
"Kau mendatangi Rusell?"
Helli langsung menodong Gavin dengan pertanyaan begitu melihat batang hitung pria itu.
"Jadi, si Rusell itu langsung menghubungimu?" terlihat jelas jika Gavin sangat kesal. Seingatnya, ia memberi peringatan kepada pria itu dengan sangat jelas.
"Beginilah pria, selalu memanfaatkan kesempatan untuk melakukan tikungan tajam meski aku sudah memberi peringatan dengan sangat jelas," Ia menghampiri Helli yang sedang mengobrol bersama Grace. Di hadapan mereka berserakan majalah dengan berbagai model gaun pengantin.
"Bagaimana tidur siangmu, nyenyak?" menunduk memberikan kecupan di pucuk kepala Helli sebelum mendaratkan bokongnya di samping calon istrinya itu.
"Nyenyak. Jadi, kenapa kau membatalkan kontrak kerjasamaku dengan Rusell?"
"Aku tidak suka kau bekerja dengannya."
"Kenapa?"
"Aku akan selalu mengingat bagaimana dia menggendongmu dan menolak memberikanmu kepadaku. Aku akan mengingat semua perhatiannya kepadamu. mencarikan rumah untukmu, membawa dokter untuk mengobatimu dan membeli suplemen untukmu. Harusnya aku yang melakukan itu semua dan aku tidak bisa menahan kecemburuan pada pria yang selangkah lebih gesit dariku."
Sekarang Helli tidak tahu harus menyikapi seperti apa. Ia mencintai dunia model. Rusell adalah boss yang sangat pengertian. Dia senang bekerjasama dengan pria itu. Tidak banyak aturan dan menurutnya, Rusell adalah pria yang tahu adab dan sopan santun. Tapi, mendengar alasan Gavin tentang betapa cemburunya kekasihnya itu kepada Rusell, tidak ia pungkiri bahwa hatinya diselimuti kegirangan yang tidak bisa ia ungkapkan.
"Tapi tetap saja ada perjanjian antara aku dan dia yang tidak bisa dibatalkan begitu saja."
"Bisa. Aku sudah membatalkannya. Kau sedang mengandung, kau tidak boleh stress karena pekerjaan. Itulah yang dikatakan dokter."
"Kapan kau berbincang dengan dokter?" Grace menyeletuk.
"Tadi saat menuju pulang. Aku menghubungi Uncle Justin."
"Dan kau memutuskan kontrak sebelum menghubungi Uncle Justin."
"Grace..."
"Ya?"
"Kau suka melihatku bertengkar dengan Helli?"
"Tentu saja tidak. Aku hanya tidak ingin kau mengelabui Helli."
"Tidak ada yang mengelabui Helli. Apa aku seperti buaya di matamu, yang suka mengelabui wanita?"
"Itu memang sudah keahlianmu. Omong-omong, aku melamar pekerjaan di perusahaan milik Oscar. Bagaimana kerjasama yang dia ajukan padamu?"
"Aku menolaknya. Kenapa kau harus melamar pekerjaan di perusahaannya?"
__ADS_1
"Karena kau tidak menerimaku di perusahaanmu."
"Alasan macam apa pula ini. Aku tidak ingin kau bekerja di sana."
"Kenapa? Kau mungkin bisa membujuk Helli agar mengikuti aturanmu, tapi tidak denganku. Apa kau tidak mendengar bahwa Mom memintaku untuk memikirkan masa depanku?"
"Oscar bukan masa depanmu."
"Ouh, kau cenayang?"
"Aku adalah seorang pria, Grace."
"Tidak ada yang menyebutmu wanita."
"Aku tahu seperti apa selera pria itu tentang wanita."
"Kau menyebutku tidak menarik."
"Tentu saja kau menarik di mataku. Kau gadis yang sangat manis. Tapi penilaikanku tentangmu jelas berbeda dengan Oscar."
"Aku menyukainya!"
"Aku tahu dan aku ingin kau mengenyahkan rasamu terhadapnya."
"Ini dua hal yang berbeda, Grace. Aku dan Helli saling mencintai. Kami memiliki perasaan yang sama. Kau..."
Grace berdiri, gadis itu mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat agar Gavin diam.
"Kau ingin mengatakan aku tidak cukup menarik untuk membuat Oscar tertarik padaku. Aku akan membuktikannya kepadamu bahwa aku akan membuat pria itu bertekuk lutut di hadapanku!"
"Ini bukan tentang pembuktian kau bisa..."
"Aku tidak ingin mendengar apa pun, Gavin. Kau hanya perlu mendukung keputusanku!"
Gavin mendesaah, tentu saja ia akan mendukung apa pun yang terbaik untuk adiknya. Ia menyayangi Grace. Jika ada yang menyakiti adiknya itu sama saja dengan menyakitinya. Hal terakhir yang ia inginkan dalam hidupnya adalah melihat Grace, saudari kembarnya terluka. Grace belum pernah menjalin hubungan serius dengan pria dan sialnya, Oscar adalah pria yang berhasil menarik perhatian adiknya.
Sebagai pria yang mendapat julukan playboy internasional dari Grace, dibandingkan Gavin, Oscar lebih parah penyakitnya jika menyangkut wanita.
Oscar bisa membuat wanita bertekuk lutut di hadapannya hanya dengan satu kedipan mata. Oscar pria tampan yang sangat ahli merayu dan juga piawai dalam mematahkan hati. Gavin tidak ingin Grace menjadi salah satu wanita yang manambah daftar korban dari seorang Oscar.
Saat ini Grace benar-benar sedang marah. Tidak ada gunanya mendebat gadis itu. Gavin tahu kapan ia harus menggurui dan kapan ia harus berhenti melakukannya.
Pun ia mendongak, menatap adiknya dengan teduh. Pun ia menggenggam tangan Grace, memberikan kecupan hangat di sana.
__ADS_1
"Tentu saja aku mendukungmu. Mendukung apa pun yang terbaik untukmu."
Grace akhirnya melunak dan kembali duduk.
"Aku harus bekerja. Aku bosan begini saja. Ini bukan hanya tentang menarik perhatian pria yang kusukai, Vin. Ini juga tentang aku yang ingin mengenal dunia luar, dunia kerja."
"Kenapa tidak di perusahaan kita."
Grace menggelengkan kepala, "Itu bukan dunia luar, Gavin."
"Baiklah, kau perlu membicarakan hal ini kepada Mom dan Dad."
"Baiklah, aku akan kembali ke kamar. Nanti malam aku akan membicarakan hal ini kepada Mom dan Dad, silakan lanjutkan perbincanganmu dengan Helli. Helli, nanti kita lanjutkan memilih gaun yang bagus untukmu."
Helli menganggukkan kepala sembari tersenyum. Dari tadi ia hanya bisa diam menyaksikan perdebatan dua bersaudara itu. Helli juga tidak tahu persis apa yang Gavin dan Grace bahas. Dia tidak mengenal siapa Oscar.
"Kalian berdua saling menyayangi," ucap Helli begitu Grace tidak terlihat.
"Aku tidak ingin dia terluka. Oscar tidak cocok untuknya."
"Grace sudah dewasa, dia tahu yang terbaik untuknya. Jangan terlalu mengekangnya, cukup memantaunya dari jauh. Terkadang Grace perlu bersikap lebih berani untuk hidupnya dan berikan kepercayaan kepadanya untuk mengatasi masalahnya. Grace akan tumbuh menjadi wanita baik hati yang hebat."
Gavin membenarkan apa yang dikatakan Helli. Selama ini, dia dan ayahnya terlalu memanjakan dan menjaga Grace. Sikap posesif mereka itu justru menghambat perkembangan Grace. Mau sampai kapan mereka seperti itu? Helli benar, sudah saatnya membiarkan Grace menentukan jalan hidupnya.
"Apakah sekarang kita sudah bisa melanjutkan perbincangan kita mengenai pembatalan kontrak yang kau lakukan secara sepihak, tunanganku?"
"Ini demi kebaikanmu," Gavin menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku justru akan stress jika tidak ada kegiatan."
"Kau akan mempunyai banyak kegiatan setelah bersamaku."
"Aku mencintai pekerjaanku, Gavin."
"Siapa yang lebih kau cintai? Aku atau pekerjaanku?"
"Aku lebih mencintaimu! Baiklah, sepertinya kau lebih suka melihatku berdiam diri yang berujung depresi. Aku akan menjadi wanitamu yang patuh dan penurut, berdiam diri di rumah. Seperti burung dalam sangkar emas. Aku lebih mencintaimu daripada pekerjaan sialan ini. Aku tidak keberatan menjadi gila."
"Wanita memang ahli bermain kata. Baiklah, kau bisa bekerja, tapi tidak bersama Rusell. Aku akan menghubungi Steven Ivarez. Kau menyukainya bukan?"
"Desainer Spanyol? Sungguh, Gavin? Kau mengenalnya? Bagaimana kau tahu aku menyukainya?"
"Dari si brengseek Calvin Hugo. Haiis!!"
__ADS_1