My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Keluarga


__ADS_3

Grace gelisah di dalam tidurnya. Selain ranjang rumah sakit yang tidak nyaman menurutnya, wajahnya juga semakin gatal meski perihnya sudah hilang. Tapi ia cukup bersyukur melihat bocah yang tidur sambil memeluknya seperti guling. Dulce sudah tertidur sejak satu jam yang lalu.


Grace merasakan keram di tangannya, tapi ia tidak ingin mengusik tidur Dulce yang pulas. Jika Dulce terusik dan akhirnya bangun, ia takut gadis kecil itu akan merasakan gatal seperti yang ia rasakan.


Selain gatal dan keram yang menyiksa, Grace merasa jika pendingin ruangan kurang sejuk. Lengkap lah sudah derita yang ia alami. Ia tidak akan bisa tidur dalam keadaan berkeringat ditambah lagi ayah dari gadis yang tidur di sisinya sibuk memainkan laptopnya hingga menciptakan suara. Ponselnya pria itu juga tidak berhenti berdering. Astaga! Betapa sibuknya pria itu.


Grace menoleh ke arah jam dinding yang sudah menunjuk ke angka sepuluh. Kemudian ia menoleh lagi ke arah Damian. Ia tertegun saat menemukan mata pria itu juga sedang menatapnya. Sejak kapan bunyi laptop itu hilang dan sejak kapan Damian menatapnya?


"Aku tidak bisa tidur," akunya terus terang dan ia merasa sangat bosan. Ingin rasanya ia menghubungi Helli tetapi itu hal yang tidak mungkin. Gavin akan memakinya dan mengancam untuk pindah rumah.


"Aku bisa melihatnya." Damian beranjak dari sofa, mendekat ke ranjang yang Grace tempati sementara ranjang Dulce sendiri menganggur begitu saja.


"Ajak aku bicara kalau begitu." Grace memperhatikan penampilan Damian yang masih mengenakan pakaian kantor. Hanya saja jasnya sudah terornggok di sofa, dasi pria itu masih di sana, di lehernya. Menggantung dengan berantakan.


Meski tidak mandi seharian, dia masih wangi. Grace bermonolog di dalam hatinya. Parfum Damian menyebar, menyapa hidungnya saat pria itu sudah berdiri di tepi ranjang.


"Bukan waktunya untuk berbincang. Ini sudah malam, tidurlah." Damian menolak permintaan Grace. Lagi pula apa yang ingin mereka bicarakan. Damian tidak suka berbasa basi. Baginya itu hanya akan membuang-buang waktu saja. Di matanya, Grace merupakan gadis pengacau yang selalu mambawa masalah di sekitarnya.


"Aku tidak bisa tidur."


"Aku akan memindahkan Dulce. Tanganmu pasti sudah kebas."


"Tidak, tidak apa-apa. Biarkan dia di sini saja. Nanti dia terusik."


Damian tidak menggubris, pria itu tetap memindahkan putrinya. Dan benar saja, Dulce langsung membuka mata begitu ada di dalam gendongan ayahnya.


"Dad?"


"Ya."


"Kau belum menceritakan dongeng untuk."


"Kau sudah terlalu besar untuk mendengar cerita dongeng." Damian menaruh putrinya secara perlahan.


"Sebelumnya kau tidak pernah melayangkan protes, apa kau malu karena di sini ada Grace yang akan mendengarkanmu berdongeng?"


"Kenapa Daddy harus malu? Tidurlah."


Dulce menggelengkan kepala, "Aku merasakan gatal di wajahku. Dan kantukku sudah menghilang. Kenapa kau memisahkan kami?" melayangkan protes kepada ayahnya tentang perkara kenapa ia dipindahkan ke ranjangnya. Ia ingin tidur bersama Grace. Tubuh Grace sangat hangat, lembut dan wangi. Ia menyukainya.


"Tidak ada yang memisahkan kalian," astaga, Damian merasa ini sangat konyol. Kata-kata yang digunakan putrinya terdengar sedikit janggal. Pisah? Hei, mereka baru bertemu dua kali dan kompak membuat masalah. Ya, sepertinya Damian harus mengingat hal ini. Pingsan yang ia alami beberapa saat lalu juga akibat keduanya. Andai saja Ducle tidak bolos dan pergi menonton kriket bersama Oscar, Damian tidak akan mendapat serangan bola kemenangan dari Grace.


"Kau dan dia masih berada di ruangan yang sama." Damian menolak untuk mengingat kejadian memalukan itu. Hanya karena sebuah bola kriket, ia jatuh pingsan.


"Dan tangannya mulai kebas. Kau menidurinya, Pie. Grace tidak bisa memejamkan mata karena tidak ingin mengusik tidurmu."


"Oh, benarkah, Grace?"

__ADS_1


"Hanya sedikit pegal," aku Grace dengan kedua tangan yang berada di pipinya. Menggaruk lembut wajahnya yang gatal. Pun Dulce melakukan hal yang sama. "Jangan menggaruknya, Pie."


"Katakan itu pada dirimu, Gre."


"Ini gatal sekali."


"Kau benar, Gre."


"Berbaring dan tidurlah kembali. Dengan begitu kau tidak akan merasakan gatal di wajahmu."


"Benarkah?"


"Ya, kau tidak menggaruk wajahmu saat tertidur. Gatalnya hilang begitu kau memasuki alam mimpi."


"Kau juga tidurlah."


"Aku tidak bisa tidur."


"Dad, bacakan dongeng La Belle Et La Bete agar kami bisa tidur."


"Daddy tidak tahu isi dongeng tersebut. Kau tinggal mencarinya di ponselmu."


"Mengapa bukan dongeng Cinderella?"


"Aku bosan mendengarnya. Kau sudah menghafalnya dan membacanya seperti pembawa berita. Tidak enak didengar. Lagipula aku bukan Cinderalla, aku benci penindasan!"


"Si cantik dan si buruk rupa?" tanya ayahnya setelah melakukan pencarian di ponsel tentang dongeng yang ingin didengarkan putrinya.


"Ya, itu."


"Ini sedikit tidak masuk akal, Pie," protes ayahnya. Logikanya, tidak akan ada wanita cantik yang bersedia menikah dengan manusia buruk rupa yang menyerupai binatang mengerikan yang penuh dengan bulu.


"Tidak ada pelajaran yang bisa kau petik dari sini, Pie. Tidak ada seorang ayah yang tega mengirim putrinnya ke pria mengerikan dan tidak seharusnya ayahnya mencuri meski setangkai bunga. Astaga, perkara setangkai bunga, kehidupan menjadi runyam. Kenapa si buruk rupa itu pelit sekali."


"Itu hanya kutukan, Dad!"


"Ayahnya tidak tahu jika itu kutukan. Apa pun itu alasannya, tindakan ayahnya tidak bisa ditolerir. Seorang wanita dan pria yang belum menikah dilarang tinggal seatap."


"Aku tidak paham dengan apa yang kau katakan, Dad, tetapi aku akan mengingat nasehatmu. Tapi, omong-omong, aku juga tidak menemukan ilmu dari kisah Cibderella kesukaanmu, Dad, selain penindasan yang dilakukan ibu dan saudari tirinya. Dan bagaimana bisa ia berteman dengan para tikus menjijikkan? Tikus hanya ada di tempat yang kotor! Apa Cinderella putri yang sangat kotor, Dad."


"Dia putri yang cantik, dan..."


"Dan lemah!" Ucap Dulce, menyela ucapan ayahnya. "Aku ingin mendengar kisa Bella dan si buruk rupa, Dad!"


"Bella nama ibuku," Grace menyeletuk.


"Kau memiliki ibu?" Dulce bertanya dengan wajah sumringah.

__ADS_1


"Ya, kisah orang tuaku sangat manis. Seperti dongeng yang ingin kau dengarkan. Ibuku wanita yang sangat cantik sementara ayahku adalah seorang pangeran yang tidak diharapkan keluarga Istana. Hal itu membuat ayahku tidak percaya dengan cinta. Ia berlakon menjadi pria buruk rupa dan bertemu dengan ibuku, memaksa ibuku menikah dengannya dan akhirnya mereka hidup dengan bahagia. Ibuku terpaksa menikah dengan ayahku karena harus melunasi hutang keluarga. Selalu ada alasan kenapa Tuhan mengirim kita untuk bertemu seseorang."


"Selalu lah berprasangka baik. Memang tidak ada orang tua yang ingin mengirim putrinya ke tempat mengerikan, tapi hidup tidak selalu berjalan dengan mulus. Kata terpaksa tercipta bukan tanpa alasan. Beberapa situasi tidak bisa dikendalikan dan tidak ada pilihan yang diberikan selain menjalani apa yang dihadapkan pada kita. Tapi tidak semua keterpaksaan berakhir bencana. Ibu dan ayahku membuktikannya."


Damian bergeming, kata-kata yang keluar dari mulut Grace cukup bijak. Masalahnya, ia tidak membutuhkan kalimat motivator saat ini. Hanya saja, ia mengakui sebuah keterpaksaan tidak selamanya berakhir bencana. Dan tidak semua hal yang direncanakan dengan matang akan berakhir dengan bahagia. Seperti kisah pernikahannya. Dari awal semuanya terasa manis, indah dan baik-baik saja. Tapi pada akhirnya, semua berakhir bencana.


"Mereka saling mencintai?"


"Tentu saja! Kami semua saling mencintai dan kurasa, Ayahku lebih mencintai ibuku dibandingkan kami anak-anaknya!"


"Ibumu juga lebih mencintai ayahmu?"


"Kurasa tidak. Dia mencintai kami semua dengan rata. Tapi dia selalu membela suaminya jika aku sedang berdebat dengan ayahku."


"Kau memang gadis yang benar-benar beruntung, Gre. Kau memiliki ibu!"


"Semua orang memiliki ibu."


"Aku tidak memiliki ibu. Aku tidak tahu ibuku di mana? Dia pergi meninggalkanku dan juga Daddy."


Oh, Grace meringis dalam hati. Harusnya ia tidak membahas ibunya di hadapan Dulce yang merindukan seorang ibu. Ada adab dalam berkomunikasi. Jangan mengeluhkan tingkah anak pada seorang wanita yang belum dikarunia seorang anak. Jangan bertanya tentang kapan menikah pada orang yang belum bertemu dengan jodohnya dan jangan berbicara tentang betapa menyenangkannya memiliki seorang ibu yang penuh perhatian dan kasih sayang. Dan yang terpenting, jangan menyebutkan kebaikan, kelembutan suami pada teman wanita atau pun tetangga. Bisa-bisa suami menjadi incaran para wanita yang mendadak beralih profesi menjadi seorang pelakor. Paham ibu-ibu?


Sekarang Grace bingung harus menanggapi seperti apa. Meski Dulce terlihat tenang dan santai menyampaikan apa yang ia utarakan tadi, Grace tahu jika gadis itu sangat merindukan ibunya.


Grace juga merasa tidak enak hati pada Damian. Pria itu pasti semakin tidak menyukainya. Harusnya tadi ia diam saja mendengarkan perdebatan kecil antara Dulce dan Damian. Karena begitu ia membuka mulut, ia hanya menimbulkan masalah. Ingin rasanya ia menghilang ditelan bumi.


Keheningan itu masih berlanjut, Grace semakin merasa cangggung.


"Sepertinya dia tidak menyayangi kami."


Akhirnya ada suara. Tapi bukannya mencairkan suasana, pernyataan Dulce yang polos membuat hatinya tercubit.


"Ku-kurasa tidak ada seorang ibu yang tidak menyayangi anaknya."


"Benarkah? Lalu kenapa ibuku pergi, Gre?"


Lah! Kenapa bertanya kepadaku? Jelas saja aku tidak tahu, Pie. Ia menjerit dalam hati.


"Apakah karena Daddy tidak mencintai Mommy? Atau Mommy yang tidak mencintai Daddy?"


Oh Tuhan, tenggelamkan saja aku ke perut bumimu, pinta Grace saat menemukan wajah Damian berubah tegang. Pria itu juga menyorot Grace dengan tatapan menuduh dan penuh kemarahan. Ya, Damian marah.


Grace menyadari sepertinya ia baru saja membahas topik sensitif. Sekarang apa yang harus ia lakukan?


"Tentu saja mereka saling mencintai, Pie. Jika tidak ada cinta, bagaimana mungkin kau lahir ke dunia ini, Pie. Ayo, sebaiknya kita tidur. Mimpi indah, Pie." Grace dengan segera memejamkan mata, upaya penyelamatan diri dari tatapan horor yang dilayangkan Damian padanya.


Astaga! Tatapannya seolah-olah membunuhku. Apa yang terjadi dengan istrinya? Pasti istrinya kabur karena dia berselingkuh.

__ADS_1


__ADS_2