
"Kalau begitu aku menunggu kau menyelesaikan kekacauan ini. Aku tidak ingin para wanita yang ingin mendekatiku merasa insecure hanya karena mengira kau adalah tunanganku. Kau tahu di mana pintu keluarkan?" Gavin mempersilakan Helli keluar. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Helli balik badan, pergi meninggalkan pria itu.
Begitu pintu ruangannya tertutup, Gavin menghempaskan bokongnya ke kursi, ia mengeluarkan ponsel, tersenyum melihat foto walpaper yang menyambutnya saat layar ponselnya menyala.
Pintu ruangannya tiba-tiba kembali terbuka, Gavin hendak mengumpat, tapi ketika ia melihat siapa yang berdiri di ambang pintu, ia berdecak.
"Jangan katakan kau berubah pikiran?" Gavin memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku.
Helli menggelengkan kepala, "Bukan itu. Tapi bisakah kau memberi saran kepadaku. Kira-kira alasan apa yang akan kuberikan kepada pers."
"Itu masalahmu bukan masalahku," sahut pria itu dengan nada malas.
"Ini baru hitungan hari saat aku mengumumkan pertunangan kita."
__ADS_1
"Seperti yang kukatakan itu masalahmu, Ms. Scandal. Mereka akan paham jika daftar skandal yang kau buat dalam hidupmu bertambah." Gavin tidak seramah tadi. Pria itu secara terang-terangan bersikap dingin kepada Helli.
Helli menggigit bibir dalamnya, jemarinya saling bertaut. Ia tidak ingin ada skandal baru. Tidak ingin melihat puluhan kamera tertuju ke arahnya, melayangkan pertanyaan menghina, juga merendahkan seakan Helli adalah manusia paling hina di dunia ini. Tapi memang tidak ada yang lebih hina selain melukai hati seorang ibu, bukan? Ya, Helli tahu jika dirinya terlalu bersikap kasar kepada Lonela Lepisto, sang ibu.
"Ku-kupikir kau bisa memberi saran," gadis itu bergumam, sangat berharap jika Gavin benar-benar bisa memberikan solusi kepadanya.
Gavin mengembuskan napas kasar, terlihat mulai jengkel. "Apakah anggapan orang-orang begitu penting untukmu."
"Kau bisa mencari pekerjaan lain yang tidak harus terlibat dengan pers," Gavin memberi saran. "Tapi jika kau hidup dengan memikirkan pendapat orang lain, itu tidak akan ada habisnya, Nona."
"Aku mencintai pekerjaanku. Aku mendapatkan lumayan banyak uang hanya dengan berlakon. Orang akan mengenalku, setidaknya ada yang tersisa dariku yang bisa kubanggakan. Aku tidak akan bisa mendapatkan pria yang kuinginkan jika tidak ada yang bisa kubanggakan atau tidak ada yang bisa dimanfaatkan pasanganku dariku. Setidaknya ketenaranku bisa berguna bagi pasanganku."
Gavin menggaruk kepala, ucapan Helli terlalu sulit untuk ia cerna. Pria yang diinginkan? Gavin tidak meragukan sedikit pun jika bagi seorang Helli Lepisto, menaklukkan seorang pria adalah hal yang mudah.
__ADS_1
"Dan pasangan yang kau inginkan harus pria kaya yang memiliki kuasa?"
"Ya, tentu saja."
"Kau takut miskin atau kau takut kebutuhanmu yang glamor itu tidak bisa kau penuhi, Helli."
"Aku takut semuanya!"
Gavin beranjak dari kursinya. Ia berjalan mendekati Helli, berdiri tepat di hadapan wanita itu.
"Katakan pada mereka bahwa kau mendatangi kantorku dan menemukanku bersama wanita lain. Katakan apa pun yang kau mau. Tidak masalah bagiku menampilkan diriku yang gila akan wanita. Tapi saat aku keluar dari ruangan ini, kuharap saat telepon-telepon itu berdering hanya meminta komentarku tentang diputuskan. Dan jika itu tidak terjadi, maka aku lah yang akan keluar membuat pernyataan tentang memutuskanmu dan aku akan menuntutmu. Buatlah pilihanmu."
Setelah mengatakan hal itu Gavin keluar dari ruangannya meninggalkan Helli yang masih berdiri di sana.
__ADS_1