My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Double Date


__ADS_3

"Astaga, kenapa kau membelinya jika kau tidak menyukainya." Helli mendelik kesal. Ia kibaskan rambut panjangnya ke belakang dengan wajah ditekuk. "Kau puas?!"


Gavin tidak menjawab. Ia tidak tenang sama sekali. Tapi seperti yang dikatakan Helli, mereka sudah hampir terlambat. Tidak ada waktu untuk berdebat lagi. Gavin membuka pintu mobil, mempersilakan Helli masuk melalui ekor matanya.


Sepanjang perjalanan kedua insan itu hanya diam hingga akhirnya mobil berhenti di restoran yang terakhir kali mereka datangi. Seperti biasa, Gavin memarkirkan mobilnya di area dilarang parkir. Helli yang sudah mengetahui tabiat buruk pria itu, tidak melayangkan protes sama sekali lagi. Percuma. Tidak akan didengarkan.


"Bagaimana aku harus berlakon?" Helli bertanya sebelum mereka turun dari mobil.


Dari posisi mereka sekarang, Helli bisa melihat jika Mona dan kekasihnya sudah ada di sana. Keduanya sepertinya terlibat pembicaraan menyenangkan. Mona berulang kali tertawa dan tersipu malu.


"Haruskah kita memamerkan kemesraan di hadapan mereka?"


"Jangan melirik Rusel, itu saja."


Gavin segera turun dan mengitari mobilnya untuk membuka pintu penumpang. Ia menuntun Helli turun dari mobil dan menggenggam tangan gadis itu saat mereka berjalan memasuki resto.


"Selamat siang," Helli menyapa begitu mereka sampai di meja yang ditempati Mona dan Rusel.


"Ah, kalian sudah datang," Mona tersenyum sumringah, ia pun berdiri menyambut Helli dan Gavin, memeluk satu persatu. "Rusel, ini sahabat yang kuceritakan kepadamu, Gavin."


Rusel dengan enggan berdiri. Wajahnya kecut tidak bersahabat. Tersirat kewaspadaan di sana. Kartu as-nya dipegang oleh sahabat kekasihnya, mana bisa tenang. Rusel bahkan sudah mempersiapkan diri jika Gavin tiba-tiba membuka mulut tentang affair yang ia lakukan di belakang Mona.


Rusel mengulurkan tangan yang disambut Gavin dengan santai. Lalu pria itu menoleh ke arah Helli untuk bersalaman. "Helli Lepisto?" tanyanya dengan ragu.

__ADS_1


"Ah, kau mengenalku. Ya, aku, Helli. Tunangannya." Helli tersenyum lebar sembari menyambut uluran tangan Rusel.


Wajah Rusel mendadak berbinar. Rasa was was itu sirna seketika. "Astaga, ini suatu kehormatan bisa bertemu langsung dan bahkan bersalaman denganmu," mode buaya pria itu on seketika. Menambah kewaspadaan pada buaya jantan lainnya. Gavin.


"Ah, kau membuatku tersanjung." Helli memegang kedua pipinya, bertingkah seperti remaja polos yang malu karena mendapat pujian tidak terduga.


Gavin mendengus, ingin rasanya ia mencekik Helli. Untuk apa bersikap manis menggemaskan seperti itu?


Ah! Setan penggoda!


"Duduklah," Rusel menarik kursi di sisi kirinya. Buaya yang sangat gentelemen. Gavin kembali mendengus, harusnya dirinya yang melakukan hal itu pada Helli.


"Terima kasih."


Keempatnya pun terlibat pembicaraan random. Tepatnya, Helli terlihat sibuk berbicara dengan Rusel dan Mona dengan Gavin. Keempat manusia itu terlihat seperti sedang bertukar pasangan.


Seorang pelayan datang mengantarkan makanan mereka yang ternyata sebelumnya sudah dipesankan oleh Mona. Pembicaraan mereka terhenti sejenak.


Helli tidak berniat untuk makan sama sekali. Pagi tadi, ia sudah makan terlalu banyak. Jadi, ia hanya akan minum dan mungkin mencicipi makanan penutup.


Helli mengambil piring Gavin, mengisi piring tersebut tanpa bertanya apa yang akan dimakan oleh pria itu. Saat Helli memasukkan udang ke dalamnya, suara Mona menghentikannya.


"Kau mengisi piring siapa, Helli?"

__ADS_1


"Gavin."


"Apa yang kau lakukan?" Mona merebut piring tersebut dari tangan Helli. "


Gavin tidak bisa mengonsumsi makanan laut. Ia memiliki alergi. Bagaimana bisa kau tidak mengetahuinya. Ini masalah penting. Gavin bisa pingsan jika kau lalai sedikit saja," cecar Mona dengan mimik tidak sedap dipandang. Wanita itu mengisi piring Gavin dengan irisan daging, sayur dan kentang.


"Aku memang tidak bisa memakan seafood." ucap Gavin begitu Helli menoleh ke arahnya.


Helli tersenyum tipis. Memangnya apa yang ia ketahui tentang Gavin selain montir yang kurang kaya.


"Aku akan mengingatnya," gumamnya lalu menoleh ke arah Rusel yang mulai menikmati makanannya dengan tenang tanpa terpengaruh dengan perhatian kekasihnya terhadap pria lain. Helli merasa sedikit prihatin.


"Ada saos di sudut bibirmu,"


"Oh ya," Rusel terkekeh, ia mengambil tisu dan membersihkan mulutnya. "Makanannya sangat enak. Kau belum mencicipinya."


"Aku sedang diet. Maaf," Helli mengambil alih tisu dari tangan Rusel dan membersihkan sudut bibir pria itu.


"Terima kasih," Rusel salah tingkah. Sementara Gavin dan Mona yang melihat hal itu terdiam dengan perasaan campur aduk. Tadinya mereka larut dalam perbincangan nostalgia, dan sekarang keduanya mendapati diri mereka cemburu menyaksikan pemandangan di hadapan mereka.


Mona menahan diri agar tidak mengambil gelas dan menyiram wajah Helli. Sedangkan Gavin, mengepalkan tangan di bawah meja. Sungguh ia penasaran bagaimana reaksi pria itu jika mendapat serangan darinya.


Pertanyaannya, kenapa ia harus menyerang Rusel? Ia dan Helli tidak memiliki hubungan apa pun. Kenyataan itu membuatnya mengurungkan niat. Lagi pula, Helli hanya bersikap apa adanya, membantu Rusel membersihkan jejak saos.

__ADS_1


Acara makan siang apa ini? Bukan begini konsep yang diinginkan Gavin.


__ADS_2