My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Kau Ingin Merayunya?


__ADS_3

"Kau memang menarik dengan setelan KW yang kau kenakan. Kau terlihat seperti pria mahal. Eksekutif muda kata raya. Dan wajah rupawanmu cukup mendukung. Menurutmu, gadis itu terpesona dengan wajahmu atau gayamu yang parlente?"


"Aku tidak tahu dan tidak mau tahu."


"Uwu, berlagak jadi billionaire tampan yang angkuh. Ck! Meski aku tidak ingin mengakuinya, saat ini kau memang terlihat seperi itu sekarang. Visualmu oke juga buat dijadikan objek fantasi."


Helli tidak menyadari jika mereka sudah berada di depan ruang ganti.


"Masuklah dan ganti pakaianmu." Gavin mendorongnya masuk ke dalam sebelum Helli sempat memberikan protes.


Tidak berapa lama, Helli keluar. Gavin kembali menggenggam tangannya, membawanya keluar, lalu mendorongnya masuk ke dalam mobil.


"Kau sudah membayarnya?"


"Kau pikir kita bisa keluar begitu saja tanpa membayar?"


"Kita mau kemana?"


"Menonton pertandingan kriket."


"Oh."

__ADS_1


Hanya itu yang Helli ucapkan. Ia juga sedang senggang. Tidak ada salahnya menemani pria itu menonton. Anggap saja ini adalah kencan. Helli bergumam ria di dalam hati.


"Kau tidak keberatan?" Gavin bertanya ketika tidak mendengar nada protes dari mulut Helli. Tadi pagi, Gavin mendapat pesan dari adiknya agar membawa Helli datang untuk menonton pertandingannya. Ya, kegiatan paling normal yang pernah dilakukan Grace adalah ikut bergabung dalam klub kriket. Grace adalah pemukul yang hebat. Dia selalu membawa kemenangan pada tim mereka.


"Tidak. Kau sudah membawaku belanja, mana bisa aku protes."


Gavin tergelak, "Kau tahu caranya berterima kasih."


"Tentu saja. Kau tidak akan rugi-rugi amat memiliki tunangan palsu sepertiku. Aku tidak akan mengambil keuntungan begitu saja. Kau juga harus tahu caranya memanfaatkanku."


"Akan kuingat kata-katamu dan kita sudah sampai," Gavin memberikan topi juga kaca mata pada Helli. Pun ia melepaskan jas dan kemejanya hingga menyisakan t-shirt putih polos sama seperti Helli. Gavin juga melepaskan sepatu pentofelnya menggantinya dengan sepatu sport yang senada dengan t-shirtnya.


"Wah, untuk pertama kalinya kau parkir di area yang benar. Kupikir kau tidak bisa membaca." Helli melompat turun sebelum Gavin turun untuk membuka pintu untuknya.


"Kau melakukan sesuatu yang benar jik mood-mu sedang buruk?"


"Hmm, bisa dikatakan seperti itu."


"Astaga, hidupmu ada masalah apa?"


Gavin tidak menanggapi lagi, mereka sudah ada di pintu masuk. Gavin melindungi Helli saat melewati kerumunan. Penontonnya lumayan banyak. Gavin menuntunnya untuk duduk di tribune paling depan.

__ADS_1


"Oh Tuhan, apakah aku salah melihat!"


Helli tiba-tiba memekik dengan suara tertahan. Hanya berjarak dua bangku, Glend Vasquez duduk di sana, menatap penuh minat ke arah lapangan. Helli mengikuti arah pandangan pria itu dan langsung menemukan apa yang menjadi pusat perhatiaan seorang Glend Vasquez.


"Ah, putrinya ikut bertanding rupanya. Ouh, manis sekali. Lalu di mana istrinya?" Helli berbicara sendiri tanpa melepaskan tatapan kagumnya dari pria setengh baya di dekatnya itu. Ingin rasanya Helli datang menghampirinya dan menanyakan banyak hal kepada pria itu.


Helli mengurungkan niatnya tersebut mengingat ada ribuan pasang mata di sana. Meski ia bukan model yang terkenal lagi, tetap saja para pengincar berita bisa mengambil fotonya dan mengarang cerita dengan menggunakan sudut pandang mereka. Itu yang tidak Helli sukai. Glend Vasquez adalah pria terhormat, bisa rusak reputasi pria itu jika tertangkap kamera sedang bersamanya.


"Aku juga ingin melihat istrinya yang menawan itu."


"Ibuku tidak suka keramaian."


"Hah?" Helli berbalik menoleh ke arah Gavin. "Maaf, kau mengatakan sesuatu?"


Gavin menggeleng.


"Gavin, apakah Glend Vasquez pernah menyambangi bengkelmu? Ah, pria berkelas sepertinya tidak mungkin mendatangi bengkelmu." Gavin belum memberikan jawaban, Helli sudah membuat kesimpulan. Itu sangat menyebalkan.


Gavin berdecak. "Kenapa kau mengatakan begitu? Bengkelku adalah tempat berkumpulnya para konglomerat."


"Bengkelmu terlihat murahan dengan semua poster yang melekat di dindingmu. Aku tidak yakin seorang Glend mampu berlama-lama di sana. Tapi jika memang dia adalah salah satu pelangganmu, bisakah kau mengenalkan aku kepadanya? Ah, aku ingat, saat kau mencuri ciumanku, kau sedang duduk bersamanya. Ayo, Gavin, kenalkan aku padanya!"

__ADS_1


"Kau ingin merayunya?"


__ADS_2