
"Malangnya dirimu, pernikahan ini pasti sangat menyiksamu." Gavin duduk di sebelahnya, menyelonjorkan kaki panjangnya dengan kepala mendongak ke atas menatap langit.
Helli menoleh, seketika kagum dengan pemandangan di hadapannya. Rahang yang begitu kokoh dan terlihat.... seksii.... Ya, semakin terlihat memukau saat ia lebih memperhatikan jakun pria itu yang naik turun.
Tidak mendapat jawaban dari Helli, Gavin memiringkan kepala, dahinya mengernyit melihat cara Helli menatapnya. Pun ia segera menegakkan tubuhnya. "Ehhmm.." Ia sengaja berdehem, bukan untuk menyadarkan Helli tapi untuk mengembalikan kewarasannya yang sering tidak terjaga jika berhadapan dengan wanita cantik. Ya, tidak ada yang tidak mengakui kecantikan seorang Helli Lepisto.
"Mengapa menyiksa?" Helli menjawab dengan nada manis dan senyum bersahaja. Entah itu salah satu usahanya untuk menggoda spesies pria yang memiliki pertahanan tipis, atau Helli melakukannya tanpa sengaja. Di mana pun alasan yang paling benar diantara kedua opsi itu, judulnya Gavin terpesona. Ya, harusnya Gavin sudah tahu sejak dulu bahwa seorang Helli Lepisto bisa merayu, menggoda tanpa menyentuh sama sekali.
__ADS_1
"Ini kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang menarik, dan tentunya kau tidak termasuk di dalamnya."
Gavin tergelak, "Tapi bagiku, kau orang paling menarik yang kutemui di pesta ini, Helli." Gavin mulai melancarkan aksinya sebagai buaya. Seutas senyum bersahaja ia terbitkan di bibirnya, menatap Helli dengan tatapan lembut mendayu, seakan ia sangat memuja wanita di hadapannya itu. Atau apakah ia memang salah satu pria yang memang sangat memuja seorang Helli Lepisto? Hanya ia dan Tuhan yang tau.
"Apakah ini pujian atau rayuan?"
"Anggap saja keduanya." Gavin masih saja menatap lekat wanita itu, enggan untuk memalingkan wajah. "Aku tidak percaya kau muncul lagi. Kau menghilang begitu saja. Kau harus memberitahu kami bahwa cerita-cerita tentangmu itu benar atau tidak."
__ADS_1
"A.. Di-dimana Nicky?!" Helli mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Berdoa semoga pria di sampingnya itu tidak melihat tangannya yang gemetar hebat. "Pe-permisi," dengan senyum penuh maaf, Helli beranjak dari kursi taman. "Aku harus menghubungi temanku. Dan terima kasih atas bantuanmu tadi, Mr...."
"Gavin, namaku Gavin."
Helli mengangguk, "Baiklah, aku permisi." Helli segera menjauh, sementara Gavin tetap bergeming di tempatnya, menatap punggung Helli yang semakin menjauh. Seorang pelayan lewat di depannya, Gavin meminta segelas vodka, menyesapnya sedikit. Matanya terus mengawasi pergerakan Helli. Ia melihat gadis itu melepas sepatunya dan duduk di atas rumput. Gavin terus mengawasi wanita itu hingga ekor matanya menangkap seseorang yang berjalan mendekati Helli. Pun Gavin segera beranjak, membawa gelas minumannya bersamanya.
Helli mengembuskan napas lega. Menghirup dalam udara malam, kicauan burung menjadi hiburan tertentu untuknya. Degupan jantungnya mulai stabil, tapi tidak dengan kelaparan di perutnya yang semakin menyiksa. Ia akan memaki Nicky setelah ini. Andai ia punya kunci mobil dan kunci rumah, ia lebih memilih pulang. Untuk masuk kembali ke dalam ballroom terlalu beresiko.
__ADS_1
"Bukankah ini kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang penting, lalu kenapa kau bersembunyi di balik semak-semak ini, Helli."
Helli tersentak, ia mendongak, melihat sosok tampan yang menjulang tinggi. "Mr.Pelayan?" tanyanya dengan ragu. Lokasi mereka sangat minim cahaya, tubuh tegap nan tinggi itu juga menghalangi biasan cahaya dengan punggungnya yang lebar. "Apa yang kau lakukan di sini?"