
"Mom, aku sedikit risih jika harus berlenggak lenggok di atas panggung dengan pakaian minim seperti ini. Tidak bisakah pekerjaan ini diberikan saja kepada model lain? Bukankah kita sudah memiliki banyak uang? Kurasa sudah cukup untuk membeli rumah yang kau inginkan?"
Saat itu Helli berusia 19 tahun. Ia terjun ke dunia model saat usianya 16 tahun. Postur tubuhnya yang tinggi dan wajahnya rupawan membuatnya mudah diterima. Saat itu belum ada agensi yang manaunginya. Jadi ia bekerja sebagai model lepas. Siapa yang membutuhkan jasanya, tergantung bayaran yang diberikan dan selama ini, ibunya yang memutuskan apakah pekerjaan itu harus ia terima atau tidak.
Terkadang, ibunya mematok harga cukup besar, tapi terkadang bayaran murah pun akan ibunya terima jika dalam keadaan mendesak. Helli tidak tahu apa itu keadaan mendesak yang dimaksud ibunya. Yang penting ia harus bekerja sesuai keinginan ibunya.
Helli tidak bisa berkutik selain mengikuti keinginan ibunya. Ada perjanjian diantara keduanya. Ibunya, Lenola Lepisto akan berhenti bekerja sebagai pramunikmat jika Helli mampu menutupi kebutuhan mereka. Helli yang tidak memiliki pendidikan awalnya meragu akan hal itu. Tapi, ibunya kembali memberikan solusi.
Entah mendapatkan uang dari mana, ibunya mengajaknya pindah dari kontrakan mereka yang kumuh. Mereka tinggal di rumah yang sangat sederhana tapi setidaknya jauh dari kata kumuh. Rumah yang mereka tempati jauh lebih nyaman dibandingkan dengan rumah sebelumnya yang lebih pantas dikatakan gubuk reyot.
Tidak ada tikus atau kecoak lagi yang tiba-tiba lewat melintasi kaki atau tubuh mereka yang memang tidak memiliki ranjang. Helli dan ibunya tidur di atas lantai yang lembab yang dilapisi karpet lusuh yang bau apek. Rumah itu hanya mereka tempati tidur. Jangan harap ada makanan atau apa pun di sana. Keesokan paginya, hanya akan ada sepotong roti yang dibagi berdua.
Setelah sarapan, ibunya akan pergi bekerja. Meninggalkan Helli begitu saja. Sering kali Helli mencari pekerjaan kepada para tetangganya hanya untuk diberi makan siang. Terkadang, Helli menolak untuk diberi makan siang, ia lebih memilih diberi uang agar bisa diberikan kepada ibunya. Ia tidak tahu pekerjaan apa yang dilakukan ibunya. Ibunya selalu mengatakan bekerja dan bekerja tetapi tidak pernah datang membawa uang. Lusiana pulang selalu dalam keadaan lelah atau mabuk.
__ADS_1
Penasaran dengan pekerjaan yang dilakukan ibunya, Helli pun mengikuti ibunya secara diam-diam. Betapa terkejutnya, Helli saat menemukan ibunya mangkal di gang sempit yang biasa dijadikan oleh preman-preman atau pria hidung belang untuk memuaskan nafsu bejat mereka.
Helli bersembunyi, melihat, tepatnya seperti apa pekerjaan yang dilakoni ibunya. Ia tidak boleh salah sangka kepada sang ibu. Namun, harapannya ternyata terlalu tinggi. Ternyata bukan hanya menjajakan diri semata, Lusiana rupanya merangkap sebagai germo. Helli menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, ibunya menerima sejumlah uang setelah Ibunya menyerahkan seorang wanita kepada pria yang memberinya uang. Lalu, tidak berapa lama kemudian, Helli melihat seorang pria yang jauh lebih muda menghampiri ibunya. Keduanya berciuman dengan sangat liar.
Helli tidak sanggup melihatnya, ini terlalu... Terlalu... Ah, ia tidak bisa menjelaskannya. Helli tidak kuasa melihat. Ia membelakangi ibunya, menutup mata dengan kedua tangannya, berharap begitu ia membuka mata, yang ia lihat hanyalah mimpi.
Helli menggigit bibir dalamnya, ia meringis kesakitan. Di sana ia tahu bahwa ia memang sedang bermimpi, mimpi buruk dalam versi nyata.
Helli membekap mulutnya saat ibunya dan pria itu melintas di depannya. Keduanya memasuki motel yang ternyata tidak jauh dari sana. Helli penasaran dengan apa yang terjadi selanjutnya, tetapi ia tidak berani untuk masuk ke dalam motel tersebut.
Keesokan harinya, Helli kembali mengikuti ibunya. Seperti yang ia lihat kemarin malam, kali ini, ibunya juga melakukan perdagangan prostitusi. Kali ini, uang yang didapatkan ibunya lebih banyak. Tidak ada pria muda yang kemarin menghampiri ibunya, tapi pria yang sepantaran ibunya yang yang menginginkan jasa dan pelayanannya.
Ibunya kembali memasuki motel bersama pria itu. Helli yang sudah membawa masker, topi dan selendang penutup wajah segera mengikuti ibunya. Bangunan yang tadinya ia kira motel ternyata bukan motel biasa. Begitu ia masuk, ia langsung disambut oleh hingar bingar musik yang menghentak-hentak kuat. Ratusan manusia menari-nari liar. Asap rokok, alkohol, keringat, dan aroma memuakkan lainnya berbaur jadi satu.
__ADS_1
Ibunya menaiki anak tangga, melewati lantai dansa dan meja bar. Di lantai dua, ternyata penuh dengan orang yang sedang berjudi. Aromanya juga tidak kalah menyengat. Seperti aroma sesajen yang membuat mual dan pusing. Sepertinya para penjudi itu menikmati ganja.
Kembali ibunya dan teman prianya melewati lantai dua. Dan selama ibunya berjalan, percayalah, entah berapa puluh pria yang menyapa ibunya. Bahkan ibunya tidak sungkan-sungkan untuk mendaratkan ciuman mesra dan liar kepada para pria itu, dan para pria itu dengan senang hati memasukkan segepok uang ke da-da ibunya.
Akhirnya, ibunya dan pria itu berhenti di sebuah pintu kamar. Pria itu langsung menyerang ibunya hingga pakaian ibunya sudah tidak berbentuk lagi.
Ingin rasanya Helli teriak dan mencakar wajah-wajah para pria yang menyentuh ibunya. Tapi gelak tawa kegirangan dari ibunya membuatnya hancur. Ibunya seorang pelacur kelas atas dalam golongan menengah ke bawah. Ya, Lusiana Lepisto memang memiliki kecantikan luar biasa. Helli mewarisi gen ibunya hampir sepenuhnya.
"Sabarlah, Joel. Kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan, Sayang. Kau membayar mahal tentunya kau akan mendapatkan pelayanan bagus dariku."
Keduanya masuk ke dalam kamar. Helli mendekati pintu tersebut dengan kaki dan tangan gemetar. Suara-suara menjijikkan mulai terdengar dan impian, harapan seorang putri pun hancur terhadap ibunya. Tangisan Helli beradu dengan erangan dan deessahan penuh dosa dari orang-orang tidak berakhlak di dalam kamar.
Di mana ayahku? Siapa ayahku?
__ADS_1
Untuk pertama kalinya, ia mempertanyakan hal tersebut dalam benaknya. Apakah ia lahir dari hasil perbuatan seperti tadi. Itukah alasan ibunya tidak begitu mencintainya. Mereka tidak pernah berkomunikasi layaknya ibu dan anak. Ibunya juga tidak mengurusnya selayaknya ibu-ibu yang biasa ia lihat dan saksikan. Hampir dua jam Helli menangisi ibunya hingga suara-suara itu tidak terdengar lagi.
Suara menjijikkan itu berganti dengan derap langkah kaki. Helli segera menjauh untuk bersembunyi. Ia memperhatikan langkah ibunya yang seperti entok. Helli kembali mengikuti ibunya yang ternyata berhenti di lantai dua. Ibunya ikut bergabung di meja bundar dengan ukuran yang sangat besar. Mengeluarkan uang yang ia dapatkan malam ini untuk bertaruh di meja judi. Helli menyimpulkan jika ibunya selalu kalah bermain judi hingga pulang dalam keadaan tidak membawa apa-apa selain rasa lelah.