
Mereka akhirnya sampai di taman bermain dengan penampilan yang sedikit menggelikan. Beberapa pengunjung bahkan memperhatikan mereka dengan tatapan aneh. Baik Gavin atau pun Helli memilih untuk mengabaikannya.
"Ini menyenangkan, Gavin! Aku sungguh berada di wahana!" Helli melompat-lompat kegirangan.
Dulu, ia sangat iri mendengar saat anak-anak seusianya berbicara dan saling menyombongkan diri tentang wahana yang mereka naiki. Helli hanya mendengarkan tanpa bisa membayangkankan. Tapi antusias anak-anak itu saat bercerita membuatnya penasaran dan ingin tahu seperti apa rasanya bermain di wahana.
Meski sangat ingin, tapi Helli tidak berusaha untuk membujuk Ibunya agar bersedia membawanya ke sana. Jangankan untuk bermain, untuk biaya sekolahnya saja, Ibunya tidak memiliki duit. Helli cukup tahu diri.
Wahana hanya sekedar mimpi baginya dan sungguh ia tidak menyangka, mimpi itu kini tercapai saat ia sudah dewasa.
"Ya, kita berada di sini dan kau bebas untuk melakukan apa pun."
"Benarkah?" Maniknya berbinar cerah layaknya anak kecil yang baru mendapat mainan baru.
Gavin tersenyum simpul, pertama kalinya ia melihat seorang wanita dewasa yang begitu sangat antusias berada di taman hiburan. Ini jelas bukan tempat kencan favorit Gavin, tapi ia tidak menyesal telah memilih tempat ini untuk menyenangkan Helli. Terbukti, gadis itu terlihat sangat bahagia.
Helli mendongak, melihat bianglala yang terus berputar. Wahan pertama yang akan ia naiki. Dari dulu, ia ingin tahu bagaimana rasanya berada di puncak dan menatap dunia dari ketinggian.
__ADS_1
"Kau pasti punya banyak kenangan di sini." Helli berkata tanpa mengalihkan tatapannya dari bianglala tersebut.
Gavin mengangguk, ia dan Grace punya banyak cerita di sini. Bukan hanya dirinya dan Grace, tapi juga Mona. Bisa dikatakan setiap hari libur, mereka akan bermain sepuasnya di sini. Gavin mengira jika semua anak-anak pasti memiliki cerita di sini.
Namun, setelah melihat Helli, ia menyadari bahwa tidak semua anak-anak seberuntung dirinya. Apa yang terjadi dengan masa kecil Helli? Kenapa Helli tidak pernah bermain ke wahana? Di mana ayah dan ibunya? Apa mereka begitu sangat sibuk? Gavin menjadi bertanya-tanya dalam benaknya.
"Aku tidak punya kenangan di sini," Helli bergumam, ada kesedihan yang tersirat yang berhasil ditangkap Gavin yang super peka.
Pria itu memperhatikan wajah Helli yang teduh, masih menatap bianglala dengan penuh minat.
Helli memiringkan kepala, sebuah senyum indah terukir di wajahnya disusul dengan anggukan antusias.
"Ya, aku ingin memulai pengalamanku dari sana, Gavin. Menciptakan kenangan baru yang akan kutulis dalam ceritaku. Kau berperan besar dalam hal ini. Oh, Gavin, terima kasih!" Helli melompat ke dalam pelukan Gavin, menghadiahi wajah pria itu dengan kecupan bertubi-tubi.
"Sungguh ini sangat berarti bagiku, Gavin!" maniknya mengembun, pandangannya mulai kabur. Helli buru-buru mengusap matanya.
"Aku tidak akan pernah melupakan momen ini. Ingatan akan memudar seiring berjalannya waktu. Untuk itulah kita perlu menulisnya dalam sebuah cerita." Helli mengurai pelukannya, perlahan melepaskan tangannya dari leher Gavin. Helli mundur dan menjauh.
__ADS_1
Gavin mengerang dalam hati, tidak suka saat Helli menjauh darinya. Reaksi luar biasa Helli merupakan kejutan yang sangat manis untuknya.
"Ada banyak wahana, tapi kenapa bianglala menjadi pilihanmu? Ada apa dengan bianglala?" Gavin sungguh penasaran.
"Tidak ada, hanya saja bianglala adalah satu dari beberapa hal yang sangat kusukai di dunia ini."
"Kau tidak takut?"
Helli tampak berpikir sejenak, kemudian ia kembali tersenyum.
"Seperti yang kukatakan, aku belum pernah naik bianglala sebelumnya. Aku juga merasa takut membayangkan apa rasanya berada di atas sana? Bagaimana jika bianglala itu tiba-tiba berhenti berputar dan aku terjebak di puncak tertingginya? Tapi kita perlu mencoba segala hal terlebih dulu agar dapat menilai hal tersebut dengan lebih baik, bukan? Dan karena ada kau bersamaku, kurasa ini tidak akan menakutkan. Ayo, Gavin, bawa aku berada di puncak!"
Gavin terkekeh, tertular oleh tawa bahagia Helli. "Baiklah, akan kuantar kau sampai ke puncak. Kau akan menemukan keindahan di sana dan melupakan rasa takutmu." Gavin meraih tangan Helli, menggenggamnya dengan lembut.
"Jika ini bianglala pertamamu, akan kubuat kau terkesan. Ini akan menjadi salah satu momen terindahmu, Helli Lepisto."
Semuanya terasa indah saat bersamamu, Gavin.
__ADS_1