
"Oh, my....." Untuk kesekian kalinya Dulce memekik tidak percaya menemukan wajahnya yang terlihat berbeda. Hampir-hampir ia tidak mengenali wajahnya sendiri. Tatanan rambutnya diubah, juga gaya berpakaiannya. Baju yang diberi Grace dan Helli sangat pas dan cocok. Benar-benar perubahan yang hebat.
Hari sudah sore, ia masih tidak bosan memandangi wajahnya dan cermin kecil senantiasa ia pegang sejak beberapa jam lalu.
"Ini aku... Ya, Tuhan, aku cantik sekali."
"Kau memang sangat cantik, Pie." Puji Grace yang dibenarkan oleh Helli. Mereka berdua juga tidak kesal memberikan tanggapan yang sama untuk kesekian kalinya.
"Aku khawatir Daddy tidak akan mengenaliku karena aku sendiri pun sangat sulit untuk mempercayai ini." Ya, saat ini mereka menunggu di teras karena Damian sudah menghubungi untuk memberitahu mereka bahwa pria itu sedang menuju kemari. Sesuai dengan yang ia janjikan. Menjemput putrinya di sore hari menjelang petang.
"Dia pasti langsung mengenalimu, Sayang. Hanya saja dia juga mungkin akan terkejut sama seperti kita." Helli membelai rambut panjang Dulce yang begitu lembut. Membayangkan dirinya akan memiliki putri seperti Dulce yang kelak bisa bermain-main seperti ini. Menantikan hal itu, Helli mulai tidak sabar.
"Ya ampun, Helli, apakah bayi dalam perutmu berjenis kelamin perempuan. Aku ingin yang seperti Dulce. Rasanya menyenangkan memiliki boneka besar yang bisa kita mainkan. Tapi aku juga ingin bayi laki-laki seperti Gavin yang menawan."
Helli tertawa mendengar keinginan Grace yang sama dengan keinginannya. Satu Gavin ternyata tidak cukup membuat mereka puas. Mereka ingin ada Gavin yang lain.
"Semoga aku memiliki bayi kembar yang berbeda jenin kelamin."
"Aku juga sangat menyukai bayi. Ingin memiliki adik kecil yang banyak. Apa aku boleh melihatnya nanti jika bayimu sudah lahir, Helli?"
"Tentu saja. Aku akan memberitahumu kelak."
"Kau bisa saja memiliki adik bayi, Pie."
"Benarkah, Gre?" manik Dulce berkilat-kilat penuh semangat. Gadis itu sangat antusias. Sama seperti keinginan Grace dan Helli, ia juga ingin memiliki seorang bayi mungil yang bisa dia ajak bermain boneka.
__ADS_1
"Ya, tentu saja." Jawaban Grace yang meyakinkan membuat binar di mata Dulce semakin bersemangat.
"Bagaimana caranya, Gre?"
"Kau tinggal meminta ayahmu menikahi Grenda. Grenda akan mengandung adikmu setelah ayahmu menikah dengannya."
"Menikah? Apakah harus menikah?"
"Tentu saja, Sayang. Harus menikah." Helli menimpali.
"Jika mereka menikah, artinya Grenda harus menjadi ibu tiriku?" wajahnya yang bersemangat tadi berubah menjadi muram. Grace dan Helli langsung menyadari perubahan wajah Dulce yang begitu kentara.
"Jika Daddy menikah dengan Grenda, ibuku tidak akan pernah pulang. Aku ingin Mom kembali. Aku ingin adik bayi dari Mommy bukan wanita lain. Bukan Grenda. Aku hanya ingin Mommy. Aku tidak ingin adik bayi kalau bukan Mommy yang memberikannya." Dulce menundukkan kepala, menyembunyikan kesedihan yang tersirat jelas di wajahnya. Gadis itu merindukan ibunya. Sangat merindukan ibunya.
"Apa yang terjadi?"
"Di-dia menginginkan bayi..." Grace buru-buru menjelaskan sebelum Damian salah faham.
"Dia masih terlalu kecil untuk memiliki bayi," Damian menyahut lempeng.
Grace kurang mengerti apa yang dikatakan Damian, tapi Helli jelas mengerti. Hampir-hampir ia tersedak mendengar jawaban enteng pria itu. Pernyataan Grace memang sedikit salah, tapi seharusnya dudu tampan ini mengerti apa yang dimaksudkan oleh adik iparnya.
"Mr. Lawrence, yang dimaksud oleh Grace, Dulce menginginkan adik perempuan."
Damian bergeming, memperhatikan wajah sendu putrinya yang sedang mendongak menatapnya.
__ADS_1
"Ya, itu maksudku. Aku mengatakan Dulce bisa saja memiliki adik bayi. Aku hanya ingin menghiburnya. Tapi sepertinya aku salah dalam memberi hiburan. Maafkan aku."
Damian mengabaikan permohonan maaf yang dilontarkan Grace dengan tulus. Ayah dan anak itu masih saling menatap.
"Aku ingin adik bayi. Tapi tidak ingin kau menikah. Aku ingin adik bayi dari Mommy. Kapan Mommy akan kembali, Dad? Apakah Mom akan kembali? Tidakkah Mom merindukan kita? Aku merindukannya."
Grace melihat Damian tersentak kaget. Seperti tidak menyangka kata-kata itu terlontar dari mulut putrinya. Wajah Damian yang biasanya tenang terlihat marah dan tegang untuk sepersekian detik. Tipikal pria yang pintar mengendalikan diri. Karena kini wajah itu menerbitkan sebuah senyum yang sangat hangat. Tangannya terurai membelai rambut putrinya. Pria itu berlama-lama menatap rambut baru putrinya.
"Daddy bertanya-tanya apa yang berubah dari putriku. Kini aku menemukan jawabannya. Ternyata kau mengubah tatanan rambutmu. Terlihat lebih indah. Kau juga mengenakan pakaian baru. Kau dan teman-temanmu pergi berbelanja?" Damian melirik Grace sekilas, lalu kembali memusatkan perhatiannya kembali pada putrinya. "Kau terlihat seperti seorang putri. Cantik sekali. Ya ampun, bagaimana jika kita berkencan malam ini. Makan malam romantis, Pie? Kita sudah lama tidak berduaan."
"Aku terlihat cantik? Aku juga merasa begitu, Dad! Baju bulu-bulu pemberianmu mungkin bukan favoritku lagi, apa kau akan tersinggung?"
Damian menggeleng, ia bahkan tidak tahu jika baju itu menjadi favorit putrinya karena terpaksa. Sejujurnya, Dulce terlihat aneh saat mengenakannya. Tapi mengira jika putrinya nyaman seperti itu, ia hanya membiarkan Dulce melakukan sesuatu yang menurut baik untuknya.
Ayah dan anak itu untuk sesat terlibat perbincangan. Dulce memamerkan kukunya juga pakaian barunya. Mengekspresikan betapa senangnya dia hari ini.
Grace memuji cara Damian mengalihkan topik. Terlihat bahwa pria itu tidak ingin membahas ibu Dulce. Damian juga tidak ingin repot-repot menciptakan kebohongan hanya demi untuk menenangkan putrinya dengan mengatakan omong kosong yang berbunyi: tentu saja ibumu merindukan kita, Pie. Damian sadar betul jika ia mengatakan hal itu hanya akan membuat Dulce berharap dan sepertinya Damian tidak ingin memberi harapan pada Dulce jika menyangkut ibunya. Damian juga tidak bisa bersikap tegas dan terus terang saat ini kepada Dulce karena menganggap putrinya masih terlalu kecil untuk bisa mengerti masalah yang dihadapi orang dewasa.
"Kau sengaja menekan kata berduaan seolah khawatir aku akan merengek ikut denganmu." Grace berusaha mencairkan suasana.
"Kau memang sangat cepat tanggap, Miss Vasquez." Damian menyunggingkan senyum tipis yang terkesan sinis. "Namanya berkencan, tentu saja hanya berduaan, bukan begitu?"
"Aku tidak pernah berkencan," aku Grace dengan jujur.
"Dan aku harap kau tidak sedang memberikan kode kepadaku agar aku mengajakmu berkencan."
__ADS_1
"Astaga! Apakah telingaku bermasalah. Tidakkah aku terlalu muda untuk kau kencani? Aku gadis murni sementara kau duda tampan yang cukup menawan. Gadis murni hanya akan berpasangan dengan pria lajang. Bukan duda yang sudah tidak bersegel."
"Baik duda atau lajang, kau tidak akan bisa membedakan apakah mereka masih bersegel atau tidak, Nona. Jangan terlalu naif. Seleraku juga bukan gadis murni yang terlambat berkembang. Selamat sore, asistenku akan menemui kalian untuk membayar pengeluaran putriku."