
"Selamat pagi semua," Grace menyapa keluarganya dengan senyum merekah di wajah. Gadis cantik itu juga sudah mengenakan pakaian rapi, siap berangkat untuk bekerja.
Ini adalah hari pertamanya sebagai wanita karir. Terima kasih kepada ibunya dan juga saudari iparnya yang berhasil meyakinkan ayah dan saudaranya agar bersedia memberi izin kepada Grace. Finally, inilah harinya. Sungguh ia sangat bersemangat. Bersemangat untuk bekerja dan lebih bersemangat untuk melihat Oscar. Lima hari dalam sepekan, ia akan menghabiskan waktu bersama Oscar lebih dari delapan jam. Oh Tuhan, membayangkannya saja sudah membuatnya bahagia.
"Selamat pagi, kau cantik sekali," puji Helli sambil tersenyum.
"Ini berkatmu, Kakak ipar," Grace mengerling jenaka kemudian membungkuk untuk memberikan kecupan kepada Helli. "Kau rela meminjamkan beberapa pakaian dan sepatu untukku."
Grace mengenakan celana panjang hitam dipadukan dengan kemeja putih dan jas yang senada dengan celananya. Semua yang ia kenakan adalah milik Helli. Termasuk sepatu flat yang ia kenakan. Awalnya Helli menyarankan agar Grace mengenakan rok pendek, tapi Grace mengatakan ia tidak percaya diri untuk mengenakan rok yang mempertontonkan kakinya walau menurut Helli tidak ada yang salah dengan kakinya.
"Omong-omong, bagaimana kabar keponakanku di dalam sini," Grace berjongkok, menempelkan telinga si perut Helli yang masih rata. "Dia sudah bisa menendang?"
"Bagaimana bisa menendang jika Daddy-nya jarang mengunjungi untuk mengajarinya tekhik menendang," celetukan itu berasal dari saudaranya. Dilontarkan dengan keketusan yang bersumber dari lubuh hati terdalam.
Untung saja ayah mereka belum turun, jika tidak, pria tua malang itu sudah pasti tersedak mendengar kalimat frontal putra kebanggaannya tersebut.
"Mulai nanti malam berhentilah mengacaukan hidupku, Grace! Biarkan aku dan istriku tidur dengan tenang."
"Astaga, pagi-pagi kau sudah mengeluarkan taring." Grace berdiri dan menarik kursi untuk dirinya. Tidak berapa lama ayah mereka datang bersama ibunya. Kedua orang tuanya mendaratkan kecupan sayang di pipi dan pucuk kepalanya. Helli mendapatkan hal serupa dari ibu mertuanya dan sapuan lembut di kepala dari sang ayah mertua.
"Apa masakannya kurang enak?" Bella menyuguhkan teh untuk suaminya.
"Kapan masakanmu tidak enak, Mom. Ini enak sekali." Helli tidak berbohong, ia bahkan sudah menghabiskan jatahnya hingga bersih tak bersisa.
"Lalu kenapa wajah suamimu ditekuk seperti itu. Terlihat kecut, sungguh sangat tidak sedap dipandang."
"Gavin mengalami masalah dengan indra perasa dan pencernaannya, Mom." Grace menyahut sambil terkikik geli. "Dia tidak bisa menikmati makananmu."
__ADS_1
"Kau sakit?" kali ini Ayah mereka lah yang bertanya.
Gavin mendengus, bagaimana wajahnya tidak kecut. Ia dan Helli sudah menikah selama satu bulan dan selama itu pula Grace selalu muncul bak jelangkung saat malam tiba atau disaat mereka berduaan. Entah itu siang, pagi, atau sore. Bahkan saat Gavin menghubungi Helli agar menyusul ke kantor, Grace dengan kejamnya menempel bagai lem rucika di tubuh istrinya.
Itulah alasan mengapa ia akhirnya setuju saat Helli membujuk Gavin untuk memberi izin kepada Grace. Dengan begitu ia bisa berduaan bersama Helli saat adik kesayangannya itu bekerja. Ayolah, Men, mereka adalah pengantin baru. Masih hangat-hangatnya untuk bermesraan. Dan karena kondisi Helli yang sedang hamil muda, dokter tidak menyarankan mereka untuk pergi berbulan madu ke luar kota mengingat bahwa Helli juga masih dalam suasana berduka. Emosinya masih naik turun.
"Aku dan Helli sebaiknya pindah ke rumahku, Dad."
"Tidak bisa!"
Gavin memutar bola matanya dengan jengah. Lagi dan lagi Grace yang merespon.
"Maksudku, aku juga akan ikut pindah denganmu. Jangan pisahkan aku dengan Helli."
"Kau lah yang menciptakan jarak antara aku dan istriku."
"Tapi aku keberatan!" Astaga! Haruskah Gavin mengatakan secara terus terang kepada Grace bahwa ia dan Helli perlu bercinta demi menguatkan imun masing-masing.
"Helli tidak keberatan dan aku tidak peduli jika yang keberatan adalah dirimu!"
"Astaga! Helli sayang, katakan kepada sahabatmu itu bahwa sesungguhnya kau sangat keberatan." Gavin menggenggam tangan Helli dan menatap istrinya tersebut dengan tatapan pasrah yang penuh dengan permohonan.
"Apa yang mereka ributkan?" Glend bertanya dengan bingung. Mereka memang tidak tahu apa yang terjadi antara ketiga anak-anak mereka karena kamar mereka berada di lantai bawah.
"Aku juga tidak tahu. Habiskan tehmu, biar kita bisa pergi, berjalan santai keliling komplek. Aku mendengar anjing Mrs. Jacob melahirkan."
"Aku tidak tahu jika Mrs. Jacob memelihara anjing. Seingatku keluarga itu memelihara beberapa ekor kelinci. Mungkin yang kau maksud adalah kelinci, cara mia."
__ADS_1
"Mrs.Jacob adalah dokter hewan. Binatang apa pun ada di sana. Entah itu anjing atau pun kelinci. Semuanya datang silih berganti untuk berobat. Aku sudah selesai." Grace berdiri dari tempatnya. "Bagaimana penampilanku, Mom?" Grace memutar tubuhnya di hadapan semuanya.
"Terlihat lebih manis dari biasanya. Kau mengoleskan lipstik di bibirmu?"
"Matamu jeli sekali, Mom. Ya, Helli menyarakan agar wajahku tidak terlalu pucat. Rasanya juga enak manis dan wangi." Grace menyapu bibirnya dengan lidah dan menyecap rasa lipstik tersebut. "Rasa ceri."
Ibunya tertawa melihat tingkahnya tersebut begitu pun dengan Helli.
"Tolong doakan aku, Mom. Aku gugup sekali."
"Gugup karena ingin bertemu dengan crush-mu?" Helli menggodanya.
Grace tersipu, ucapan Helli benar adanya. Ia bahkan sudah menyusun kalimat sapaan saat bertemu dengan Oscar. "Nanti kita akan bergosip tentang hari pertamaku. Istirahatlah lebih cepat sehingga saat aku pulang kau sudah segar dan siap mendengar ceritaku hari ini."
"Aku dan Helli akan pindah!" tandas Gavin dengan kesal. Bisa-bisanya adiknya itu sudah menyusun jadwal untuk bergosip dengan istrinya. Astaga, ia butuh dimanja-manja!
"Ancam terus! Ya sudah, aku tidak akan mengganggu malammu bersama Helli. Aku akan tidur di kamarku dengan baik dan manis. Jangan pindah."
"Baiklah kalau begitu. Semoga sukses di hari pertamamu, adikku sayang."
"Hmm, terima kasih. Doa dan harapanmu biasanya tidak manjur." Tandasnya dengan lempeng. "Aku ingin Mom yang mendoakanku."
"Semoga semuanya berjalan lancar." Bella mengusap kepala putrinya. "Dan semoga kau bisa mengatasi semua pekerjaanmu. Saat kau sudah memutuskan untuk terjun ke suatu tempat, ingatlah bahwa semuanya tidak akan sama dengan yang ada di sini. Mungkin kau akan menemukan kebahagiaan atau juga luka. Mom berharapa kau bisa mempertanggungjawabkan pilihanmu. Menjadi sekretaris bukanlah hal yang mudah. Tapi, Mom, percaya kau pasti bisa bekerja dengan baik."
Grace menganggukkan kepala, "Semoga. Aku akan mencintai pekerjaanku ini seperti aku mencintai kalian, Mom. Dan sebagai bonusnya, aku akan membawa menantu untuk kalian. Ini tidak akan lama. Bersiaplah!"
Ayahnya seketika tersedak. "Kau ingin bekerja atau mencari jodoh?"
__ADS_1
"Jika keduanya bisa dalam satu kali tepuk, kenapa tidak! Pekerjaan dan jodoh, aku akan mendapatkannya, Dad!"