My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Pertunangan Yang Berakhir


__ADS_3

"Jadi kau tidak masuk ke kamarku?"


"Aku masuk bersama Addrian dan setelahnya aku kembali ke kamarku."


"Apakah aku meracau saat sedang mabuk?"


Helli menggeleng, "Kau langsung tidur. Addrian lah yang membantumu naik ke atas ranjang."


"Aku merasakan sesuatu yang aneh," ia bergumam kembali.


"Sesuatu yang aneh?" tanya Helli kemudian.


Dua kali Gavin menggumamkan hal itu, dua kali pula Helli merespon dengan pertanyaan yang sama. Jantungnya ketar-ketir, khawatir jika Gavin mengingat percintaan mereka tadi malam.


"Ya, aku seperti sedang bercinta. Jika aku bersama Addrian, sangat tidak mungkin aku bercinta dengannya," ia bergidik jijik.


"Jadi maksudmu, kau bercinta denganku?" Percayalah, Helli memuji dirinya sendiri yang berhasil mengeluarkan suara tanpa bergetar atau gugup. Tidak sia-sia ia menjadi aktris. Godaan ingin memegang jantungnya, Helli tahan sekuat tenaga. Demi Tuhan, ia merasakan jantungnya hampir meledak karena merasa gugup.


Telinga Gavin merah mendengar pertanyaan blakblakan dari Helli. Gavin jadi membayangkan seperti apa rasanya bercinta dengan Helli. Astaga, selalu saja tidak terkendali jika berhadapan dengan Helli.

__ADS_1


"Aku mabuk, tapi tubuhku terasa segar dan enteng. Aku tidak bermaksud menuduhmu, tapi, ini... Bagaimana aku menjelaskannya. Aku merasa puas. Tidak pernah sepuas itu sebelumnya. Aku hanya merasa takut mungkin saja aku melukaimu?"


Tidak, Gavin. Kau memberikan hal terindah untukku. Memilikimu walau hanya satu malam.


"Aku merasa seperti memperawani seseorang."


"Dan menurutmu aku perawan?" Sebelum Gavin sempat menjawab pertanyaannya, Helli segera menambahkan ucapannya, "Kurasa kau sedang mimpi basah, Gavin." Helli mencibik jijik.


"Sebelumnya aku juga berpikir demikian," Gavin tiba-tiba berdiri. "Tapi tidak ada jejak di sini, Helli. Aku tidak basah sama sekali." Gavin menunjuk celananya. "Kau lihat, ini kering."


Apa-apaan pria ini? Mendadak bodoh dan polos.


Helli segera memalingkan wajahnya. Darahnya berdesir saat mengingat benda itu merobek miliknya.


Gavin kembali duduk, "Dia mengajakku menikah. Katakan apa yang harus kulakukan?" Gavin menembus manik wanita itu. Mencari-cari sesuatu di sana.


Helli tersenyum, "Apa kataku, kau akan mendapatkannya. Apa lagi yang kau tunggu, katakan, Ya, mari kita menikah, Mona!"


Gavin terdiam untuk sesaat. Pikirannya tidak bisa fokus.

__ADS_1


"Aku menyelesaikan syuting dengan cepat agar bisa mengakhiri pertunangan palsu ini."


Gavin memperhatikan wajah Helli dengan seksama. Senyum indah masih membingkai di parasnya yang cantik.


"Aku turut bahagia untukmu, Gavin." Helli mengacak rambut Gavin dengan gemas. Helli dibuat tersentak saat jemarinya menyentuh helaian lembut rambut pria itu. Buru-buru Helli menarik tangannya kembali.


"Ah, dan ini...." Helli melepaskan cincin pertunangan mereka. "Aku mengembalikannya kepadamu."


Helli menarik tangan Gavin dan meletakkan cincin itu di atas telapak tangan pria itu.


"Terima kasih untuk semuanya, Gavin." ucap Helli dengan tulus. "Aku mendapatkan karirku kembali. Dan karena kau dan Mona akan menikah, aku akan segera pindah. Hari ini aku akan mencari rumah baru."


"Inikah yang kau inginkan, Helli?" Gavin meremass cincin itu di tangannya.


Pertanyaan itu bukan respon yang Helli harapkan.


"Apa maksudmu?"


"Jadi, karena pertunangan kita sudah selesai, aku harus menerima lamaran Mona?"

__ADS_1


"Ya, itulah yang memang seharusnya. Kau mendapatkan Mona, aku mendapatkan karirku. Baiklah, aku kembali ke kamar dulu, aku berjanji dengan seseorang untuk menemaniku pergi mencari rumah." Helli berbalik, tapi Gavin menahan tangannya. Bolehkah aku berharap bahwa pria ini akan menghentikanku dan memintaku agar tetap tinggal.


"Kau belum sarapan. Duduklah, aku akan membuatnya." Gavin segera berdiri, mengambil sereal dan menuangnya ke mangkuk. "Pergilah setelah sarapan," ucap Gavin lalu pergi meninggalkan dapur.


__ADS_2