rahasianya yang menyimpan postermu. Dia lebih menggoda daripada Gavin, aku benar?"


Helli tertawa, entah apa kesalahan Gavih pada Grace hingga adiknya begitu totalitas mengejek dan merendahkannya.


"Menurutmu apa Gavin akan cemburu jika aku merayu pria lain?"


Astaga! Kenapa aku harus menanyakan hal itu?!


"Tentu saja. Kau bersedia merayunya? aku bisa meminta nomor ponselnya untukmu?"


Helli menggeleng dengan segera, bisa-bisa tindakan gegabah Grace menimbulkan masalah baru. Grenda akan menyebut mereka wanita murahan yang akan merebut suaminya.

__ADS_1


"Dia sudah memiliki istri jika kau lupa, Grace."


Grace menepuk jidat setelah mengingat hal itu. "Kau benar. Hais, wanita itu sesungguhnya tidak cocok jadi istrinya tapi apa pun alasannya merebut pria yang sudah memiliki wanita memang bukan hal yang dibenarkan."


"Sebaiknya kita bayar belanjaan kita."


Grace mengangguk, "Kau suka sepatu pilihanku?" ia memamerkan stiletto hitam yang sempat menjadi perkara.


Helli menganggukkan kepala, "Pilihan yang bagus. Sejujurnya, aku sudah takut kau mengalah pada wanita itu. Aku sangat menyukai sepatunya."


"Dan sekarang sepatu ini milikmu. Wanita itu membuatku kesal. Omong-omong, berikan aku nomor ponselmu."


Sebelum Helli sempat berkomentar, Grace sudah merebut tasnya dan mengeluarkan ponsel pemberian Addrian. Grace mengetik deretan angka yang merupakan nomor ponselnya dan menyimpannya di sana.


"Ini sudah sore, bagaimana jika kita makan malam sebelum pulang?"


Helli hanya mengangguk pasrah saat Grace menyeret tangannya keluar dari butik tersebut menuju salah satu resto terdekat.


"Helli," lagi dan lagi panggilan seseorang menghentikan langkah mereka.


Rusell tersenyum lebar begitu pria itu berdiri di hadapan Helli dan Grace.


"Hai," sapa Helli dengan santai. "Apa yang kau lakukan di sini?"


"Acara kantor," Rusell mendorong pintu resto dan menahannya, mempersilakan Helli dan Grace masuk terlebih dahulu.


"Siapa dia?" Grace berbisik di telinga Helli.


"Orang yang saat ini menggajiku. Dia mantan kekasih Mona. Kau tidak mengetahuinya?"


"What?" Grace sedikit kaget, selanjutnya radarnya langsung aktif. Radar jahil yang akan membuat Gavin terbakar.


"Dia lumayan oke juga, Helli. Jadi kau bekerja untuknya?"


Helli menganggukkan kepala. "Aku jadi salah satu model yang memasarkan produknya. Rusell, ini temanku Grace." Helli mengenalkan keduanya begitu Rusell kembali menyejajarkan langkah dengan mereka.


"Grace."


"Rusell."


Keduanya saling berjabat tangan.


"Bagaimana jika kau ikut makan malam dengan kami, Rusell." Grace menawarkan dan Rusell tidak menolak sama sekali.


Saat Rusell dan Helli sibuk berbincang, Grace mengambil foto keduanya dan langsung mengirimnya kepada saudaranya.

__ADS_1


^^^Gavin, mantan tunanganmu dapat pria yang lebih oke darimu. Terlihat cocok, bukan?^^^


__ADS_2