
"Jadi kapan kau akan membawa Helli kemari?"
Pertanyaan ayahnya mengurungkan niatnya untuk melangkah. Bagaimana hendak membawa Helli. Setahu wanita itu, ia hanyalah seorang montir yang tidak memiliki kekayaan yang cukup. Lagi pula, tidak seharusnya Helli tahu siapa dirinya. Bisa repot urusannya.
Bukannya besar kepala, ia khawatir jika Helli memanfaatkan kekuasaannya untuk kepentingan yang Gavin sendiri tidak tahu untuk apa. Apakah Helli memang gila kekuasaan? Haus akan ketenaran atau ada hal lainnya. Tapi apa pun itu, Gavin sudah berjanji di dalam dirinya jika gadis itu berhasil membuatnya mendapatkan Mona, Helli akan mendapatkan apa pun yang wanita itu inginkan.
"Aku tidak bisa menjanjikan hal apa pun, Dad."
Glend tergelak, "Bermain-main dengan wanita cantik akan menyulitkanmu, Dude. Terkadang kira mengira bisa mengendalikan semuanya hingga tanpa sadar justru kita pria yang sering terperangkap dalam jaring yang kita sebut sebagai win win solution."
Gavin tertegun, apakah kedua orang tuanya ini seorang cenayang ataukah ini yang dikatakan ikatan batin.
"Dad berbicara tentang apa yang Daddy rasakan dulu saat bersama ibumu. Awalnya Dad berpikir menikahi ibumu bisa menghangatkan ranjang. Ternyata Daddy justru terperangkap dalam pesonanya. Daddy tidak berani menyentuh ibumu dan justru menikmati setiap kebersamaan kami."
"Kau terdengar seperti sedang mendoakanku untuk terperangkap, Dad."
"Mendoakanmu? Jadi kau sungguh sedang bermain-main?" selidik Glend yang mendapat tatapan horor dari sang ibu.
Gavin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia terjebak dalam permainan kata-kata orang tuanya.
"Aku sangat merindukan adikku."
Gavin segera melangkahkan kakinya meninggalkan ruang utama, menyelamatkan diri dari pembahasan tentang Helli. Ck! Ia sedang kesal kepada Mona dan justru berakhir di depan apartemen Helli dan berujung dengan ajakan tidur yang membuat Gavin pergi dengan cara tidak baik. Tidur denganku atau pergi dari sini? Pilihan yang diberikan Helli saat ia tidak menjawab tawaran wanita itu. Sejak kapan ia menolak ajakan tidur seorang wanita? Sejak Helli yang mengajaknya!
Gavin menghembuskan napas panjang. Ia sudah berada di depan pintu kamar adiknya. Semoga saja adiknya tidak menambah kekusutan di benaknya. Tanpa mengetuk, Gavin mendorong pintu.
Grace menoleh begitu pintu kamar dibuka. Gadis itu mendengus tatkala melihat wajah tampan saudaranya lah yang terlihat di sana. Mengabaikan Gavin, ia duduk di depan meja rias, mengeringkan rambut pendeknya dengan handuk kecil.
__ADS_1
Gavin melintasi ruangan, berdiri tepat di belakang adiknya, kemudian mengambil alih handuk tersebut. Grace tidak melayangkan protes, membiarkan Gavin yang mengeringkan rambutnya.
"Aku tidak akan mengucapkan terima kasih," Grace berdiri setelah Gavin selesai mengeringkan rambutnya. Gadis itu menarik kasar handuk dan melemparnya ke dalam keranjang. "Kau bukan orang kesukaanku saat ini."
Gavin tersenyum simpul. Ia tahu alasan di balik sikap jutek adiknya itu. Ya, Grace melihat Gavin dan Mona berciuman.
"Kau tidak jadi pergi bersama Mona?" Gavin bertanya, mengabaikan delikan mata kesal adiknya.
"Dia pergi begitu kau pergi. Tunangannya sudah sampai di sini." Wajah Grace masih saja ketus.
Gavin terdiam sejenak untuk menetralkan rasa tidak nyaman di hatinya saat mendengar kabar tersebut.
"Aku mengantuk, pergilah, kecuali kau ingin tidur bersamaku." Grace merebahkan tubuhnya di atas ranjang, menarik selimut hingga sebatas lehernya.
"Hais, kenapa wanita selalu memberikan pilihan konyol itu. Ceritakan kepadaku kenapa kau menyukai Helli?"
Jika Gavin bukan saudara kembarnya yang menghabiskan waktu selama sembilan bulan di dalam rahim ibunya, berbagi plasenta yang sama. Bila tidak mengingat hal itu, mungkin ia sudah memaki habis saudaranya tersebut.
"Aku hanya ingin tahu."
"Dia cantik, seksih, kakinya jenjang, kulitnya mulus, matanya indah, rambutnya bersinar dan dia baik hati."
"Baik hati?" Kening Gavin sedikit mengernyit.
"Ya. Sudahlah Gavin, aku sedang mengantuk."
"Kenapa kau mengatakan dia baik hati?" Gavin mengabaikan pengusiran yang dilakukan adiknya. Ada rasa penasaran yang menyusup ke benaknya. Lebih besar dari yang sudi ia akui.
__ADS_1
"Kejadiannya sudah lama. Mungkin dia juga tidak mengingatnya lagi."
"Ceritakan padaku."
"Hais, kau merepotkan!!" Grace segera duduk bersila. "Kau ingat Joshua? Joshua Griffin?"
"Tentu saja. Dia pria yang mengejar-ngejarmu sejak dulu dan sekarang aku adalah rivalnya. Hais, sayang sekali aku tidak bisa bermain di sirkuit untuk melawannya," sekilas Gavin malah curhat tentang kekesalannya.
"Pria brengsek itu pernah hendak menciumku secara paksa. Kebetulan sekali Helli lewat dan menarik rambut pria itu, kemudian menendangnya."
"Jangan katakan jika Helli adalah saksi yang memberatkan Joshua saat Daddy melaporkan pria keparat itu ke kantor polisi karena berniat melecehkanmu."
Saat Grace mengalami kejadian itu, Gavin sedang berada di luar negeri, menikmati hidup bersama teman-temannya.
"Yah, kau benar! Gadis itu Helli. Aku mencari tahu rumahnya untuk berterima kasih. Saat itu, dia masih belum menjadi model terkenal. Mereka tinggal di pemukiman kumuh. Joshua dan orang tuanya ada di sana menawarkan sejumlah uang agar tidak bersedia menjadi saksi. Helli menolak untuk berbohong. Dan kau tahu, ibunya memukulnya setelah Joshua dan orang tuanya pergi, memaki dengan segala umpatan. Helli juga menolak saat Daddy memberikan uang sebagai ucapan terima kasih. Ah, Helliku yang malang. Kuharap dia menemukan pria baik hati, bukan pria sepertimu."
Gavin menelan ludahnya. Ujung-ujungnya dia yang salah. Sekarang ia menemukan kenapa adiknya bisa menjadi fans gari keras dari tunangan palsunya itu.
"Keesokan harinya, aku dan Daddy kembali ke sana. Kami tidak bertemu dengannya dan justru bertemu dengan ibunya. Dad memberikan sejumlah uang yang langsung diterima oleh ibunya. Lalu keesokannya lagi aku datang, mereka sudah tidak tinggal di sana. Aku senang saat mengetahui ia menjadi model. Setidaknya ia bisa tidur nyenyak di atas ranjang yang layak. Gudang mobilmu bahkan lebih besar dan bersih dari tempat tinggalnya."
"Dia wanita yang liar,- itu yang kudengar," Gavin buru-buru menambahi begitu mendapat tatapan menghunus dari sang adik.
"Apakah dia terlihat liar saat bersamamu?"
"Kami berciuman."
"Jika Helli begitu liar, lalu apa sebutan untuk Mona yang bisa kau cium begitu saja saat ia sudah memiliki pria? Dan apa sebutan untukmu juga, Gavin?"
__ADS_1
Skakmat!