
"Sampai jumpa, Gavin."
Helli menatap kepergian Gavin dari balik jendela. Setelah mobil pria itu tidak terlihat lagi, Helli melompat ke atas ranjang. Membenamkan wajahnya di sana di atas bantal lalu melaungkan suara, meluapkan tangisan yang ia pendam sejak tadi hingga akhirnya ia tertidur.
Keesokan harinya, Helli bersikap biasa saja. Ia hidup seperti sebelum ia mengenal Gavin. Syutingnya berjalan lancar. Hari berikutnya juga demikian, hingga ke minggu selanjutnya dan akhirnya satu bulan penuh, ia berhasil melalui harinya dengan damai tanpa ada gangguan dari Calvin dan kesibukannya yang mulai semakin padat berhasil mengalihkan kekosongan hatinya karena merindukan Gavin. Helli juga mengambil pekerjaan yang ditawarkan Rusel. Helli benar-benar menyibukkan diri.
Selama satu bulan, Gavin tidak pernah muncul sama sekali. Helli bertanya-tanya apakah Gavin sudah melupakannya. Helli tersenyum getir, ia menengadahkan kepala, menghalau air matanya. Untung saja saat ini sedang jam istirahat. Semuanya sibuk menikmati makan siang dan Helli kembali diet karena memang tidak berselera makan.
"Helli,"
Panggilan seseorang membuat tubuhnya menegang seketika. Apakah ia sedang berilusi.
"Helli..."
Helli membuka matanya dan menoleh ke belakang. Sosok yang sangat ia rindukan berdiri di sana. Ah, betapa Helli merindukan sosok ini. Air mata yang ia tahan sejak tadi kini meluruh. Ia berlari menghampiri sosok tersebut. Ingin memeluk dan mendekapnya, mencium aromanya. Beberapa langkah lagi, ia akan sampai pada sosok itu.
"Berikan aku uang!" Ucapan Lonela sontak membuat langkahnya berhenti.
__ADS_1
Ya, sosok itu adalah ibunya. Wanita yang melahirkannya. Seberapa pun ia tidak diharapkan ibunya, ia tetap mencintai Lonela. Merindukan wanita itu karena hanya Lonela satu-satunya keluarga yang ia miliki.
"Dimana tasmu? Berikan aku uang dengan segera." Tangisan haru itu kini berubah menjadi tangisan penuh amarah. Tidakkah ibunya tahu jika ia sedang patah hati. Tidak adakah orang yang menyadari betapa rapuhnya dirinya.
"Mom, ki-kita baru bertemu setelah hampir tiga tahun tidak bertemu. Tidak bisakah kau berbasa basi terlebih dahulu."
"Di mana kau meletakkan tasmu? Di ruangan itu?" Lonela menunjuk tenda yang dijadikan tempat beristirahat bagi para pemain film.
Helli memilih diam dan kebungkamannya itu
Lonela anggap sebagai jawaban. Wanita itu pun menerjang masuk, mengambil tas yang terletak di sana dan mengeluarkan isinya.
"Mom!"
"Di mana kau meletakkan uangmu, Helli. Aku membutuhkannya!"
Helli memperhatikan wanita itu dengan hati tersayat-sayat. Ibunya tampak menua dari yang terakhir kali ia ingat. Tubuh ibunya juga tidak sesintal dulu lagi. Semuanya termakan usia. Lalu, apakah ibunya menyadari perubahan dalam dirinya?
__ADS_1
"Ah, aku menemukannya."
Akhirnya setelah membongkar tiga tas, Lusiana menemukan dompet Helli. Ia mengeluarkan beberapa lembar kartu dan membawanya bersamanya.
"Mom," Helli menahan tangan ibunya. "Apakah kau datang hanya untuk mengambil uangku? Tolong berpura-puralah berkata tidak."
Helli menatapnya dengan tatapan rapuh seperti anak kucing yang membutuhkan usapan dari sang tuan.
"Tolong tanyakan kabarku, walau itu hanya basa basi, Mom. Lidahmu tidak akan terbakar hanya karena kau menyebut api."
"Lepaskan aku." Lonela menepis tangannya dengan kasar.
"Mom."
"Kau hidup enak seperti ini apa perlu aku menanyakan kabarmu lagi? Heh?"
Hancur sudah hatinya. Apakah ia terlihat baik-baik saja sehingga ibunya mengatakan ia hidup enak. Tidakkah ibunya memperhatikan cekungan di bawah matanya.
__ADS_1
"Apakah dalam hidupmu, aku pernah berarti?"