My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Tidur Berjalan


__ADS_3

Makan malam mereka berantakan. Helli hanya memakan dua lembar selada sementara Gavin sepertinya belum memakan apa-apa sama sekali. Setelah bisikan yang dilontarkan Helli mampu terserap oleh akal dan pikiran Gavin, mereka berdua kompak berdiri dari masing-masing kursi. Gavin mendorong Helli menyingkir dari hadapannya. Ia melangkah cepat lalu menaiki dua anak tangga sekaligus. Terlanjur malu.


Setelah Gavin tidak terlihat lagi, Helli mengembuskan napas panjang. Kedua tangannya mendekap dadanya yang bergemuruh tidak karuan. Ia juga merasakan sekujur tubuhnya panas dingin. Kulit wajah Gavin begitu mulus. Ia tidak menyangka jika Gavin yang berprofesi sebagai montir bisa memiliki kulit yang cukup sehat dan terawat.


Helli berbalik, memutar tubuhnya, seperti seorang yang kehilangan jiwa, Helli berjalan lambat menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, ia langsung menjatuhkan dirinya ke lantai. Ia terkejut, shock, dan entah apa lagi sebutan yang menggambarkan perasaannya saat ini. Helli menyadari jika apa yang ia lakukan beberapa menit lalu terhadap Gavin adalah upaya untuk melindungi dirinya. Bukan dari Gavin, melainkan dari dirinya sendiri, dari ketakutannya untuk mengenal kembali apa itu cinta, cinta yang berbeda dari yang ia rasakan sebelumnya. Tapi sebesar apa pun ia menyangkal, kebenaran tetaplah kebenaran. Cinta bisa datang kepada siapa dan tidak ada satu pun yang bisa kapan cinta itu datang. Kapan panah cinta membidik sasarannya.


Seperti yang dikatakan Gavin saat di meja makan, bahwa benar sesungguhnya ia sudah terhipnotis oleh pesona pria itu. Kelemahan Helli adalah mudah terperangkap dalam rasa nyaman yang ditawarkan seseorang. Kali ini, yang ia rasakan bukan hanya rasa nyaman, tapi lebih dari itu. Ada rasa asing, rasa yang begitu manis juga mematikan. Ya, begitulah sejatinya cinta, bukan? Mengandung banyak makna, tergantung dari yang mengalami cinta itu sendiri.


Cinta, indah jika ditemukan pada orang, waktu dan tempat yang tepat. Sebaliknya, cinta hanya akan menyesakkan dada jika diarahkan pada orang, waktu, dan tempat yang salah. Tidak akan menciptakan bunyi yang indah jika tangan hanya bertepuk sebelah. Tepukan yang mengambang di udara tidak akan menimbulkan bunyi apa-apa selain kehampaan. Dan itulah yang akan terjadi jika Helli memupuk rasa itu. Ia harus teguh dengan pendiriannya.


Jangan rapuh dan terperdaya oleh rasa nyaman yang ditawarkan. Bisa saja Gavin tidak menawarkan tetapi mungkin memang sikap dan sifat pria itu yang memang hangat dan apa adanya. Dan Helli tau, itu lah yang berbahaya. Selain mengingat bahwa Gavin tidak akan pernah menoleh kepadanya, ia juga harus mengingat tujuan awalnya. Mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk bisa membayar utang ibu dan juga bisa membayar seseorang yang kelak bisa membebaskannya.


Helli menatap kedua tangannya, tangan yang menyentuh wajah Gavin beberapa saat lalu. Debaran jantungnya masih menggila dan ia tahu apa alasan di balik irama jantung yang tidak seirama tersebut.


"Cari kesibukan, Helli, cari kesibukan. Apa yang harus kulakukan?"


Helli berdiri perlahan, ia manarik kopernya, mencari sesuatu untuk mengalihkan fokusnya. Helli mengeluarkan isi kopernya, melemparnya begitu saja. Kemudian, ia mengeluarkan sebuah buku dengan foto Glend Vasquez terpampang di sampulnya. Di buku itu, selain bercerita tentang kesuksesan karirnya, Glend juga menuliskan sekilas kisah yang ia lalui bersama sang istri. Biasanya, membaca isi buku tersebut bisa membuatnya sedikit tenang, tapi tidak kali ini. Hatinya sibuk meneriakkan jika ia sedang jatuh cinta.

__ADS_1


Helli meletakkan buku tersebut, kembali mencari sesuatu di dalam kopernya. Beberapa novel love story, ia menggeleng, membaca novel romantis disaat kondisinya seperti ini justru akan membuatnya lebih berkhayal tingkat tinggi.


"Kurasa tidur adalah solusi." Ia bermonolog. Memainkan ponsel juga bukan solusi baginya. Helli jarang menggunakan ponsel miliknya. Ia tidak ingin melihat berita tentang dirinya tiba-tiba muncul di layar ponselnya. Ponsel bukan hal penting baginya.


Helli melepaskan baju juga celananya hingga menyisakan **********. Menghembuskan napas lega begitu ia merebahkan tubuh di atas ranjang empuk nan wangi. "Selamat malam, Helli."


Helli segera memadamkan lampu. Berharap jika esok hari, perasaannya sudah lebih tenang dan terkondisikan.


🌷


Jika sudah bergumul dengan pekerjaannya, pria itu sering lupa waktu. Gavin memeriksa semua laporan yang dikirim ke emailnya. Mempelajari kontrak kerja yang ditawarkan kepada mereka, Vasquez Company. Jika menurutnya, kerja sama itu menguntungkan, ia akan memberi perintah agar menerima kerja sama tersebut.


Selesai dengan pekerjaan yang berhubungan dengan Vasquez, pun ia beralih pada pekerjaan sampingannya. Montir tajir. Kembali ia memeriksa laporan tentang alat, bahan, atau pun hal lainnya yang diperlukan untuk bengkelnya.


Selesai dengan pekerjaannya, Gavin melirik jam tangannya yang menunjuk ke angka tiga pagi buta. Ia memutuskan untuk beristirahat, tapi tiba-tiba teringat tentang pria yang sedang diincar oleh adiknya, Grace. Pria playboy yang tidak ada beda dengannya.


Namun, saat jemarinya mengetikkan satu nama, ia mendengar pintu kamarnya dibuka. Dahinya mengernyit, siapa yang masuk ke kamarnya? Gavin menggeleng, bukan itu pertanyaannya, tapi kenapa Helli masuk ke kamarnya? Hanya ada mereka berdua di rumah ini, jadi apa yang dilakukan wanita itu di kamarnya saat dini hari.

__ADS_1


Gavin keluar dari ruang kerjanya, tertegun melihat penampilan Helli yang setengah telanjang. Sepertinya mulai sekarang ia lebih menyukai warna fuchsia dibandingkan merah, hitam, biru, putih dan warna lainnya. Ya, hanya ada bra dan dalaman berwarna fuchsia yang melekat di tubuh gadis itu.


Gavin terus memperhatikan Helli yang berjalan menuju ranjang miliknya. Helli menabrak sofa yang berada di kaki ranjang kemudian gadis itu naik ke sana, jalur pintas menuju ranjang. Helli merebahkan tubuhnya, tidur dengan cara memunggungi Gavin. Menekuk kakinya, hingga ia terlihat seperti janin di dalam kandungan, rentan dan butuh perlindungan.


Gavin berjalan mendekat, ia mengitari ranjang untuk menatap wajah gadis itu. Gavin langsung mengerti jika Helli mengalami gangguan sleepwalking. Gavin segera mengunci pintu kamarnya untuk mengantisipasi jika Helli kembali berjalan dalam keadaan tidur. Keluar dari kamar. Untung, jika Helli kembali ke kamar yang ia tempati, tapi bagaimana jika Helli terjun bebas dari lantai dua. Bisa dipastikan jika Helli mengalami patah tulang.


Gavin naik ke atas ranjang setelah menunggu Helli tidak bergerak lagi, menarik selimut menutupi tubuh mereka. Lama ia memandangi wajah Helli, bertanya-tanya tentang apa yang sudah dialami gadis itu selama hidup.


Tiba-tiba Helli merapatkan tubuh mereka. Wajahnya menempel di dada Gavin, tangannya melingkar di perut pria itu. "Hangat," gadis itu bergumam dalam tidurnya.


Gavin terkekeh, "Jika begitu kenapa kau berpakaian seperti ini? Aku bisa salah faham, Nona." Gavin semakin merapatkan tubuh mereka, pun ia memeluk Helli, memberi kehangatan yang dibutuhkan gadis itu.


Sungguh, jika ia kehilangan akal sehat, ia akan melahap Helli detik ini juga. Percayalah, Helli seperti peri nakal yang sangat menggoda. Ia kembali bereaksi tanpa bisa ia kendalikan. Mengingat waktu sudah menjelang pagi, Gavin memilih untuk memejamkan matanya, mengalihkan jiwa lelakinya yang meronta keluar untuk menyalurkan hasrat.


Namun, sebelum ia berhasil memejamkan mata, suara Helli berhasil membuat kantuknya hilang.


"Mom, kenapa kau tega. Aku tidak mencintainya! Maksudku, cinta yang kumiliki tidak seperti cinta yang kau pikirkan, Mom."

__ADS_1


__ADS_2