
"Helli."
"Hmm?"
"Apa yang terjadi?"
"Maksudmu?"
"Kau bermimpi dan berteriak. Seperti ada yang hendak mencelakaimu. Apa kau bersedia memberitahunya kepadaku?"
Helli tercekat, seperti ada yang mengikat simpul di perutnya. "Ti-tidak ada yang terjadi."
"Sepertinya mimpimu bukan hanya sekedar bunga tidur. Kau terlihat panik. Selalu ada alasan di balik kepanikan." Gavin menukar posisinya hingga kini mereka berhadapan.
"Tidak ada yang terjadi." Ia tidak ingin membicarakannya, tidak dengan siapa pun. Terlalu menyedihkan dan memalukan. Ia sudah belajar dengan pahit bahwa tidak ada orang yang bisa dipercaya bahkan ibunya sendiri. Mengenang betapa naifnya ia dulu membuatnya ingi meringkuk menyembunyikan diri karena merasa malu. "Aku menyukai ruang pribadi."
"Tapi kau lupa bahwa kau seorang aktris yang artinya kau adalah milik publik. Setidaknya di mata pers."
"Aku manusia, bukan barang! Aku bukan kupon makan siapa-siapa! Aku benci pers. Aku benci saat mereka melihatku! Ingin berteriak saat mereka menyorong kamera ke wajahku!" Jangankan Gavin, Helli sendiri pun terkejut dengan emosi yang ternyata masih menyala-nyala. Tangannya bahkan gemetar, mengingat di mana ia harus berjuang sendiri menghadapi pertanyaan yang menyudutkannya.
"Helli, kau gemetaran."
"Tidak! Aku tidak gemetar."
Gavin meraih tangan Helli, menggenggamnya dengan lembut. Terkadang, Helli terlihat begitu pemberani, tapi saat ini yang ia lihat adalah Helli yang rapuh. Untuk sesaat mereka hanya diam dengan tangan yang saling menggenggam.
__ADS_1
"Jika kau tidak suka pers mengambil fotomu. Akan kupastikan bahwa mereka akan mengambil foto yang kita inginkan selama pertunangan pura-pura ini. Omong-omong soal pertunangan itu, apa yang harus kita lakukan? Katakan padaku apa yang biasa kau lakukan bersama kekasihmu?"
Gavin berdiri untuk mengambil ponselnya yang ia letakkan di kursi yang berseberangan dengan tempat duduk mereka.
"Aku belum pernah memiliki kekasih," Helli memalingkan wajahnya, tidak ingin melihat tatapan tidak percaya dari pria itu. Hal yang membuatnya muak adalah cara orang melihatnya.
"Baiklah, artinya kita harus mencari tahu." Gavin kembali duduk di sebelahnya, mulai menarikan jemari di atas layar ponselnya. Helli sedikit bernapas lega karena Gavin tidak memperpanjang pembahasan tentang pernyataannya yang tidak pernah memiliki kekasih.
"Apa yang kau cari di sana?"
"Web yang bisa menyelamatkan kita."
"Kita hanya perlu melakukan adegan romantis yang memuakkan." Helli menimpali. Ia sedikit bersyukur Gavin berhasil mengalihkan keadaan dari kondisinya yang hilang kendali.
"Ah, aku menemukannya. Sepuluh kebiasaan yang dilakukan pasangan bertunangan. Ck! Percayakah kau bahwa orang yang melakukan riset ini sangat menyia-nyiakan hidupnya?"
Gavin menatap kaki Helli, "Apa yang sedang kau lakukan?"
"Bersantai. Aku sedang melakukan yoga. Jadi apa yang dikatakan situs web-mu?"
Gavin mengernyit begitu membaca poin pertama. "Bersentuhan."
"Apa?" Helli pun ikut mengernyit.
"Menurut yang tertulis di sini, pasangan yang bertunangan tidak tahan untuk tidak saling menyentuh. Apakah ini artinya aku mendapat izin untuk menciummu di muka umum? Kurasa itu bukan ide yang buruk."
__ADS_1
"Apakah ada hal baik dari bertunangan?" Helli tidak ingin merespon saran bodoh dari situs tersebut.
"Kenapa bertanya padaku? Aku tidak pernah bertunangan. Kau tidak setuju dengan sentuhan? Sepertinya kau sangat anti dengan hubungan intim, apakah skandal yang kau alami dulu menyisakan trauma?"
Mengapa pembicaraan ini dibahas lagi. Helli tidak ingin kehilangan kendali lagi. Ia tidak ingin menunjukkan betapa ia sangat kesepian, betapa rapuhnya dirinya. Tidak akan ada yang peduli dengan itu semua.
"Aku tunanganmu. Jika ada sesuatu di masa lalumu yang memiliki pengaruh besar terhadapmu, aku perlu mengetahuinya agar aku tahu bagaimana cara mengantisipasi dan melindungimu."
Deg!
Jantung Helli berdebar tidak karuan. Ini pertama kalinya seseorang menawarkan perlindungan terhadapnya. Hal yang selalu ia impikan.
"Tidak, kau tidak perlu tahu. Masa laluku adalah urusanku dan pertunangan ini hanyalah palsu."
Gavin tergelak, "Baiklah, aku akan memesan meja untuk kita makan malam di tempat eksklusif."
"Kau bisa mendorong-dorong daun selada di piringmu, menyingkirkan kacang ke tepian piringmu sambil memandangiku dengan tatapan memuja."
"Kau juga harus memandangku demikian kalau begitu. Menatapku penuh pemujaan."
"Bukan hal yang sulit bagiku asal kau tidak salah faham dan mulai berpikir bahwa ini nyata."
"Cih! Kuakui kau menawan dan rupawan. Tapi aku suka pria yang memiliki kuasa."
"Untuk melindungimu?"
__ADS_1
"Untuk membebaskanku."