My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Akhir Pekan


__ADS_3

"Hellii.....maksudku, Graceeeee...." Dulce melepaskan genggaman tangan ayahnya, lalu berlari menghampiri dua wanita cantik yang menyambutnya di teras mansion.


"Aku merindukanmu, Grace. Sangat!!" Dulce memeluk pinggang Helli, menempelkan wajahnya di perut Helli yang belum membuncit.


"Grace di sini. Aturan pertama, Pie."


"Ops, salah orang rupanya," Dulce terkikik geli. "Kukira ini kau, Grace. Pantas saja bokongnya sedikit lebih padat. Ternyata Helli. Hai, Helli." Dulce memundurkan tubuhnya, menyengir lebar hingga mempertontonkan barisan giginya yang putih dan kecil-kecil.


"Aku akan memeluk Grace dan aku menanti kecupanmu, Helli."


Helli menganggukkan kepala sambil tertawa melihat wajah Grace yang merengut, pura-pura kesal.


"Oh, Grace! Aku merindukanmu setengah hidup!" Dulce memekik dengan gaya yang sengaja dibuat dramatis. "Peluk aku!"


"Hm, kemarilah!" Grace merentangkan kedua tangan, Dulce langsung menghambur ke dalam pelukannya. "Aku juga merindukanmu." Grace memutar-mutar tubuh mereka hingga keduanya pusing.


"Ehm,"


Deheman Damian menghentikan aksi keduanya.


"Selamat pagi, Mr. Lawrence." Grace melambaikan sebelah tangan sementara tangannya yang lain, memeluk leher Dulce yang berdiri di depannya, menempel di tubuhnya.


''Aku tidak keberatan kau mengantar putrimu lebih pagi daripada yang dijanjikan, sepertinya kau memiliki urusan yang tidak bisa ditunda. Akhir pekan memang harinya para sepasang kekasih." Grace mengerling jenaka. Di dalam mobil Damian, terlihat Grenda menunggu dengan tidak sabar. Wanita itu sengaja menurunkan kaca mobil untuk menunjukkan bahwa dia ada di sana dan bersiap menghabiskan akhir pekan yang menyenangkan dengan Damian.


Seperti biasanya, Grenda berdandan dengan cetar, memoleskan lipstik merah menyala menggoda. Pakaian yang dikenakan juga berleher rendah, memamerkan dadaa yang begitu wow. Dadaa impian Grace.


"Terima kasih atas pengertianmu, Miss Vasquez," Terlihat Damian menahan kekesalannya. Sindiran Grace ternyata sedikit membuatnya tersinggung.


"Tidak usah sungkan, Mr. Lawrence dan tidak usah terburu-buru. Nikmati waktumu dengan kekasihmu. Dulce aman bersamaku."


Damian berdehem. Sekarang sulit baginya mengartikan apakah Grace sedang menyindirnya atau bagaimana. Kata-kata gadis itu terdengar seperti sedang menyindir, tapi ekspresi dan tawa Grace terlihat tulus dan apa adanya. Apakah ini yang dikatakan teknik menyindir yang begitu sangat manis. Jika ya, Grace berhasil melakoninya hingga Damian bingung harus menanggapi seperti apa.


"Pie, jadilah anak yang baik. Jangan merepotkan, ehemm, Helli dan Grace."


"Kenapa kau salah tingkah saat menyebut nama istriku?"


Suara berat itu muncul dari arah pintu. Gavin melenggang santai, mendekati sang istri lalu merangkulnya dengan posesif.


Damian benar-benar dibuat salah tingkah dengan para Vasquez ini. Apakah ia terlihat seperti duda yang ingin merebut istri pria lain?


"Wajar saja dia salah tingkah. Mr. Lawrence pengagum Helli. Omong-omong, Mr. Lawrence, apakah kau sudah menjadi anggota klub resmi pengagum Helli."


Damian tersedak dan terbatuk-batuk. Klub fans? Apakah ia memiliki waktu luang untuk memantau keseharian Helli Lepisto.


"Di sana kau akan mendapatkan informasi tentang berita terbaru Helli dan bisa saling bertegur sapa sesama anggota." Grace mengabaikan batuk Damian yang semakin menjadi.

__ADS_1


Apa pedulinya tentang keseharian model cantik itu?


"Aku akan memikirkannya," Ucap Damian, memilih tetap memainkan peran bahwa ia sangat mengagumi Helli. Selain tidak ingin berdebat dengan purtrinya, ia juga sengaja untuk membuat Gavin merasa kesal.


"Kekasihmu sudah menunggu, jangan membiarkan wanita menunggu lebih lama. Astaga! Aku sangat kesal dengannya. Berhentilah jadi model, Helli!" Gavin menarik tangan Helli, membawa istrinya masuk ke dalam rumah. Tidak ingin Damian menikmati wajah cantik sang istri. Kecemburuan yang sia-sia.


"Katakan selamat bersenang-senang kepada ayahmu, Pie."


Damian sepertinya harus selalu mengingat jika teman baru putrinya itu memang gadis dewasa yang terlambat dewasa.


"Daddy akan menjemputmu sebelum jam enam sore."


"Oh, itu masih terlalu pagi. Tidak usah buru-buru, Mr. Lawrence." Grace melambai-lambaikan kedua tangannya.


Damian menukik alisnya, baru menyadari penampilan Grace yang masih mengenakan piyama.


"Benar-benar gadis yang terlambat tumbuh."


"Kau mengatakan sesuatu, Mr. Lawrence, Daddy-nya Dulce?"


Damian tidak menjawab. Bagaimana bisa ada seorang gadis yang masih mengenakan pakaian tidur disaat matahari sudah bersinar cerah. Tapi harus Damian akui, wangi gadis itu terasa sangat segar. Aroma sabun cuci yang tidak berbaur dengan parfum. Sangat natural.


"Daddy mengatakan gadis yang terlambat tumbuh."


"Entahlah." Dulce mengangkat kedua bahunya. "Dad, pergilah agar aku dan Grace bisa bermain."


Damian memberikan kecupan di kepala putrinya dan berlalu saat Grenda juga sudah membunyikan klakson mobil.


"Wanitamu sudah tidak sabar."


Damian hendak menyumpal mulut gadis itu saat melihat manik indah itu berkilat-kilat nakal seolah sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan Damian dan Grenda saat sedang berkencan.


"Kuharap kau tidak meracuni otak putriku."


"Astaga! Tuduhan macam apa itu? Aku gadis polos yang masih suci." Grace memasang wajah pura-pura tersinggung. Tapi kemudian gadis itu tersenyum.


"Semoga kencanmu menyenangkan, Mr. Damian. Aku tulus."


Damian tidak menanggapi lagi. Ia segera berlalu.


"Wajahmu sudah cantik lagi, Grace."


"Ya, Helli merawatku dengan baik. Bagaimana sekolahmu?"


"Kau benar. Teman-temanku tidak terlalu mengusikku lagi. Mereka percaya kau adalah ibuku."

__ADS_1


"Oh yeah," Grace dan Dulce terkikik merayakan kemenangan mereka yang berhasil mengelabui teman-teman Dulce yang menyebalkan.


"Apa yang akan kita lakukan, Grace? Apakah kita jadi mewarnai kuku-kuku kita."


"Tentu saja. Ayo, kita masuk. Helli pasti sudah menunggu di kamarku."


Sambil bergenggam tangan keduanya memasuki rumah, melintasi ruang utama dan langsung menuju lantai dua dimana kamar Grace berada.


"Aku dan Helli membeli beberapa pakaian untukmu. Kuharap kau menyukainya."


"Hadiah?"


"Yeah, anggap saja begitu. Kau bisa menyingkirkan baju-baju berbulu itu."


"Apakah memang terlihat aneh, Gre?" Dulce menatap kostum yang ia kenakan. Pakaian yang sama saat mereka bertemu di sekolah.


"Menurutmu?"


"Memang aneh."


"Kau akan cantik setelah ini. Helli akan mengubahmu dengan tangan ajaibnya. Kau sudah siap, gadis manis."


"Aku sungguh tidak sabar, Gre!"


___


"Aku suka warna yang mencolok," Dulce menatap satu persatu lusinan cat kuku yang berbaris di hadapannya. Ternyata bukan mereka yang akan mewarnai kuku mereka. Tapi sudah ada beberapa orang di sana yang memang bekerja untuk Helli.


"Tidak, Pie. Itu tidak cocok untukmu. Aku akan memilihkan untukmu. Kau keberatan?"


"Tidak. Aku percaya padamu."


Pada akhirnya keduanya meminta Helli untuk memilihkan warna yang cocok untuk mereka.


Setelah kuku mereka selesai diwarnai, saatnya mereka melakukan perubahan pada Dulce. Menanggalkan semua pakaian yang dikenakan Dulce dan mengubah potongan rambutnya. Mereka menghabiskan waktu hampir dua jam di lamanya.


"Wow! Dulce, kau tampak sangat mengagumkan. Oh Tuhan, seperti dugaanku, kau gadis yang sangat cantik. Ayo lihat dirimu." Grace mengambil kaca dan memberikannya pada Dulce.


.


.


.


__ADS_1


__ADS_2