
"Aku lupa jika kita ada janji temu hari ini. Apa yang terjadi dengan mobilmu?" Gavin tersenyum santai, tidak menunjukkan rasa bersalah sama sekali setelah membuat Mona menunggunya selama lebih dari satu jam. Akhir-akhir ini dia memang sangat pikun.
"Jika aku tahu aku tidak akan membawanya kemari," sahut Mona dengan ketus.
Gavin yang tidak peka, langsung menuju mobil Mona yang sudah diperiksa oleh karyawannya, Ben. Kedua pria itu terlibat pembicaraan beberapa saat.
"Suara mesin terdengar seperti mendesis, AC kurang dingin dan lampu indikator terlalu sering menyala," Ben menjelaskan masalah yang dialami mobil Mona. Masalah umum yang memang biasa terjadi.
"Kuserahkan padamu," karena bukan perkara sulit, Gavin memberi tanggungjawab tersebut kepada Ben. Ben menganggukkan kepala.
"Aku tidak pernah melihat tunanganmu datang kemari. Apa aku boleh meminta beberapa tanda tangannya, di baju dinasku ini, Dude?" Ben menunjuk wearpack safety yang ia kenakan. "You know, Dude, aku salah satu dari ratusan juta pria yang mengagumi seorang Helli Lepisto."
Gavin melirik kunci socket yang ada di dalam genggaman Ben. Terpikir olehnya merebut benda itu dan menggunakannya untuk menarik barisan gigi Ben yang bertolak belakang dengan warna kulitnya yang hitam pekat.
Tidak Addrian, tidak Rusell, haruskah Gavin menambah nama Ben dalam daftar pria yang harus ia waspadai?
"Kita harus melakukannya sembunyi-sembunyi jika kau tidak ingin teman-teman yang lain meminta hal serupa." Ben menunjuk ke arah beberapa pria yang terlihat sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Pria kribo berkulit hitam itu tidak menyadari wajah masam yang ditunjukkan Gavin.
"Kau belum mengatakan kepada kami bagaimana bisa kau dan Helli bertunangan?"
"Fokuslah pada pekerjaanmu, Ben, sebelum kunci socket di tanganmu beralih fungsi."
Ben mengerutkan keningnya, pun ia memandangi kunci di tangannya lalu pada Gavin.
"Berhenti membayangkan tunanganku sebagai objek fantasimu."
Ben tersedak mendengar peringatan sinis yang terdengar seperti ancaman.
"A-apa yang kau katakan?" pria itu kembali menatap kunci socket di tangannya dan menerka-nerka apa yang bisa dilakukan dengan kunci tersebut. "Fantasi bagaimana? Aku mana berani, Helli Lepisto adalah wanita dari temanku yang merangkap sebagai bosku." Ben menjelaskan dengan mimik panik yang sangat kentara.
Gavin mendengus, "Otak kotormu terungkap jelas di tengah kegugupanmu. Aku bisa membaca isi pikiranmu, Ben. Bulan ini kau tidak akan mendapatkan bonusmu!"
Ben ingin melayangkan protes, tapi melihat wajah Gavin yang sepertinya memang sedang dalam kondisi marah, pria kribo itu jadi mengurungkan niatnya. Bisa-bisa bukan hanya bonusnya yang tidak diberikan. Gajinya bulan ini bisa ditahan. Gavin bisa melakukan apa pun yang dia inginkan.
"Selesaikan pekerjaanmu dengan cepat," setelah memberi perintah, Gavin berlalu dari hadapan Ben. Berjalan mendekati Mona yang memasang wajah kesal.
"Kau ingin kencing? Boker?"
__ADS_1
Lobang hidung Mona mekar seketika mendengar pertanyaan konyol Gavin.
"Wajahmu terlihat seperti sedang menahan sesuatu."
"Aku menahan amarahku, Gavin! Kau terlambat beberapa jam dan aku harus menahan lapar demi menunggumu hanya untuk sarapan bersama. Bekal buatanku kembali dingin!"
"Oh, kau membawa bekal." Gavin melirik ke dalam ruangannya. Benar saja, di atas meja sudah tersaji beberapa makanan.
"Aku juga belum sarapan. Ayo, kita sarapan. Maafkan aku yang tanpa sengaja sudah membuatmu harus menahan lapar."
Gavin menarik tangan Mona, membawanya ke dalam ruangannya. Kekesalan Mona berangsur menghilang karena Gavin sunggung menghabiskan bekal buatannya.
"Makanan yang enak. Terima kasih sudah memanjakan perutku, Mona." Gavin mengusap punggung tangan gadis itu.
"Kau menyukainya?"
"Ya, kau sangat pintar memasak. Siapa pun yang akan menjadi suamimu kelak pasti tidak akan perlu khawatir dengan perutnya."
Mona mengernyit, perlahan ia menarik tangannya. "Apa maksudmu?"
"Maksudku, kau akan menjadi istri yang baik. Kau tidak ingin memperbaiki hubunganmu dengan Rusell, Mona?" Gavin melirik sekilas pada jam dinding. Hampir jam 11. Ia harus sudah di rumah sebelum jam makan siang agar bisa memasak untuk Helli.
"Itulah pentingnya kau dan dia perlu berkomunikasi. Berbincang dari hati ke hati. Hubunganmu dengannya bukan hubungan yang baru terjalin satu atau dua hari."
Mona menggeleng kuat, kembali pada Rusell tidak ada dalam rencananya. Ia menginginkan Gavin, bukan Rusell.
"Kau anggap apa aku, Gavin?"
"Sahabatku."
Mona merasa dirinya terhempas oleh jawaban singkat pria itu. Sahabat, bukan wanita. Lalu, apa arti ciuman yang mereka lakukan selama liburan di Sisilia. Oke, mereka memang tidak sepanjang hari berciuman. Tapi Gavin mengatakan bahwa dia juga mencintai Mona. Apa arti dari ucapan pria itu?
"Di Sisilia, kita... kita berciuman."
"Ya. Aku tidak menyangkal."
Mona mulai merasakan hatinya bergemuruh antara marah karena merasa dipermainkan dan juga takut jika dirinya lah yang salah paham mengartikan semuanya.
__ADS_1
"Kau mencintaiku."
"Tentu saja. Awalnya, kukira cinta yang kurasakan terhadapmu adalah cinta seorang pria terhadap seorang wanita. Tapi cinta yang kurasakan sama seperti rasaku terhadap Grace. Ingin melindungi dan menjaga."
"Gavin..." Mona kehilangan kata-kata. Napasnya naik turun mendengar penuturan pria itu.
"Gavin, yang kau katakan ini sangat kejam."
"Aku tahu. Aku seperti sedang memanfaatkanmu. Aku keliru mengartikan rasaku, Mona. Dan aku ingin membuatnya jelas hari ini."
"Apakah ini ada hubungannya dengan Helli?"
"Helli tidak tahu apa-apa tentang hal ini tapi aku tidak akan menyangkal jika keputusanku ini memang ada hubungannya dengannya. Helli adalah teman juga tunanganku."
"Teman?" Mona tersenyum sinis. "Tidak ada pertemanan antara wanita dan seorang pria, Gavin."
"Kita berteman," Gavin menimpali dengan nada malas.
"Aku mencintaimu! Jatuh cinta padamu, Gavin dan aku berharap kita akan menikah dan sekarang kau memintaku untuk kembali kepada Rusell agar kau bisa bersama Helli? Kau terlihat seperti bajiingan, Gavin." Manik Mona berlinang oleh kabut air mata.
"Mona..."
"Kau terjebak pada pesona model murahan itu?!"
"Perhatikan ucapanmu, Mona. Aku bisa marah padamu!"
"Kenapa? Bukankah pertunanganmu dengan dia hanya sebatas pura-pura. Apa yang dia berikan padamu sehingga kau melakukan hubungan konyol menggelikan ini? Tubuhnya? Kau bisa menidurinya sesukamu, begitukah?"
"Pergilah, Mona, sebelum aku hilang kendali."
"Aku tidak tahu jika seleramu adalah model murahan yang sudah tidur dengan banyak pria tua, Gavin!"
"Tutup mulutmu jika kau tidak lebih suci darinya," tatapan Gavin menghunus tajam.
Mona tersentak mundur mendengar kata-kata Gavin yang seperti sedang menghinanya. Air matanya seketika meluruh.
"Kau menghinaku, Gavin," lirihnya dengan tatapan terluka.
__ADS_1
"Aku tidak akan meminta maaf untuk hal itu. Kau memancingku. Mengatakan hal yang tidak kusukai. Pergilah! Aku harus kembali, Helli sedang menungguku."