
"Saatnya membayar, kau bisa memanggil pelayan."
Gavin segera memanggil pelayan seperti yang diperintahkan Helli. Tidak berapa lama, pelayan itu datang dan menyebutkan totalan yang harus mereka bayar. Sesuai dengan apa yang sudah dihitung Helli. Dengan cengiran bodoh dan senyum yang dipaksakan, Helli merogoh tasnya. Namun, saat ia hendak memberikan kartunya, Gavin sudah terlebih dahulu memberikan kartu miliknya.
"Gavin?"
"Ya,"
"Apa yang kau lakukan?"
"Membayar tagihan."
"Tidak, biar aku saja."
"Aku yang mentraktir untuk kali ini."
"Uangmu bisa habis. Itu penghasilanmu yang mungkin sudah kau kumpul sudah lama sejak menjadi montir. Tidak, biar aku saja." Helli mengambil kartu tersebut dan mengembalikannya kepada Gavin.
Gavin menganga, baru kali ini ia harus ribut bersama teman kencannya perkara bayar membayar. Belum pernah dalam sejarahnya ia dibayar makan oleh seorang wanita.
"Bengkelku bukan sembarang bengkel, Helli. Uang yang kudapatkan lumayan banyak."
"Simpan saja untuk menyenangkan Mona di kemudian hari." Helli memberikan kartunya dan si pelayan pun akhirnya membawa kartu milik Helli.
Namun, sejarah baru, sepertinya masih berlanjut, tidak berapa lama kemudian, pelayan itu kembali datang.
"Ada kartu lain? Tidak ada uang di dalamnya."
__ADS_1
Bolehkah Helli meminta kepada Tuhan agar ia tenggelam di perut bumi. Ini memalukan! Ah! Kenapa Helli lupa jika semua asetnya atas nama sang ibu. Bisa saja ibunya sudah memblokir kartu tersebut atau mungkin sudah menguras habis uangnya.
Gavin ingin tertawa melihat wajah Helli yang merona malu.
"Ambil ini," ucapnya kepada si pelayan sembari memberi kartu miliknya.
"Aku akan menggantinya, nanti." Cicit Helli dengan menundukkan kepala.
Alih-alih menjawab, Gavin justru mengulurkan tangan mengusap kepala Helli. Sontak saja Helli mengangakat kepala.
Deg!
Lagi, jantungnya berpacu tidak terkendali. Sapuan lembut yang selalu ia inginkan.
"Kau tidak boleh lapar atau sengaja menahan lapar. Uangku cukup untuk memberimu makanan enak. Tunanganku harus sehat dan bisa menikmati hidup," Gavin mengerling jenaka semabari tersenyum manis.
"Gavin," panggilan seseorang membuat mereka berdua kompak menoleh. Mona mempercepat langkahnya mendekati mereka.
"Kebetulan sekali kita bertemu di sini. Aku akan mengunjungimu dan membawa makanan kesukaanmu." Mona menarik kursi dan duduk di sebelah pria itu. "Ternyata kau sudah makan."
Gavin tersenyum, "Ya, aku makan siang bersama Helli."
"Hai," Helli melambaikan tangannya sembari menerbitkan senyum ramah di bibirnya.
Hm, saatnya beraksi. Gavin sudah mengeluarkan uang cukup banyak, aku harus membayarnya. Setidaknya dengan membuat Mona cemburu.
"Hai," Mona balas menyapa.
__ADS_1
"Oh, Sayang, kau makan sedikit berantakan," Helli mencondongkan tubuh ke arah Gavin, mengulurkan tangan mengusap sudut bibir pria itu. Gavin terlihah shock untuk sepersekian detik. Entah untuk sikap Helli yang tiba-tiba atau justru terkejut dengan cara Helli memanggilnya. Tapi mungkin kedua hal itulah yang membuatnya terkejut.
"Ingat misi kita," ucap Helli tanpa mengeluarkan suara. Gavin langsung cepat tanggap.
"Oh, ya. Terima kasih, Sayang." Gavin menangkup tangan Helli dan memberikannya kecupan terima kasih di telapak tangan gadis itu. Keduanya berpandangan untuk sesaat lalu kompak saling melemparkan senyum jatuh cinta.
"Hm, Mona, apa kau ingin makan? Kami tidak keberatan menunggumu." Helli melemparkan tatapannya kepada gadis itu.
"Oh, tadinya aku ingin makan bersama Gavin di bengkel..."
"Sayang sekali kami sudah makan." Helli menyela ucapan wanita itu. Seketika raut wajah Mona berubah.
"Kita bisa makan lagi di sana, Mona." Gavin tidak tega melihat wajah Mona yang terlihat kecewa.
"Sayang, apa kau lupa jika kita sedang berkencan." Helli mendelik kesal. "Kau sudah berjanji untuk menemaniku satu hari ini!"
"Akh!" Gavin meringis karena mendapat tendangan di bawah meja di tulang keringnya. "Ah, ya, benar. Maaf, Mona, mungkin kita bisa makan siang lain waktu."
Wajah Mona terlihat semakin kecewa begitu Gavin lebih memilih kencannya bersama Helli dibanding menghabiskan waktu dengannya.
"Aku sangat bosan. Tadinya kupikir bisa mengisi kekosongan bersamamu. Aku juga masih merindukanmu." Mona menipiskan senyum di bibirnya.
"Aku cemburu jika ada wanita lain yang merindukan priaku secara terang-terangan," Helli menyeletuk.
"Maafkan aku, Helli. Aku hanya tidak terbiasa dengan wanita lain di sisinya. Dulu, ia akan meninggalkan kencannya demi aku."
"Ah, begitu rupanya. Sekarang apa kau juga akan menggagalkan kencan kita demi sahabatmu, Gavin?"
__ADS_1