
Grace melangkah dengan semangat berkobar memasuki gedung perkantoran. Ia tidak sabar untuk bertemu dengan Oscar. Grace menyapa security dengan ramah dan riang, hal yang sama dilakukan gadis itu saat melewati gadis resepsionis.
"Hai, Jane," sapanya sambil lalu sebelum gadis resepsionis itu sempat membalas sapaannya.
Grace juga menyapa semua karyawan yang menunggu di depan lift dengan senyuman khas miliknya meski para karyawan tersebut menatapnya dengan aneh. Ya, wajar saja, ia belum cukup dikenali di sana. Hari pertamanya bekerja berakhir di rumah sakit, dan setelah satu hari menginap di rumah sakit, ia melanjutkan penyembuhan di wajahnya selama dua hari di rumah. Total ia meliburkan diri sebanyak tiga hari. Dan ia berjanji, tidak akan pernah sakit lagi. Ia harus sehat dan fokus melaksanakan misinya. Apa misinya? Grace memberi judul: MENAKLUKKAN OSCAR DALAM 30 HARI.
Waktu yang cukup berani menurutnya, tapi ia harus memberi tantangan kepada dirinya juga yakin bahwa ia bisa. Helli meyakinkan dirinya agar lebih percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki. Walau ia tidak yakin apa sebenarnya kemampuannya. Apakah mencintai dalam diam selama hitungan tahun masuk dalam kategori kemampuan? Jika termasuk, mungkin itu satu-satunya kemampuan yang dimiliki Grace.
Pintu lift terbuka, Grace melangkah masuk dengan lebih semangat. Astaga, ke depannya ia akan merasakan perasaan seperti ini, berdebar-debar tidak karuan saat menuju lantai dimana sang pujaan hati berada.
Grace memandangi kantongan yang ia bawa dengan senyuman penuh arti. Oscar tidak menyukai makanan lengket dan berminyak. Secara khusus ia meminta ibunya membuatkan bekal untuk Oscar. Tentunya keluarganya mengira jika bekal itu untuk dirinya. Dan mungkin hanya Helli yang mengetahui tentang hal itu.
__ADS_1
Akhirnya sampai juga, pintu lift terbuka. Ia sampai pada tujuannya.
"Dasar anak keparat, kurang ajar!"
Grace tersentak kaget mendengar suara menggelegar yang berasal dari ruangan Oscar. Penasaran dan khawatir dengan apa yang terjadi di dalam, Grace segera mendorong pintu. Mr. Lawrence dan Lawrence junior sedang bersitegang.
Jimmy terlihat berang, menatap putranya dengan tajam sementara Oscar yang setengah basah kuyub hanya menyungginggkan senyum sinis seraya mengusap wajahnya yang basah dengan santai. Belum ada yang menyadari kehadiran Grace di sana.
"Aku memiliki guru yang sama kurang ajarnya," senyum sinis di wajah Oscar hilang diganti dengan tatapan membunuh penuh permusuhan.
"Ada guru ada murid, Jimmy," Oscar tertawa mengejek. Pria itu berdiri, penampilannya sangat berantakan. Beberapa anak kancing terbuka dan Grace memekik begitu melihat resleting celana pria itu tidak terkancing.
__ADS_1
Barulah kedua pria beda generasi itu menoleh kepadanya.
Grace salah tingkah, Oscar menatapnya dengan datar sementara Jimmy terlihat mengerutkan kening.
"Maaf, aku..."
"Apa kau berniat bekerja atau ingin bermain-main, Nona?" Jimmy bertanya dengan nada dingin. "Perusahaan tidak membutuhkan orang-orang pemalas yang tidak mengerti dengan jam kerja dan profesionalisme."
"Tidak usah meluapkan amarahmu kepadanya, Pak Tua. Aku yang memberinya izin untuk libur. Dia sekretarisku."
"Kancing celanamu dengan benar jika kau tidak ingin sekretarismu kembali memekik. Kurasa London tidak kekurangan hotel untuk kau meluapkan hasratmu pada sekumpulan jalaang murahan yang bermain-main denganmu."
__ADS_1
"Ketumpulan otakku juga kuwarisi dari guruku," Oscar menarik kancing celananya. "Aku belajar darimu, Guru. Ini didikanmu," Oscar berlalu, dengan sengaja menyenggol bahu ayahnya. Pun ia menarik tangan Grace, meninggalkan ruangan.