My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Mari Bersenang-senang


__ADS_3

"Kenapa Melisa dipecat dan kenapa Grace ada di kantorku." Oscar mendatangi ruangan Ayahnya, Jimmy Lawrence. Di belakangnya ada Grace yang mengekor.


Jimmy yang ternyata sedang mengadakan rapat dengan rekan bisnisnya, mengalihkan tatapannya kepada putra tunggalnya tersebut.


"Kita akan membahasnya nanti, aku sedang rapat."


Oscar bergeming, ia juga bisa melihat bahwa ayahnya sedang mengadakan rapat. Ia tidak peduli dengan itu, ia menginginkan penjelasan sekarang!


"Aku mengatakan aku sedang rapat," Jimmy berkata setenang mungkin.


"Rapatmu bisa menunggu tetapi tidak denganku. Aku membutuhkan penjelasan," tipikal pria keras kepala. Sudah menjadi rahasia umum bahwa hubungannya dengan ayahnya tidak baik-baik saja.


Jimmy menghela napas berat. Putranya memang selalu membangkang apa pun yang dia katakan.


"Ada sepuluh pasang mata di sini. Kau sungguh ingin membahasnya di sini?"


"Aku mengatakan bahwa aku tidak bisa menunggu," ulang Oscar dengan tegas seakan menantang sang ayah.


"Sekretarismu tidak becus melaksanakan tugasnya. Jadwalmu berantakan hanya karena kau meminta sekretarismu mengerjakan hal yang bukan tugasnya." Jimmy harus menahan diri untuk tidak mengatakan bahwa Melisa bukan terlihat seperti sekretaris melainkan seperti wanita murahan yang selalu mengenakan pakaian kurang bahan.


"Melisa mengerjakan semua tugasnya dengan baik!"


"Mungkin menurut versimu."


"Tentu saja menurut versiku. Dia bekerja untukku."


"Dan kau bekerja untuk perusahaan. Aku tidak akan membiarkan kau atau siapa pun melakukan hal seenaknya yang bisa merugikan perusahaan. Kau sudah mendapatkan jawaban dan aku juga sudah menyediakan sekretaris baru untukmu." Jimmy menoleh kepada Grace yang dari tadi hanya bisa diam menonton perdebatan antara anak dan ayah tersebut.


"Kenapa harus Grace?"


"Oh, kau mengenal sekretaris barumu rupanya." Jimmy menukik alisnya. Pria itu tidak akan heran jika Grace wanita seksih yang memiliki tinggi badan semampai.


"Wanita sepertinya yang cocok untuk bekerja untukmu. Tidak menor, tidak mengumbar tubuh, kau tidak akan terangsang sehingga pekerjaanmu aman."


Grace seketika terbatuk. Jadi ayah Oscar yang menerimanya dan karena alasan dia kurang menarik, heh?


Jimmy sudah mengatakan apa yang ingin Oscar dengarkan. Pun ia kembali menatap rekannya dan kembali melanjutkan perbincangan.


___


"Aku akan mengundurkan diri jika kau tidak suka keberadaanku di sini," ucap Grace meski berat hati. Ayolah, tujuan utamanya bekerja di sini adalah untuk menarik perhatian Oscar. Sayang, sebelum ia beraksi Oscar sudah menunjukkan secara terang-terangan bahwa pria itu kurang menyukai kehadirannya.


"Kau sudah diterima di sini. Lakukan saja pekerjaanmu."


"Bagaimana dengan Melisa?"


"Biarkan saja. Aku tidak tahu kenapa kau bisa bekerja di sini. Menjadi sekretarisku bukanlah pekerjaan yang mudah. Kau harus mengurus segala sesuatunya dengan baik dan benar. Jika ada rapat yang tidak bisa kuhadiri, kau harus mampu menanganinya. Jam kerjamu tidak menentu, aku bisa memanggilmu sewaktu-waktu untuk mengatasi masalahku di luar jam kerja. Kau tahu bahwa aku memiliki banyak wanita, baik itu kalangan pengusaha, artis, model dan sebagainya. Semuanya memiliki jadwal bertemu. Aku tidak menyukai media meski aku sering disorot karena skandalku yang menggelikan ini. Pastikan kau bisa mengatasi semuanya, termasuk para awak media. Jam sembilan pagi, kopiku sudah harus diletakkan di atas meja. Untuk makan siang, jam 12.15. Aku tidak menyukai makanan berminyak dan lengket. Kau harus mengingat ini."


Grace mencatat semuanya di dalam buku kecil yang diberikan Oscar kepadanya.


"Apakah sekretarismu sebelumnya, maksudku Melisa juga melakukan hal yang seperti ini?" mendadak ia merasa pusing. Selama ini ia tidak pernah melakukan pekerjaan apa pun untuk orang lain, terkadang orang lah yang melakukannya untuknya. Seperti pakaian yang ia kenakan saat ini, Helli lah yang menyiapkannya.


Oscar mengangguk, "Ya. Melisa melakukan semuanya. Tugasmu lebih sedikit dibandingkan dirinya. Seperti yang kau lihat tadi, Melisa memberi pelayanan peningkatakan imun."


Pelayanan peningkatan imun? Oh Tuhan, ternyata keplayboy-an saudaranya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Oscar. Oscar dan Melisa hampir bercinta di atas meja dan Oscar menyebutnya sebagai pelayanan peningkatan imun. Ya, terdengar lebih bermoral dibanding dengan istilah morning sexx.


"Apa ada yang kurang jelas?" Oscar melirik jam tangan mahal yang melingkar di tangannya.


Semuanya! Aku tidak mengerti dengan semua tugas yang kau bebankan kepadaku!


Ingin rasanya Grace menjawabnya seperti itu, tapi yang ia lakukan justru menggelengkan kepala. Ia tidak ingin terlihat bodoh di hadapan pria yang menjadi incarannya itu.


"Bagus. Untuk memastikan apakah kau benar-benar sudah faham dengan yang kukatakan, coba kau jelaskan seperti apa tugasmu selama menjadi sekretarisku?"


Grace melihat catatannya, "Tugasku bukan hanya seputar pekerjaan di kantor saja. Tapi juga di luar kantor, termasuk mengatasi masalah pribadimu."


Oscar menganggukkan kepala, "Good, kau benar-benar mengerti. Jadi, sebagai tugas pertamamu adalah menjemput keponakanku."

__ADS_1


"Hah?"


"Tugasmu hari ini, cukup menjemput Dulce di sekolah. Temani dia makan siang. Setelah itu kau tunggu saja telepon dariku apa tugasmu selanjutnya."


"Jika aku menemani keponakanmu makan siang. Lalu bagaimana dengan makan siangmu?"


"Sierra hari ini datang, aku akan makan siang dengannya."


Grace terdiam. Ia tentu saja mengenal siapa itu Sierra. Wanita yang dicintai Oscar sejak dulu. Sierra adalah wanita yang berhasil merebut perhatian Oscar. Sierra berhasil membuat pria itu insaf. Saat bersama Sierra, Oscar tidak bermain-main dengan wanita. Hanya Sierra satu-satunya. Keduanya menjalin hubungan dalam jangka waktu yang cukup lama. Dan Grace berduka saat keduanya mengikrarkan hubungan mereka secara terbuka.


Satu tahun yang lalu, Grace tanpa sengaja mendengar bahwa hubungan keduanya sudah kandas. Dan sejak itu lah Oscar kembali bermain-main dengan wanita.


Grace bisa bersikap biasa saja kepada para wanita yang Oscar kencani, tapi Grace tidak bisa menyembunyikan kecemburuannya jika berhubungan dengan Sierra.


"Sierra?"


"Hmm, kau masih mengingatnya?"


"Ya. Aku mengingatnya."


"Tinggalkan nomor ponselmu. Dulce tidak suka menunggu lama."


"Bukankah ini masih terlalu pagi. Kurasa belum waktunya anak sekolah pulang."


"Dulce mengalami sakit perut. Kau bisa menyetir?"


"Ya."


"Ya, sudah. Pergilah."


Mau tidak mau Grace harus beranjak untuk melakukan tugas pertamanya. Ini tidak seperti pertemuan yang ada di dalam bayangannya. Dia tidak menyapa Oscar dan pria itu juga tidak menyapanya. Ia justru disuguhkan adegan panas antara Oscar dan sekretarisnya dan perdebatan sengit antara pria itu dan ayahnya. Ia juga harus menahan kecemburuannya saat Oscar menyebut nama Siera dan sekarang ia harus menjemput kenponakan pria itu. Sejak kapan Oscar memiliki keponakan?


_____


Grace memarkirkan mobil di parkiran khusus yang disediakan oleh sekolah. Dulu, ia dan Gavin juga bersekolah di sini. Salah satu sekolah terbaik di London.


"Euuy,, menjijikkan!! Dandananmu sungguh mengerikan. Kau gadis paling aneh di sekolah ini. Tidak akan ada yang mau berteman denganmu, dasar ayam!"


Grace menghentikan langkahnya begitu mendengar suara beberapa orang anak. Tidak jauh dari tempatnya berdiri terlihat sekelompok anak. Empat orang menertawakan seorang gadis yang memang sedikit berpenampilan unik. Penampilan tersebut justru mengingatkan Grace pada seseorang. Bando berbulu dan pakaian warna warni yang terlihat seperti bulu ayam.


Gadis itu berusaha pergi tapi keempat gadis lainnya tidak memberi jalan.


"Biarkan aku lewat!"'


Ah, suaranya juga terdengar mirip. Apakah mungkin orang yang sama? Grace bergumam dalam hati. Pun ia mendekat demi untuk melihat wajah gadis itu.


"Memangnya apa yang akan kau lakukan jika kami tidak memberi jalan, pembohong. Dasar cengeng! Sengaja berbohong agar tidak mengikuti pelajaran."


"Aku bukan pembohong!"


"Tentu saja kau pembohong. Perutmu tidak sakit. Kau hanya tidak ingin bersekolah."


"Sekolah ini menjijikkan karena ada kau dan teman-temanmu," ucap gadis itu sambil bersedekap.


"Kaulah yang menjijikkan, gadis bodoh!"


"Aku bukan gadis bodoh!"


"Kau gadis bodoh menyedihkan yang tidak mempunyai ibu."


"Aku mempunyai ibu. Kau lah yang bodoh!"


"Di mana ibumu? Pembohong!"


"Hei, dia bukan pembohong. Jika dia tidak punya ibu, menurutmu dari mana dia lahir?" Grace menengahi pertengkaran itu dan ternyata dia tidak salah mengenali. Gadis kecil yang mendapat serangan dari teman-temannya ternyata adalah gadis yang sama yang datang ke pertnandingan kriketnya beberapa bulan lalu.


"Dia tidak mungkin meletus begitu saja dari bambu. Kau lah yang bodoh!"

__ADS_1


"Siapa kau?" tanya salah seorang anak dengan ekspresi menyelidik. Astaga, anak-anak zamam sekarang memang minim akhlak dan adab. Bagaimana bisa para gadis cilik itu menatap langsung ke matanya tanpa merasa sungkan.


"Orang dewasa tidak akan mengatakan anak kecil dengan sebutan bodoh."


"Usia 11 tahun tidak bisa dikatakan anak kecil. Kau dan teman-temanmu juga tidak seharusnya menyerang temanmu yang lain."


"Dia bukan teman kami. Dia tidak memiliki ibu."


"Aku memiliki ibu!"


"Di mana ibumu, pembohong?! Ibumu pasti kabur karena memiliki seorang putri aneh sepertimu."


"Ibuku tidak seperti itu!"


"Tentu saja ibumu seperti itu. Buktinya ibumu tidak pernah datang kemari menghadiri acara apa pun."


"Jika kau penasaran, ibunya ada di sini, di hadapanmu." Grace pusing mendengarkan perdebatan para bocil itu. Ia juga tidak bisa bersikap keras, bisa-bisa para bocil itu menangis dan mengadu.


"Kau ibunya?"


"Ya, aku ibunya. Pergilah. Menjauh darinya. Jika aku melihat kau mengganggu putriku lagi, aku akan menjewer telingamu!"


"Kau pasti pembohong."


"Kenapa aku harus berbohong. Kau bertanya di mana ibunya, aku lah ibunya. Lalu apa lagi masalahmu, gadis kecil."


"Dia sungguh ibumu?" gadis yang sepertinya merupakan kepala suku di kelompok tersebut. bertanya kepada si gadis unik.


"Dia berkata seperti itu. Tentu saja dia ibuku. Dia datang untuk menjemputku. Biarkan kami lewat," si gadis unik menarik tangan Grace meninggalkan teman-temannya.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


"Kau mengingatku?"


"Tentu saja. Kau membuat ayahku pingsan. Sejak itu aku mengagumi. Kau orang pertama yang membuat ayahku tidak berdaya."


"Itu bukan pujian."


"Lemparan yang bagus. Dulu aku tidak punya cita-cita. Sekarang aku ingin menjadi pemain kriket sepertimu."


Wajah Grace tersipu malu. Selama ini, dia menganggap dirinya pengangguran tidak berguna. Siapa sangka bahwa di mata seorang gadis kecil, dia adalah panutan. Beginikah rasanya dipuja?


"Berkat lemparanmu, ayahku berdiam diri di rumah selama dua hari. Hal yang sangat langka."


"Oh, ya? Aku menyesal mendengarnya. Dia pasti sangat menderita."


"Hmm, ayahku bukan orang yang bisa berdiam diri. Terima kasih atas bantuanmu tadi."


"Teman-temanmu mengerikan sekali."


"Ya, aku tidak suka sekolah di sini. Apa yang kau lakukan di sini?"


"Oh," Grace menepuk jidatnya. Ia melupakan tugasnya. "Aku menjemput seseorang. Omong-omong di mana ruang kesehatan?"


"Apa yang akan kau lakukan di sana?"


"Menjemput seseorang. Mungkin kau mengenalnya. Dulce Lawrence."


"Dulce Lawrence? Kau baru saja bertemu dengan orangnya."


"Di mana?"


"Di hadapanmu. Aku Dulce Lawrence."


"Ouh..." Grace memekik. Lalu keduanya tertawa sambil melompat-lompat kecil. "Kau berbohong tentang perutmu yang sakit?"


Dulce mengangguk, "Kau melihat teman-temanku tadi. Sangat menjengkelkan."

__ADS_1


"Kau benar juga. Tapi berbohong tidak dibenarkan, gadis manis. Jangan lakukan lagi dan mari kita bersenang-senang!"


__ADS_2