
"Wueeekk...." Helli memuntahkan isi perutnya. Badannya meriang, kepalanya pusing. Dari sejak semalam, kondisi tubuhnya memburuk. Apakah asam lambungnya sedang kumat, ia pun tidak tahu.
Helli terkulai lemah di atas ranjang. Ia tidak tahan bolak balik ke dalam toilet sehingga ia membawa wadah ke dalam kamarnya, diletakkan di bawah ranjang.
Satu bulan berlalu sejak pertemuannya dengan Mona juga Gavin. Hari itu juga, Helli memutuskan meninggalkan rumah Gavin. Ia tidak pernah kembali lagi ke sana, bahkan untuk mengambil sisa barangnya pun tidak.
Dulu, ia tergoda ingin berbagi cerita dengan Gavin. Tentang ibunya, tentang Calvin. Tapi, mengingat bagaimana orang-orang sekitarnya menjual ceritanya ke media membuat Helli mengurungkan niat tersebut.
Sejak pengkhianatan yang dilakukan ibunya dan Calvin, ia tidak bisa mempercayai siapa pun, termasuk Gavin. Ia benci jika ceritanya dijadikan konsumsi publik. Gavin adalah pendengar yang sangat baik, hal itulah yang membuat Helli tergoda ingin bercerita lebih banyak.
Namun, sekarang ia merasa bahwa keputusan yang paling benar yang ia buat adalah tidak berbagi dengan siapa pun. Andai ia cerita, ia yakin Gavin akan bertindak mengingat pria itu adalah seorang Vasquez. Dan jika hal itu terjadi, bukankah musuh para Vasquez akan menggunakan ceritanya yang menjijikkan sebagai boomerang untuk Gavin dan keluarganya.
Bulan ini, jika Helli tidak salah mengingat, bulan ini adalah bulan yang akan dipilih Gavin dan Mona sebagai bulan pernikahan mereka. Di beberapa media, Helli juga melihat Glend mengatakan akan mengenalkan kepada seluruh dunia, siapa sosok penerus Vasquez. Artinya, wajah Gavin akan wara wiri di media. Helli terus dirundung rasa takut, bagaimana jika kelak aibnya terbongkar ke media. Akankah media akan mengaitkan hal itu dengan Vasquez. Memikirkan hal itu membuat Helli tidak bisa tidur nyenyak walau selama ini, ia memang tidak bisa tidur dengan normal.
Ponsel Helli berdering, ia mengambil ponselnya dengan malas. Addrian.
"Ya, Addrian?"
"Kau sudah siap?"
"Siap?" Helli mengernyit bingung.
"Jangan katakan kau lupa jika hari adalah jadwal promo film yang kau bintangi."
Helli sontak duduk dan rasa pening itu kembali menyerang. Ia seperti melihat ratusan kunang-kunang beterbangan di atas kepalanya.
"Hari ini? Kau yakin?"
"Ya, Helli. Hotel Gauchen. Datanglah ke sana. Aku akan segera menyusul setelah menghadiri pesta yang dirayakan di rumah Gavin. Kau tidak diundang."
__ADS_1
Deg!
Hari inikah? Sebulir air mata jatuh membasahi wajah Helli. Tangannya refleks mengambil remote TV. Hal pertama yang ia lihat adalah profil Gavin yang mengenakan jas mahal. Sangat tampan. Helli tidak kuat melihatnya. Ia segera mematikan televisi. Itulah alasan kenapa ia enggan menonton, memainkan ponsel, atau media lainnya. Karena ia selalu melihat berita tidak mengenakkan.
"Ah, maafkan aku, Helli. Aku lupa jika kau dan Gavin..."
Ya, Helli akhirnya berkata jujur kepada Addrian bahwa pertunangannya dengan Gavin hanya sebuah drama. Ia juga meminta maaf kepada Addrian karena sudah dengan sengaja mengelabuinya hanya demi satu peran di sebuah film.
"Aku akan bersiap-siap dan segera meluncur ke hotel Gouchen. Bye, Addrian." Helli memutuskan sambungan telepon.
"Tidak, Helli, kau tidak boleh menangis." Helli memaksakan dirinya berdiri, berjalan menuju ke toilet.
Dua jam kemudian, Helli siap untuk berangkat ke hotel Gouchen. Mata sembabnya, ia sembunyikan di balik kaca mata hitam. Tubuhnya yang kurus kering, ia tidak bisa menemukan solusi untuk itu. Helli keluar dari apartemennya. Taxi yang ia pesan sudah menunggu. Sebelum ke hotel, ia memutuskan untuk mengambil sisa barang-barangnya di rumah Gavin. Rumah itu pasti kosong, kesempatan baginya.
Helli memasuki rumah Gavin. Kenangan tentang apa yang mereka lalui di rumah itu terekam jelas. Air mata Helli kembali bercucuran. Helli menyentuh sofa, tempat mereka sering menghabiskan waktu. Lalu ia pergi ke dapur, ruang yang menjadi favoritnya.
Di dapur ini, ia bisa menatap Gavin berlama-lama saat pria itu memasak untuknya. Meninggalkan dapur, Helli menaiki anak tangga. Alih-alih menuju kamar yang pernah ia tempati, ia justru masuk ke dalam kamar Gavin. Ia duduk di atas ranjang. Mengusap seprei yang menjadi saksi percintaan mereka. Ia tersenyum sambil menangis. Hatinya benar-benar hancur.
"Kau dimana? Acaranya lima belas menit lagi, Helli. Kau baik-baik saja?" cecar Addrian.
"A-aku akan segera sampai." Helli segera beranjak dari kamar pria. Ia urungkan niatnya untuk membawa barang-barangnya. Gavin tidak mungkin bodoh dengan membiarkan Mona melihat barang-barangnya ada di sana. Saat Helli keluar rumah, ia memiliki masalah baru. Tidak akan ada taxi yang lewat dari sana.
"Helli?"
Helli kembali dibuat terkejut, ia menoleh ke sumber suara. Lordes baru saja muncul dari taman.
"Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah acaranya akan segera dimulai? Mengapa kau masih di sini? Kau tidak ingin menjadi saksi?"
Saksi? Hati Helli mencolos mendengarnya. Bahkan Gavin mengingkari janjinya. Tidak ada undangan pertama. Gavin melupakannya.
__ADS_1
"Ah, ya, taxi-ku meninggalkanku." Helli meringis dengan wajah bodoh.
"Astaga, pakailah mobil yang ada di garasi. Aku akan mengambil kuncinya."
Helli sedang terburu-buru. Ia menerima kunci yang diberikan Lordes. Ia akan mengembalikannya dengan segera begitu pekerjaannya selesai.
Saat Lordes membawanya ke garasi, Helli dihadapkan pada kenyataan bahwa Gavin memang bukan orang biasa. Beberapa mobil mewah berjejer di sana. Montir? Mr. Pelayan? Gelandangan kumuh? Astaga, sekarang Helli hanya bisa tertawa sumbang mengingat panggilan hina yang ia berikan kepada Gavin.
"Te-terima kasih, Lordes." Helli menerbitkan senyum bersahaja sebelum naik ke dalam mobil.
Ia melaju dengan kecepatan rata-rata. Bunyi klakson dari belakang ia abaikan. Helli melirik melalui kaca spion. Dahinya mengerut saat melihat dua pengendara motor. Jika ia tidak salah mengingat, pengendara motor tersebut juga mengikutinya saat ia naik taksi. Ia kira, mereka memiliki tujuan yang sama.
"Oh, sial!!" Helli menginjak rem saat salah satu pengendara motor tersebut menyalip lalu menghadangnya. Saat pengendara motor tersebut membuka helmnya, Helli mengerangg. Debt collector.
"Apa yang kalian...Arghh..." Helli meringis saat salah satu pria itu mencekal tangannya. Sial, kenapa Helli harus membuka kaca mobil.
"Turun," perintah pria berwajah sangar itu. Rautnya dingin dan tidak bersahabat. Helli bisa memaklumi hal itu, mengingat ibunya selalu lari dan bersembunyi.
"Lepaskan tanganku. Bagaimana bisa aku turun jika kau menahannya."
Pria itu pun segera melepaskan cekalannya. Helli segera turun dan pria lainnya langsung merampas kunci mobil.
"Hei, apa yang kalian lakukan?! Kembalikan kuncinya."
"Lunasi hutang ibumu, baru mobil ini kau bisa kau ambil kembali."
"Aku akan membayarnya tapi kembalikan kunci mobilnya. Ini bukan mobilku!" Astaga, bagaimana ia akan menjelaskan kepada Gavin jika salah satu mobil pria itu disita oleh debt collector. Ini memalukan.
"Kau selalu mengatakan hal itu sejak beberapa tahun yang lalu. Menyingkirlah!" Salah seorang dari mereka mendorong Helli agar menjauh dari mobil.
__ADS_1
Helli mendadak merasa mual kembali. Masalah seolah tidak ada bosannya menghampirinya. Ponselnya kembali berdering, Helli memilih untuk mengabaikannya. Ia menatap nanar mobil milik Gavin yang dibawa kabur.
Apa yang harus ia jelaskan pada pria itu?