My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Rebutan Stiletto


__ADS_3

"Apa aku terlihat mengenakan ini?" Grace mengambil sebuah mini dress lalu menempelkannya di tubuhnya.


"Apa pun yang kau kenakan akan terlihat bagus," Helli menanggapi. Gadis itu juga mengambil beberapa dress untuk ia coba. Dahinya mengernyit saat melihat Grace mengembalikan gaun tersebut.


"Kenapa kau mengembalikannya?"


Grace menggeleng, "Aku kurang nyaman mengenakannya. Kakiku tidak sejenjang kakimu. Bokongku juga tidak bohay sepertimu dan ini," Grace memegang kedua asetnya. "Ukurannya sangat mini. Pakaian casual adalah yang terbaik."


Sejauh dalam ingatan Helli, Grace memang selalu mengenakan t-shirt yang dipadukan dengan celana jeans.


"Itulah kenapa aku sangat mengagumimu. Kau memiliki semua apa yang diinginkan wanita. Membuat iri saja."


"Astaga, aku tidak melihat ada kekurangan di dalam dirimu. Jangan melihat apa yang ada pada diri orang lain. Kau akan terlihat cantik jika kau percaya diri dengan apa yang kau kenakan. Aku tidak memintamu mengenakan dress agar terlihat feminin, aku hanya ingin kau percaya diri. Dengan tampilan yang seperti ini kau juga sudah terlihat memukau."

__ADS_1


"Oh, Helli, aku memang tidak salah mengidolakanmu. Aku merasa terhibur dengan kata-katamu," Grace menatapnya dengan haru. Mudah sekali membuat gadis itu tersentuh.


Helli sendiri sangat menyukai penampilan Grace yang apa adanya. Terlihat santai dan tidak neko-neko. Jika Grace mengatakan merasa iri terhadapnya, Helli juga merasakan hal serupa. Grace tidak perlu melakukan apa pun untuk menarik perhatian orang lain. Sedangkan Helli, ia harus menjaga bentuk tubuhnya atau semua yang ada pada dirinya agar tetap terlihat menarik. Dengan begitu tawaran kerja akan datang kepadanya.


"Aku justru sangat iri padamu," aku Helli dengan jujur. "Kau memiliki paras yang cantik meski tanpa sentuhan make up."


Semua yang ada pada diri Grace terlihat natural. Bibirnya berwarna merah muda meski tanpa sapuan lipstik. Pipi Grace yang sedikit tembem juga putih mulus tanpa adanya noda bekas jerawat. Sebelum memutuskan untuk berbelanja, mereka pergi ke salon. Grace hanya mencuci rambut, tidak repot-repot melakukan pedi meni. Benar-benar gadis yang tidak ribet karena tanpa perawatan mahal, ia memang sudah terlahir dengan indah karena diproduksi dari pabrik yang luar biasa.


"Kau juga memiliki orang tua yang luar biasa yang sangat menyayangimu."


Undangan dari Grace tentu sangat menggiurkan. Helli mungkin akan menyanggupinya tanpa berpikir panjang andai ia belum tahu jika Gavin adalah seorang Vasquez.


"Karena aku sangat senang hari ini, aku akan membelikan hadiah untukmu. Kulihat kau sudah memilih banyak dress, kalau begitu aku akan menghadiahimu satu pasang stiletto," Grace mengulurkan tangan saat melihat sepasang stiletto hitam menarik perhatiannya yang sepertinya jiga menarik perhatian pengunjung lain karena selain tangannya yang sudah berada di stiletto tersebut ada tangan wanita lain.

__ADS_1


"Ini milikku!" Grace melotot pada wanita yang juga melotot ke arahnya.


"Aku yang pertama melihatnya!" Wanita itu tidak mau mengalah.


"Aku yang pertama mengambilnya. Jadi, ini milikku! Lepaskan!" Grace menarik benda itu dengan cukup kuat membuat si wanita lain kehilangan keseimbangan.


"Dasar wanita barbar. Apa kau tidak punya sopan santun? Jelas-jelas aku yang pertama melihat sepatu itu dan sekarang kau mendorongku!"


"Jelas-jelas tanganku yang pertama mengambilnya, enak saja!"


Helli buru-buru mendekati Grace sebelum terjadi keributan yang menarik perhatian pengunjung lain.


"Grace, jika kau mengambil sepatu itu untuk hadiahku, sebaiknya kau berikan saja padanya."

__ADS_1


Grace menggeleng, "Tidak! Kita yang pertama mengambilnya."


__ADS_2