
"Kudengar kau pingsan."
Gavin memulai perbincangan begitu mereka berada di dalam mobil. Kali ini, Gavin yakin jika Calvin Hugo tidak akan tinggal diam. Pria itu pasti mencari cara untuk melawannya. Gavin benar-benar tidak tahan dengan cara pria tua itu menatap Helli.
Ck! Harusnya Helli juga lebih terbuka kepadanya. Dengan begitu ia tahu sebenarnya apa yang terjadi dan harus melakukan apa lagi untuk mengatasinya. Untuk melindunginya.
Hais, Gavin benci dirinya yang memiliki jiwa kepahlawanan yang tinggi, terutama untuk wanita cantik nan seksih seperti seorang Helli Lepisto. Atau karena wanita itu adalah Helli? Gavin mengenyahkan dugaan itu. Ia terlalu pening memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang selalu berhubungan dengan Helli, dan sejak kapan ia peduli dengan kehidupan seseorang? Jawabannya sejak ia bertunangan dengan Helli Lepisto!
"Apa klienmu tidak datang mengambil mobilnya?"
Gavin menoleh sekilas, Helli menolak untuk membahas apa yang terjadi dengannya. Gadis itu dengan sengaja mengalihkan topik.
"Pemiliknya sedang pergi berlibur ke Rusia."
"Berlibur atau ikut berperang?"
"Akan kutanyakan nanti soal itu. Jadi kenapa kau pingsan?"
"Aku panik."
"Karena pria itu?"
Helli terdiam. Ia tidak ingin membahas masa lalunya dengan siapa pun. Baginya itu terlalu menjijikkan. Ia tidak siap untuk melihat reaksi dan tanggapan orang lain terhadapnya. Entah itu prihatin atau justru menganggapnya lebih buruk. Apa pun itu, ia tidak siap. Jika ibunya saja tidak peduli dengan apa yang ia alami, ia tidak yakin apakah akan ada orang peduli. Kenyataan yang ia hadapi selama ini, ia selalu dipandang sebelah mata.
__ADS_1
Ya, ini juga karena salahnya. Karena kenaifannya. Karena membiarkan orang-orang menilai dirinya dengan hal-hal negatif tanpa berniat meluruskan. Tapi apa gunanya meluruskan jika mereka semua sudah menetapkan ia sebagai wanita liar yang tidak tahu diri. Ibarat persidangan, hakim sudah mengetuk palu jika ia adalah tersangka. Pembelaan bagaimana pun tidak akan berguna lagi. Satu-satunya yang ia lakukan adalah menjalaninya dan berharap bisa menjadi wanita yang lebih kuat dan hebat untuk dirinya sendiri. Karena pada akhirnya, hanya dirinya lah yang bisa ia andalkan.
"Terima kasih sudah datang dan membawaku. Aku akan memberitahu Nicky jika aku akan menginap di rumahmu untuk beberapa hari."
"Aku mengatakan agar tinggallah bersamaku. Bukan menginap," ralat pria itu.
Helli menoleh cepat, hidungnya mengerut mendengar pernyataan Gavin.
"Calvin akan terus mendatangimu jika dia tahu kau berada di mana."
Gavin meminggirkan mobilnya, memasuki kawasan sebuah rumah yang bisa dikatakan wow, luar biasa.
"Ini dimana?"
"Gavin!" Seorang wanita setengah baya berlari mendekati mereka. "Oh Tuhan, ini sungguh dirimu?" Wanita itu memeluk Gavin, menggoyang-goyang tubuh pria itu.
"Lordes, aku merasa pusing, hentikan." Gavin mendorong tubuh wanita itu dengan lembut. "Aku membawa seseorang," Gavin menunjuk ke arah Helli. Helli melambaikan tangan dengan canggung.
Lordes menghampiri Helli, gadis itu kembali merasa was was. Dan tubuhnya mendadak kaku begitu wanita itu memeluknya.
"Selamat datang."
Karena tidak biasa dipeluk, Helli masih berdiri kaku. Lordes bersikap hangat dan keibuan. Helli menelan ludahnya. Ibunya belum pernah memeluknya sehangat dan selembut ini. Ibunya selalu menganggapnya sebagai kupon makan, sebagai alat untuk menghidupi keinginan wanita itu, bukan sebagai putri yang ingin dipeluk dan disayangi.
__ADS_1
Pembicaraan mereka hanya seputar bagaimana Helli melakukan lebih baik lagi, lebih banyak lagi. Semuanya hanya tentang pekerjaan yang menghasilkan uang. Tidak pernah tentang inginnya, tidak pernah tentang apa yang ia butuhkan. Dan ujungnya hubungan mereka berakhir tidak enak. Pertengkaran di depan publik.
Lordes melepaskan pelukan mereka, Helli kembali dibuat tercengang saat Lordes mencium kedua pipi Helli. Helli bingung bagaimana harus meresponnya. Ia terlalu sensitif dan rapuh.
"Lordes sepertinya menyukaimu," Gavin mengusap punggung Helli. "Ayo kita masuk, akan kutunjukkan kamar yang akan kau tempati."
"Aku akan menyiapkan makan malam," Lordes segera masuk kembali ke dalam mobil.
"Apakah dia selalu menyukai para kekasihmu?"
Gavin tergelak, "Lordes tidak pernah bertemu dengan mereka." Pria itu menuntun Helli masuk melewati serambi yang begitu indah dan penuh dengan cahaya. Mereka menaiki tangga melingkar.
"Kau seperti sangat mengenal rumah ini. Ini rumah klienmu?"
"Ini rumahku."
Helli sontak menghentikan langkahnya. Ia menoleh kepada Gavin, menyipitkan mata menatap tidak percaya. "Rumahmu?"
"Ya, sudah kukatakan pendapatanku sebagai montir sangat lumayan."
"Jadi kenapa Lordes tidak pernah bertemu dengan para wanitamu? Aku yakin rumah ini merupakan tempat yang nyaman untuk bercinta dengan kekasihmu."
"Aku tidak pernah membawa mereka kemari."
__ADS_1