
"Aku masih sungguh tidak percaya bahwa aku memang berhasil membuatmu hamil. Ini sungguh menakjubkan, Helli. Ini kejutan yang sangat luar biasa dan kau memang selalu penuh dengan kejutan. Astaga, aku tidak meragukan kemaskulinanku, tapi dalam satu kali percobaan, benar-benar mencetak gol tanpa hambatan. Aku benar-benar sangat gagah!"
Setengah jam berlalu dari kabar mencengangkan itu, Gavin belum berhenti mengungkapkan rasa yang membuncah di hatinya.
Matanya menatap penuh kagum, penuh kasih pada Helli yang terlihat sabar mendengarkan semua ungkapan hatinya. Tangan kekar pria itu berada perutnya, mengusap dengan lembut dan sesekali matanya mencuri pandang ke sana.
"Kapan ini akan membuncit? Aku...." Bugh! Satu bantal sofa mendarat di kepalanya. Jelas bukan Helli pelakunya.
Gavin menoleh ke belakang, menemukan wajah kesal sang adik tersayang. Grace memandangnya dengan tatapan tajam dengan bibir mengerucut.
"Apa masalahmu?" ia bertanya lempeng.
"Masalahku adalah kau!" Grace mengacungkan jari telunjuk ke arahnya. "Kau mengulangi kata-kata yang sama selama 45 menit. Gagah, maskulin, entah apa lah namanya. Telingaku berdenging mendengarnya dan kurasa Helli beserta janinnya yang di dalam perut juga merasakan hal yang sama. Membuncit, heh? Kau harus menunggu lebih lama!"
Gavin mengerutkan hidung, kemudian memiringkan kepala menatap Helli lalu memandang perut wanita itu, seolah matanya bisa tembus ke dalam perut untuk melihat bayi mereka.
"Kau bosan mendengarnya, Helli? Bayi kita tidak suka mendengar suaraku?"
Helli meringis, apa yang harus ia jawab. Sepihak, ia setuju dengan Grace. Helli juga menghitung bahwa Gavin mengulangi kalimat yang sama persis sebanyak empat kali. Wajar saja jika Grace merasa terganggu. Tapi di lain sisi, ia bisa memaklumi Gavin yang sedang menggebu-gebu. Jadi, dia harus piye?
"Tentu saja bayinya suka. Tapi yang dikatakan Grace juga benar," Helli buru-buru menambahi saat melihat bibir calon adik iparnya itu semakin mengerucut. "Kau mengulangi kalimat yang sama, Sa-sayang." Dengan gugup, Helli menambahi kata sayang di akhir karena wajah Gavin berubah masam. Berhasil! Senyum pria itu mengembang begitu mendengar kata sayang.
Astaga! Helli terjepit diantara Vasquez yang sangat posesif. Demi apa pun, dia menyukai ini!
"Aku menyukai caramu memanggilku. Bagaimana jika kita kembali ke kamar. Grace sangat mengganggu. Aku tidak ingin dia merusak kebahagiaanku."
"Tidak bisa!"
Grace beranjak dari tempatnya. Ia mendorong Gavin agar menjauh dari Helli, kemudian merengsek duduk diantara keduanya.
"Tidak ada main kamar-kamaran sebelum kau dan Helli menikah! Helli akan bersamaku sebelum dia sah menjadi istrimu."
Gavin memutar bola matanya, hasrat ingin mencekik Grace semakin menjadi.
"Helli mengandung anakku jika kau lupa, Grace. Jangan mengganggu kami."
"Kau menghamilinya sebelum waktunya. Kau pria brengsek."
__ADS_1
"Bayiku mendengar kata-katamu yang sedikit melukai hatiku."
"Ouh,, maafkan Aunty, Sayang, tapi, ayahmu memang sebrengsek itu." Grace menunduk mendaratkan satu kecupan di perut Helli yang masih rata.
Helli tersenyum, ribuan kupu-kupu serasa menggelitiki perutnya. Kebahagiaan ini terlalu sempurna.
"Kau harus tidur bersamaku, Helli. Aku akan melindungimu dan bayimu dari keliaran saudaraku. Ayo, aku tunjukkan kamarku." Grace berdiri, mengulurkan tangan kepada Helli.
Helli melirik kepada Gavin seolah sedang meminta izin. Pria itu mengangguk, barulah Helli menyambut tangan Grace. Kedua wanita itu meninggalkan Gavin.
"Sepertinya aku harus membeli sepatu untukmu, Helli."
"Kenapa begitu?"
"Stiletto yang kubeli tidak akan bisa kau pakai karena kondisimu yang sedang mengandung. Bagaimana bisa Gavin menghamilimu?"
"Apakah aku harus menceritakannya?" Helli berdehem, wajahnya bersemu merah karena malu. Hamil di luar nikah bukanlah sebuah prestasi.
"Jika kau tidak keberatan." Pernyataan lempeng Grace membuat Helli tersedak. Apakah Grace sedang meminta Helli bercerita tentang versi lengkapnya. Astaga, haruskah ia menjelaskan secara detail.
"Ka-mi ti-dur bersama." Helli berharap tiga kata dalam tanda kutip itu bisa menjelaskan semuanya. Ya ampun, kenapa juga Helli harus menjelaskan ini. Dia bisa saja menolak bukan.
Benar juga, ya. Helli membatin dalam hati. Terkadang, Helli bingung menyikapi sifat Grace yang kadang terlihat polos dan kadang justru terlihat sangat ahli alias suhu.
"Di mana kamarmu? Aku sangat mengantuk sekali." Helli mengubah topik pembicaraan. Itu lebih bagusnya dan juga Grace.
____
Rusell heran dan tidak menyangka bahwa Gavin akan datang menemuinya. Rusell juga sudah mendengar kabar tentang gosip yang menimpa Helli. Mencoba menghubungi Helli, tapi gadis itu tidak menjawab panggilannya.
"Apa Helli baik-baik saja?'
Hampir-hampir Gavin berdecak kesal mendengar pertanyaan Rusell yang menunjukkan kepedulian juga kekhawatiran terhadap calon istrinya. Tapi mengingat dirinya sudah menjadi pemenang, ia mencoba menahan diri.
"Ada aku, tentu saja dia baik-baik saja."
Ciih! Pada akhirnya dia tidak bisa jika tidak menyombongkan diri.
__ADS_1
Rusell menganggukkan kepala. "Syukurlah kalau begitu. Jadi, kedatanganmu?" Rusell bukan tipikal yang bisa berbasa basi. Kedatangan Gavin jelas bukan untuk bersilaturahim bukan pula untuk sekedar mengopi.
"Aku datang untuk memutuskan kontrak kerja antara Helli dan perusahaanmu."
Rusell tidak lantas menanggapi meski pernyataan Gavin terdengar sangat tidak sopan. Gavin tidak memiliki urusan antara kerja samanya dengan Helli.
"Berikan alasan kenapa aku harus mengikuti perkataanmu?" Rusell bertanya dengan nada juga mimik yang tenang.
Sikap dewasa yang membuat seorang Gavin sedikit tersentil. Tapi, memang dasar Gavin memiliki ketengilan yang hakiki, ia kembali memamerkan hubungannya dengan Helli. Menegaskan kepemilikan akan gadis tersebut. Oh, bukan gadis lagi, Helli sudah menjadi wanita yang sedang mengandung penerus Vasquez.
"Aku dan Helli akan segera menikah."
Rusell sedikit terkejut, tapi dengan cepat ia berhasil mengembalikan ekspresi wajahnya yang tenang.
"Ini kabar yang begitu baik."
"Ya, untuk itu lah, aku ingin Helli berhenti dari semua pekerjaannya." Bukan ini alasan sebenarnya. Gavin yakin begitu Helli mendengar berita tentang pemutusan kontrak kerja dengan Rusell, kekasihnya yang cantik itu akan marah padanya. Gavin tahu jika Helli sangat mencintai dunia model, tapi Gavin tidak ingin menanggung resiko dengan menahan kecemburuan kepada Rusell yang menurutnya memberi perhatian berlebih kepada Helli.
"Aku tetap harus berbicara dengan Helli untuk bisa memutuskan."
"Helli sudah menyerahkan semua keputusannya kepadaku. Helli saat ini sedang mengandung."
Kali ini Rusell benar-benar tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Pria itu bahkan sampai tersedak.
"Helli harus banyak istirahat, demi kesehatannya juga janinnya. Aku akan membayar dendanya sesuai dengan yang sudah tertulis di kontrak."
Dengan berat hati, Rusell akhirnya menyanggupi.
"Meski aku setuju, aku tetap harus berbicara dengan Helli."
"Aku yang akan menghubungimu nanti begitu kami bersama." Dalam arti, jangan coba-coba menghubungi kekasihku di belakangku!
Rusell tidak menanggapi, pria itu jelas tahu arti di balik pernyataan Gavin. Ia bukan pria bodoh.
"Kurasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Aku akan melanjutkan pekerjaanku." Rusell akhirnya bisa membalas keangkuhan Gavin dengan cara mengusir pria itu dengan halus.
Gavin berdiri dari kursinya, "Ya, aku juga bukan pria pengangguran. Banyak hal yang harus kuurus terkait pernikahanku dengan Helli yang akan digelar sebentar lagi." Gavin tetaplah Gavin, bukan pria yang mau kalah begitu saja.
__ADS_1
"Kirimkan email kepadaku mengenai total kerugian yang harus kuganti."