My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Rapat Dengan Gavin


__ADS_3

"Mau bercerita? Aku akan hanya akan mendengarkan."


Oscar memandangi Grace dengan seksama. Selama ini tidak ada yang menawarkan seperti apa yang ditawarkan Grace kepadanya. Tidak pernah terpikar juga olehnya bahwa ia akan membagi ceritanya kepada seseorang. Cerita yang menurutnya merupakan aib, bukan topik perbincangan yang menyenangkan.


Oscar terbiasa menyimpan semuanya. Masalahnya dengan Jimmy juga sudah terjadi berulang kali. Bukan sesuatu yang baru hingga membuatnya stress. Pertengkarannya dengan Jimmy sudah seperti makanan sehari-hari, tidak ada yang perlu untuk diambil pusing. Ia justru senang melihat Jimmy naik darah. Bertanya-tanya kapan Jimmy akan tewas karena ulahnya. Sungguh, ia menantikan hal itu.


"Kau dapat dipercaya?" Oscar bukan tidak mempercayai Grace. Pertengkarannya dan Jimmy juga bukan sesuatu yang harus dirahasiakan. Ia hanya ingin menggoda Grace, melihat reaksi gadis itu saat diragukan.


"Jika kau meragukanku artinya kau tidak perlu bercerita kepadaku," Tidak ada penegasan bahwa dirinya orang yang patut dipercaya. Tidak ada reaksi berlebihan yang menunjukkan jika Grace tersinggung.


Oscar bergeming, cukup terkejut dengan reaksi yang diberikan Grace. Ia sudah cukup lama mengenal Grace tapi tidak pernah dekat secara personal.


"Apakah ada yang salah di wajahku, Oscar?" sekujur tubuhnya panas menemukan manik Oscar yang memandanginya dengan seksama. Grace juga bisa merasakan rona merah akan segera muncul di pipinya jika Oscar tidak buru-buru memalingkan wajah.


Oscar menggeleng santai, "Aku tidak menemukan bekas ruam di pipimu."


"Helli memberikan obat yang lumayan ampuh." Grace memegang kedua pipinya. Hangat.


"Hubunganku dengan ayahku tidak pernah akur. Mulailah terbiasa dengan pemandangan seperti tadi."


"Aku tidak tahu apa masalahmu dengan Mr.Lawrece. Dan sepertinya kau juga tidak ingin memberitahuku. Tidak masalah. Aku tidak akan menggali masalahmu. Tapi, Oscar, bolehkan aku mengatakan sesuatu?"


"Silakan,"


"Kau sudah mandi?"


Oscar menautkan alisnya. Bingung menanggapi pertanyaan tidak terduga itu.


"Itu pertanyaan, Grace. Apa aku sangat bau?" Oscar mengendus tubuhnya, tidak ada bau busuk yang menyengat. Hanya saja, aroma alkohol masih tercium dengan jelas.


"Tidak. Tidak. Kau sangat wangi. Aku suka aromanya. Aroma tanpa alkohol tentunya."


Jika wanita lain yang mengatakan hal tersebut, memuji aromanya, mungkin Oscar sudah menganggap itu sebagai rayuan atau undangan menuju ke ranjang.


"Ya, aku menghadiri pesta dan kalap."


"Pasti banyak wanita."

__ADS_1


"Wanita cantik, seksih dan menggoda. Aku tidak menyangkal."


"Itulah alasan kenapa kancingmu terbuka. Kau lupa mengancingnya kembali."


Oscar tergelak malu, "Terkadang situasi seperti itu memang di luar kendali. Tapi bisakah kau melupakan hal itu. Aku benci saat tidak terlihat keren," Oscar mengangkat kedua bahunya.


"Apakah minuman bisa membuatmu lebih tenang?"


"Aku justru menemukan diriku semakin pusing," akunya jujur. Ya, pada dasarnya, minuman haram itu hanya menambah masalah. Alkohol bukanlah solusi.


"Lalu kenapa kau mengkonsumsinya?"


"Entahlah. Omong-omong, kau sudah bertemu dengan Dulce?" Oscar sengaja mengganti topik. Ia tidak terbiasa mendengar nasehat dan ia tidak suka dinasehati. Oscar juga tidak terbiasa berbagi masalah pribadinya dengan orang lain. Sangat tidak nyaman rasanya.


"Dulce? Tidak, aku belum bertemu dengannya. Apakah ruam di wajahnya sudah sembuh?"


"Ya, sama sepertimu, hari ini dia juga kembali masuk sekolah."


"Anak yang manis. Kami akan bertemu akhir pekan. Jika suasana hatimu sudah membaik, bagaimana jika kita turun dan kembali bekerja."


"Aku akan pulang untuk berganti pakaian," Oscar berdiri, menepis debu di celananya. Kemudian ia mengulurkan tangan, membantu Grace untuk berdiri.


Grace menyunggingkan senyum lebar, "Terima kasih sudah mengorbankan jas-mu untuk kududuki."


"Astaga, apakah kau selalu bersikap manis seperti ini, Grace?"


"Manis? Di matamu aku manis?" kali ini Grace tidak bisa menghindari semburat merah muncul di pipinya.


"Ya, seperti kelinci putih yang sangat menggemaskan."


"Kelinci?" senyum di wajahnya perlahan memudar. Mendengar kata kelinci, ia jadi mengingat Damian yang juga menggambarkan dirinya dengan binatang mamalia kecil tersebut.


"Eh, kau tidak suka disamakan dengan kelinci?"


"Aku merasa bahwa aku lebih lincah darinya."


Setidaknya Oscar lebih peka dibanding duda tampan itu. Ya, Oscar yang terbaik.

__ADS_1


"Kau sudah memeriksa jadwalku hari ini?"


"Ya, kau ada meeting dengan Gavin jam tiga sore. Apakah kerja sama kalian berjalan lancar?" Grace juga tidak tahu tentang pertemuan ini jika Gavin tidak menghubunginya saat ia hendak berangkat bekerja. Ia tidak sempat bertemu dengan Gavin di meja makan karena ia pergi sebelum saudaranya itu turun dari kamar. Grace sangat bersemangat ingin bertemu Oscar hingga berangkat terlalu pagi.


"Ah, ya, hampir saja aku melupakannya. Ya, Gavin menghubungiku beberapa hari lalu, menerima tawaran kerja sama yang kuusulkan beberapa bulan lalu."


____


"Selamat sore, Mr. Vasquez." Grace langsung berdiri dari kursinya, menyambut Gavin yang baru datang tepat di jam 15.00. Ck! Waktu yang penuh dengan perhitungan. Sementara ia dan Oscar sudah sampai sejak 15 menit yang lalu.


Jika tidak di hadapan Oscar, Gavin sudah habis diamuk olehnya. Ia harus menahan diri sampai mereka bertemu di rumah nanti. Sekarang, saatnya menarik perhatian Oscar dengan menunjukkan kinerjanya yang bisa diandalkan. Ia harus bersikap profesional.


Namun, sepertinya tekadnya itu akan dihancurkan oleh saudaranya sendiri. Gavin berdecak dan menepis tangannya. Suadarnya itu juga melayangkan tatapan geli yang hampir membuat Grace menerjang dan mencongkel matanya.


"Basa basi yang menggelikan," Gavin menarik kursi dan segera duduk.


"Aku sudah memesan kopi untuk Anda, Mr. Vasquez. Kopi hitam dengan sedikit gula."


"Ciih... Apakah kau yang mendidiknya seperti ini?" Gavin bertanya kepada Oscar yang sejak tadi memperhatikan dalam diam interaksi dua bersaudara itu.


"Grace sangat bisa diandalkan."


Pujian Oscar membuatnya besar kepala. Gavin lagi dan lagi merusak suasana hatinya dengan tatapan yang seperti sedang meledeknya.


"Astaga, sepertinya kau sangat tidak terima aku mendapat pujian."


"Aku akan bangga jika kau memang layak mendapatkannya. Tapi, ya, harus kuakui, penampilanmu lumayan oke."


Grace membusungkan daddanya dengan bangga, "Tentu saja. Helli yang memilihkan pakaian ini untuk kukenakan."


"Istriku memang yang terbaik."


"Omong-omong dia tidak ikut bersamamu?"


"Dia butuh istirahat. Dan mungkin saat ini dia sedang tidur."


"Apa tujuan pertemuan ini? Tanda tangan kontrak? Jika begitu tanda tangan saja biar cepat selesai."

__ADS_1


"Astaga! Kusarankan kau segera mencari penggantinya, Kawan. Dia hanya akan mengacaukan bisnismu."


Oscar yang memperhatikan interaksi keduanya merasa cukup terhibur.


__ADS_2