My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Mata-Mata


__ADS_3

"Helli menghubungimu? Kau dan dia ingin makan siang? Kau boleh pergi, aku bisa naik taksi."


Mona baru saja hendak membuka pintu, tapi ucapan Gavin menghentikannya.


"Helli tidak akan keberatan jika kita makan siang bersama. Helli mengatakan mengirim sesuatu untukku. Tunggu sebentar," tanpa mengetahui isi pesan tersebut, Gavin membukanya begitu saja.


Maniknya membeliak begitu melihat Rusel bersama wanita tempo hari yang datang ke bengkelnya. Ia baru saja hendak memasukkan ponselnya, tapi tangan Mona lebih gesit darinya. Gavin tidak menyangka jika Mona mengintip isi pesannya.


"Mona, jangan melihatnya," Terlambat, wajah Mona sudah berubah pias. Gavin bisa melihat manik mata sahabatnya itu mengembun dan sebentar lagi tangisan itu akan pecah.


"Mona..."


"Antar aku ke sana."


"Tapi..."


"Aku ingin melihatnya langsung. Mungkin ini bisa menjawab keraguanku, Gavin."


Tidak ada pilihan bagi Gavin selain segera melajukan mobil, membawa Mona ke tempat di mana Rusell saat ini sedang berada.


"Apa yang akan kau lakukan?" ia bertanya.

__ADS_1


"Mungkin memutuskan pernikahan jika benar dia sedang bermain gila di belakangku," Mona mengusap kasar air matanya menggunakan punggung tangannya. Gavin menyodorkan tisu dengan pandangan tetap fokus ke jalan.


Ia tidak suka melihat Mona menangis. Ia marah dan ingin rasanya menghajar Rusell sekarang juga.


"Tidak ingin memberi kesempatan? Kau dan dia bisa bicara baik-baik terlebih dahulu."


Astaga, apa yang kukatakan? Memang tidak ada ruang untuk pria yang bermain hati. Pernikahan tidak akan berhasil jika hal itu terjadi. Sudah seharusnya Mona mengambil keputusan bijak dan aku akan masuk, menyembuhkan lukanya. Ya, rencana yang sempurna.


"Kurasa pernikahan ini memang tidak seharusnya terjadi. Keraguanku akhirnya terjawab. Tapi apa pun yang terjadi, ini bukan sepenuhnya salahnya." Mona mencoba berbesar hati.


Jika dikaji ulang, Rusell benar adanya. Pria mana yang tidak jengah dengan wanita yang tidak bisa lepas dari teman prianya.


"Jadi kau sungguh ingin mengakhirinya?" Gavin memastikan.


"Kami akan membicarakan ini secara baik-baik," Mona menggigit bibir bawahnya.


Apakah benar mereka bisa menyelesaikannya secara baik-baik? Apa tidak akan ada yang terluka? Mona meragu akan hal itu.


Gavin menghentikan mobilnya, Mona seketika tergelak melihat kebiasaan buruk Gavin yang tidak berubah sama sekali. Mobil diparkirkan di zona dilarang parkir. Alasan Gavin melakukan hal itu adalah agar para wanita yang lewat dibuat penasaran dengan ferrarinya yang jantan hingga tergoda ingin masuk ke dalam demi melihat si empu mobil. Strategi marketing. Itulah yang ia katakan. Sangat konyol memang. Tapi Mona tahu, cara itu memang lumayan ampuh. Setiap resto yang mereka masuki, banyak para wanita yang berhenti dan akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam resto.


"Kau yakin ingin masuk? Kita bisa mundur jika kau berubah pikiran."

__ADS_1


Gavin melihat mobil Addrian ada di sana dan Mona juga bisa melihat mobil tunangannya masih ada di sana.


"Jika tidak sekarang, kapan lagi." Ucapnya dengan tegas meski jantungnya berdebar tidak karuan.


Tidak ia pungkiri, banyak kenangan manis yang ia lalui bersama Rusell selama mereka menjalani hubungan lebih dari satu tahun.


"Baiklah, mari kita masuk." Gavin merangkul pundak Mona, membimbing wanita itu masuk ke dalam resto. Mereka langsung menuju private room tempat Helli dan Addrian berada.


Gavin menggeser pintu, ia dan Mona langsung disuguhi pemandangan yang sangat aneh. Helli dan Addrian berjongkok saling berhadapan dengan jarak yang sangat tipis. Wajah keduanya di tempelkan ke dinding, seperti orang yang sedang berusaha mencuri dengar pembicaraan seseorang di ruang sebelah.


"Apa yang kalian lakukan?" Gavin mendekati mereka. Helli dan Addrian kompak berjengit kaget.


"Sstt! Pelankan suaramu!"


Gavin refleks memperhalus langkahnya. Ia mendorong Addrian menjauh dan ikut menempelkan telinga ke dinding.


Addrian yang baru menyadari kebodohannya segera berdiri, menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Sementara Mona yang memperhatikan hal itu langsung bisa menebak jika Helli sedang menguping pembicaraan Rusell di room sebelah. Ada rasa malu yang menyentil hatinya. Perselingkuhan kekasihnya diketahui oleh beberapa orang. Mona segera berbalik, ia harus menyelesaikan masalahnya dengan cepat.


"Apa ada mata-mata di room sebelah? Negara kita dalam bahaya?" bisik Gavin dengan suara tertahan.

__ADS_1


Helli hampir saja tertawa melihat wajah Gavin yang konyol dan menggemaskan.


"Kita mata-matanya," Helli menyahut tanpa suara tapi Gavin berhasil menangkap arti dari gerakan bibir wanita itu.


__ADS_2