
Memiliki ibu yang ambisius. Mengontrol apa yang harus Helli lakukan. Melarang apa yang bisa dimakan atau tidak olehnya. Lonela menjadikannya kupon uang. Memilih pekerjaan apa yang harus dilakukan Helli.
Helli benar-benar terperangkap. Ia merasa tercekik dengan semua yang dilakukan oleh ibunya. Satu-satunya hal yang tidak pernah ia rasakan adalah dicintai. Bahkan oleh ibunya sendiri. Terbersit ingin memberontak dulu kepada Lonela, tapi mengingat kebiasaan buruk ibunya, Helli berusaha menahan diri hingga saat ia mengetahui dirinya dijual kepada Calvin.
Helli meradang dan ibunya justru mengusirnya. Menciptakan gosip baru saat Helli melakukan pemberontakan untuk pertama kali yaitu dengan memecat ibunya sebagai manajernya. Rasa sakit itu masih terasa segar hingga sekarang. Namun, untuk membenci ibunya, bukan hal yang bisa ia lakukan. Ia mencintai ibunya. Bukan rasa yang bisa ia hempaskan begitu saja.
Helli hanya ingin dicintai apa adanya. Tapi setelah apa yang dilakukan Helli terhadap ibunya, cinta itu pun tidak ia dapatkan dari sang ibu. Jangankan sebuah kasih sayang, seutas senyum pun enggan ibunya berikan. Jadi, wajarkah ia memberontak?
Sayang, pemberontakannya itu dianggap ibunya sebagai serangan. Lonela menciptakan cerita hingga semua orang memandang rendah ke arah Helli. Tudingan itu dipertegas dengan jebakan dirinya yang berada di kamar hotel bersama Calvin.
__ADS_1
Calvin dan Lonela merencanakan sesuatu yang menjijikkan padanya. Lonela mengatakan jika Calvin adalah ayah biologisnya. Betapa senangnya Helli mengetahui hal itu. Bukan karena ia menemukan ayahnya tapi karena Lonela juga memutuskan untuk tinggal bersama Calvin.
Helli mengira keduanya sepakat untuk memulai hubungan baru. Helli yang naif tidak memberi batasan kepada Calvin karena mengira Calvin adalah ayahnya. Betapa hancur hatinya saat mengetahui semua kebohongan itu.
Lalu, saat ini, rasa sakit yang berbeda kini menerpanya. Ia kira rasa sakit yang ditorehkan ibunya cukup membuatnya kebal. Jatuh cinta dan patah hati. Rasanya sama-sama menyesakkan, membuatnya benar-benar kesulitan bernapas. Ingin rasanya ia berteriak, tapi adakah yang akan mendengar rintihan hatinya tersebut?
Gavin akan menikah. Temannya itu berhasil menggapai cinta yang pria itu inginkan. Apakah Helli menang taruhan? Haruskah ia meminta hadiah kepada Gavin. Terdorong ingin menggunakan taruhan konyol itu sebagai alasan untuk bertemu sebelum Gavin benar-benar menjadi milik Mona seutuhnya.
Helli mempertahankan langkahnya tetap tegap dan tegar. Pertahannya runtuh begitu ia mendengar mobil Mona melaju meninggalkan lokasi. Helli jatuh bersimpuh. Gadis itu menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan. Tubuhnya bergetar, ia menangis, meredam suaranya agar tidak terdengar.
__ADS_1
Ia hanya ingin dicintai? Apakah itu salah? Adakah seseorang yang akan menerimanya apa adanya? Entah itu masa lalu ibunya atau masa lalunya yang menjijikkan.
Helli meremass dadaanya, berharap denyutan rasa sakit itu akan segera pergi. Apa salahnya? Apakah terlahir dari rahim seorang wanita lacur memang benar merupakan inginnya? Merupakan perjanjiannya dengan Tuhan? Jika ini inginnya, janji yang sudah ia sepakati dengan Tuhan, kenapa rasanya sakit sekali. Kenapa ia lemah dan rapuh?
Oh Tuhan, maafkan aku. Aku mencintai ibuku. Setidaknya, ajari ibuku caranya bagaimana tersenyum kepadaku.
Entah berapa lama ia menangis di sana hingga sebuah payung menaunginya. Helli mendongak, menemukan Addrian di sana. Wajah pria itu datar tanpa ekspresi.
"Masih ada beberapa scene lagi hingga syuting ini selesai." Ucap pria itu sedatar mimik wajahnya.
__ADS_1
"Apakah kau juga tidak tahu caranya tersenyum Addrian? Wajahmu tampak sangat kaku. Aku bertanya-tanya, apakah wajah dingin ini kau warisi karena terjangan masalah yang menimpamu atau memang raut itu kau warisi sejak lahir?"